3 Jenis Perpustakaan Era Kejayaan Islam

Hampir segala hal berada di perpustakaan. Mulai dari karya agama, filsafat bahkan ekonomi. Orang-orang di dalamnya pun (pustakawan) juga beragam. Ada yang menjadi ahli riset, penulis, hingga Penerjemah Bersertifikat.

Konon, ada fakta menarik tentang perpustakaan. Pada masa kejayaan Islam, perpustakaan berkembang pesat. Untuk lebih mengetahui seluk beluk perpustakaan yang berdiri dan beroperasi pada masa kejayaan Islam, perlu kita tinjau sekilas apa saja jenis perpustakaan yang ada, yaitu: 

1. Perpustakaan Umum

Perpustakaan Umum merupakan perpustakaan yang biasa didirikan di masjid – masjid agar umat Islam dapat melakukan kegiatan belajar di masjid. Beberapa perpustakaan umum didirikan dengan maksud agar bisa menampung pelajar yang datang untuk menimba ilmu pengetahuan. Yang termasuk ke dalam jenis perpustakaan umum antara lain Baitul Hikmah, Ibnu Sawwar di Basrah, Al-Haidariyah di AnNajaf, Darul Hikmah di Kairo serta berbagai perpustakaan yang ada di lembaga pendidikan pada masa itu. Koleksi yang dipunyai oleh perpustakaan umum rata – rata adalah berbagai buku agama Islam serta berbagai buku ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa itu yang merupakan hasil terjemahan dari berbagai bahasa. Terdapat pula perpustakaan yang menyimpan terjemahan karya penulis dan pemikir besar seperti Hipocrates dan Aristoteles.

Koleksi yang ada pada perpustakaan Umum ini berupa bukubuku ilmu agama Islam dan Bahasa Arab, bermacam-macam ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa itu,buku-buku terjemah bahasa Yunani, Persia, Qibty dan Arami, menerjemahkan karya-karya umum termasuk literasi humaniora, bukubuku Aristoteles dan Hipocrates juga dilakukan diperpustakaan Umum. (Yunus, 1996:78)

2. Perpustakaan Semi Umum

Perpustakaan Semi Umum yakni perpustakaan yang didirikan oleh para Khalifah serta para pemimpin kerajaan yang dimaksudkan untuk menimba ilmu pengetahuan. Beberapa perpustakaan pada masa itu yang termasuk ke dalam Perpustakaan Semi Umum antara lain AlMuzta’sim Billah, An-Nashir Li Dinillah dan Perpustakaan Khalifah–Khalifah Fathimiyah.

READ  Aplikasi Akad dalam Swab Paksa

Seperti halnya perpustakaan khalifah-khalifah di Cordova, biasanya koleksi pada perpustakaan semi umum ini terdiri dari kitab-kitab fiqih, nahwu, bahasa, hadits, sejarah, hikayat rajaraja, ilmu perbintangan, kerohanian dan ilmu kimia. (Yunus, 1996:80)

Pada saat Arab berhasil menaklukkan tanah Spanyol, mereka kemudian menjadikan Cordova sebagai ibu kota. Kota tersebut kemudian dijadikan sebagai pusat pengembangan kebudayaan serta peradaban. Bahkan, kota Cordova menjelma menjadi kota terbesar kedua di dataran Eropa setelah Konstantinopel.

Karena berada di bawah kendali Islam, berbagai buku berbahasa Yunani yang ada di sana diterjemahkan ke dalam bahasa Arab untuk kemudian dimanfaatkan untuk mengemangkan ilmu pengetahuan di perguruan – perguruan tinggi, sekolah – sekolah serta menjadi koleksi perpustakaan Islam. Hasilnya, banyak orang, terutama umat Islam menjadi terpelajar. Mereka dididik oleh para sarjana maupun sejarawan yang ada di Andalusia. Bahkan, hampir semua orang bisa membaca maupun menulis. Puncak kejayaan kekhalifahan ini adalah saat berada di bawah komando khalifah Al-Hakam II (961-976M).

Khalifah Al-Hakam sendiri dikenal sebagai salah satu sarjana terbaik. Dirinya juga membangun sebuah perpustakaan yang sangat bagus kemudian mengumpulkan berbagai buku dari segala cabang ilmu pengetahuan. Perpustakaan tersebut dikenal sebagai salah satu yang terbesar pada masanya. Konon, ada lebih dari 400.000 buku di dalam perpustakaan tersebut. Untuk membantu pengguna yang ingin membaca atau menemukan buku yang dicari, perpustakaan tersebut menggunakan katalog yang dibuat dengan sangat detail. Pada masa kepemimpinan Al-Hakam ini pula, berbagai khazanah buku yang belum pernah dimiliki berhasil dikumpulkan.

