Anak dan Orang Tua Menurut Psikologi Islam

Anak dan Orang Tua Menurut Psikologi Islam

Pola kehidupan anak sekarang yang tidak terukur menciptakan kebebasan yang tanpa batas. Ia memikili kesibukan yang tidak ada satupun yang bisa dijadikan batasannya, karana ia beranggapan bahwa kebebasan adalah hak yang mesti dimiliki oleh setiap orang tanpa memandang siapapun orangnya. Batasanya ya diri mereka sendiri, bukan atuaran orang tua, saudara, apalagi agama.

Kebebasan itu tampak jelas mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, aktifitasnyapun diatur sendiri, kadang bangun pagi itu hanya ketika ingin berangakat kesekolah, bahkan disekolahpun membuat onar, dan tidak jarang yang meninggalkan kelas ketika pelajaran berlangsung (sering bolos), selanjutnya hampir seluruh kegiatan kesehariannya hanya dipenuhi dengan bermain, shoping, canda, hura-hura sampai dia lelah dan kembali kerumah untuk beristirahat, dan bahkan beberapa diantaranya tidak kembali kerumah dan beristirahat ntah dimana.

Kerusakan semacam ini sangat dipengaruhi oleh dasar dari kehidupan anak itu sendiri, yang dikenal dengan kata “keluarga” karna keluarga merupakan tempat pembentukan manusia sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orang tuanya dan ketika anak itu lahir sampai dia nantinya akan bercampur dengan lingkungannya, keluargalah tampat yang akan dijadikannya untuk berlindung, mengadu, dll, sampai dia bisa mencapai pada ketenangan jiwa.

Tapi ironisnya Kesibukan orang tua – yang memiliki pengaruh besar dalam keluarga, dan harusnya dapat menjadi contoh – dalam berkerja menyebabkan anak itu tidak terkendali. Orangtua sibuk dengan pekerjaannya sendiri dan anaknya tidak terurus “terbengkalai”, sehingga anak akan lebih cendrung mencari contoh kepada apa yang ia lihat, jika ketika kecilnya, ia hanya dapat melihat orangtuanya sibuk keluar terus- menerus, pulang ke rumah hanya marah, barantam, dan ia tidak dapat merasakan kasih sayang, maka dia akan terus mencari sosok seseorang yang ia rasa benar- benar manyayanginya.

Sehingga sikap terhadap anak yang salah akan menimbulkan hal yang diatas tadi, dan menjauhkan hubungan dia kepada orang tuanya, saudaranya, yang seharusnya dialah tempat anak tu kembali , mengadukan semua pemasalahan, dan mendaptkan kasih sayang, tapi yang didapatkan malah sebaliknya.

Pola asuh dan pendidikan yang salah akan sangat berpengaruh pada jiwa anak, salahnya pola asuh ini  akan mengakibatkan pemisahan antara keduanya – seperti yang telah dijelasakan sebelumnya – semakin luas, bahkan sampai anak itu sendiri merasa asing dalam keluarga baik anatara dia dan orang tuanya, ataupun dengan saudaranya yang lain.

Dengan demikian, maka demi mengetahui hubungan yang dimiliki antara anak dan orang tua yang baik dan benar  maka pada makalah ini  akan menjelaskan hal yang terkait tentang keluarga, orangtua, anak, pola asuh, dan pendidikan anak. Dengan berintikan bagaimana jiwa hakikat hubungan antara orantua dan anaknya ditinjau dari perspektif piskolog. 

Pembahasan

Keluarga 

Dalam pengertian secara luas, keluarga adalah kekerabatan yang dibentuk atas dasar perkawinan dan hubungan darah. Kekerabatan yang berasal dari satu keturunan atau hubungan darah merupakan penelusuran leluhur seseorang, baik melalui garis ayah maupun ibu ataupun  keduanya. Hubungan kekerabatan seperti ini dikenal sebagai keluarga luas (extended family) yaitu ikatan keluarga dalam satu keturunan yang terdiri atas kakek, nenek, ipar, paman, anak, cucu, dan sebagainya. 

Ada beberapa pandangan, keluarga adalah komunitas terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari manusia yang tumbuh dan berkembang sejak dimulainya kehidupan. Keluarga dibentuk dari dua individu yang berlainan jenis kelamin, yang diikat tali perkawinan. Bisa diartikan suatu ikatan laki – laki dengan perempuan berdasarkan hukum dan undang – undang perkawinan yang sah. Keluarga terdiri dari suami, istri atau orang tua dan anak. Keluarga merupakan tempat terjadinya interaksi pendidikan pertama bagi anak yang akan menjadi pondasi dalam pendidikan selanjutnya. 

Menurut Abu Ahmadi dalam bukunya menjelaskan bahwa, keluarga adalah wadah yang sangat penting diantara individu dan group, yang merupakan kelompok sosial yang pertama dimana anak-anak yang menjadi anggotanya.  Ibu, ayah dan saudaranya merupakan orang pertama bagi anak dimana ia mengadakan kontak dan juga tempat belajar bagaimana dia hidup dengan orang lain, sampai memasuki sekolah.

Masyarakat kecil adalah keluarga. Djoko menjelaskan dalam bukunya Ilmu Budaya Dasar bahwa, keluarga adalah suami–istri, ayah– ibu, dan anak-anak, dan juga orang–orang lain yang menjadi anggota keluarga. Menurut Agus Sujianto, keluarga adalah lembaga kesatuan sosial terkecil yang secara kodrati berkewajiban mendidik anaknya. Dengan demikian maka, lambat atau cepatnya kemajuan yang diberikan keluarga dalam mendidik anak, sangat bergantung kepada kemampuan keluarga itu menerima pengaruh dari lingkungannya dan dari masyarakatnya. 

Mayor Polak menyatakan bahwa, keluarga merupakan lembaga sosial amat penting untuk kepribadian orang. Karena keluarga adalah merupakan ajang dimana sifat- sifat kepribadian anak terbentu mula pertama, maka dapatlah dengan tegas dikatakan bahwa keluarga adalah alam pendidikan pertama. 

Islam juga memandang keluarga sebagai lingkungan pertama bagi individu dimana ia berinteraksi atau memperoleh unsur-unsur dan ciri-ciri dasar dari kepribadian. Maka orang tua berkewajiban untuk  bisa menciptakan pendidikan yang tepat dalam mendidik anak-anaknya di lingkungan keluarga. Oleh karena itu, orang tua dalam mendidik anak-anaknya harus berdasarkan nilai-nilai Islami.

Keluarga yang kedua tiangnya adalah orang tua, memikul tanggung jawab, kasih sayang dan kecintaan kepada anak-anak, karena ini semua termasuk asas pertumbuhan dan perkembangan psikis serta sosial yang kokoh dan lurus bagi mereka. 

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan keluarga adalah kesatuan unsur terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari bapak, ibu dan beberapa anak. Masing-masing unsur tersebut mempunyai peranan penting dalam membina dan menegakkan keluarga, sehingga bila salah satu unsur tersebut hilang maka keluarga tersebut akan guncang atau kurang seimbang. Dengan kata lain mereka harus bersama-sama memelihara keutuhan rumah tangga sebagai suatu satuan sosial.

ORANG TUA 

Kata orang tua merupakan kalimat majemuk, yang secara leksikal berarti “Ayah ibu kandung: orang yang dianggap tua (cerdik, pandai, ahli dan sebagainya), orang-orang yang dihomati (disegani).

Orang