Hubungan antara kota Cordova dengan Dunia Timur, khususnya Iraq dan Syiria di Jazirah Arab terbangun dengan sangat baik. Pada saat itu, pemerintah Bani Umayyah banyak mengambil buku dan para ilmuwan dan begitu pula sebaliknya. Bahkan, banyak pencari ilmu dari Syiria, Arab dan Iraq yang kemudian berhijrah ke Cordova dan Andalusia hanya demi menemukan sumber ilmu pengetahuan yang mereka cari.

READ  Kilas TK Islam Terpadu Auliya

Pada masa Bani Umayyah II, kepustakaan bukan hanya menjadi milik keluarga kerajaan atau daulah, namun juga telah menjadi konsumsi masyarakat luas. Hal itu pulalah yang kemudian terjadi dengan perpustakaan Khalifah yang ada di Kairo, Mesir. Di ibukota Mesir, perpustakaan yang pertama dibangun oleh Khalifah Al Aziz (975 – 996 M). Perpustakaan tersebut diawali dengan adanya perkumpulan orang – orang terpelajar. Mereka kemudian mengumpulkan modal untuk mendirikan sebuah universitas serta sebuah masjid yang sangat terkenal, yakni Al-Azhar. Perpustakaan Kairo memiliki lebih dari 600 ribu buku serta 2.400 koran. Oleh Al Aziz yang dikenal sangat mencintai buku, perpustakaan tersebut dibangun dengan berhiaskan emas dan perak. Setiap koleksi disimpan dengan sangat teratur di bagian atas. Al Aziz bahkan meminta Khalil Ibn Ahmad agar dibuatkan sebuah naskah dari kitab Al Ain sekaligus memintanya untuk menjadi pustakawan.

3. Perpustakaan Pribadi

Perpustakaan Pribadi, Perpustakaan jenis ini biasanya didirikan oleh para ulama dan sastrawan untuk kepentingan mereka sendiri. jumlahnya sangat banyak karena hampir setiap sastrawan dan ulama pasti memilikinya. Mereka menggunAkan perpustakaan tersebut sebagai sumber referensi bagi penelitian dan hasil karya mereka. Beberapa perpustakaan pribadi yang terkenal di masa lampau antara lain Perpustakaan Ibnul Harsyab, Al-Fathu Ibnu Haqam, Al Muwaffaq Ibnul Mathran, Hunain Ibnu Ishaq, AlMubasysir Ibnu Fatik dan Jamaluddin Al Qifthi.

Salah satu perpustakaan pribadi yang terkenal ada di Bukhara yang dimiliki oleh seorang bangsawan. Pada saat itu, Dinasti Samanid berhasil memajukan kebudayaan serta

pendidikan di propinsi Tran-Oxana yang saat ini termasuk ke dalam wilayah negara Rusia. Salah satu raja paling terkenal di sana adalah Sultan Nuh ibn Mansur yang memimpin pada sekitar abad ke 10 M. Di antara sekian banyak hal hebat yang dimiliki, Bukhara dikenal memiliki perpustakaan bangsawan yang menyimpan berbagai koleksi pustaka yang dikumpulkan oleh para leluhur mereka.

READ  Warga Jepara Memaknai Nikah Siri dalam Kehidupan

Perpustakaan tersebut mendapat tempat istimewa, para sarjana menimba ilmu pengetahuan mereka di sana, salah satunya adalah Avicenna atau oleh umat Islam dikenal dengan nama Abu Ali ibn Sina. Avicenna lahir pada sekitar tahun 980 M atau 370 H di sebuah desa kecil bernama Afshinah, di dekat Bukhara.

Berbagai perpustakaan yang dikelola oleh umat Islam bukan hanya memperhatikan ilmu – ilmu keagamaan, namun juga mengelola disiplin ilmu yang lain, misalnya sosial, kedokteran, politik, kebudayaan, filsafat dan lain sebagainya.

Sebelum menutup tulisan ini, bagi yang membutuhkan Penerjemah Bersertifikat, silahkan berkunjung ke website Jasa Penerjemah Bersertifikat.

__Terbit pada
27 Juli 2022
__Kategori
Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.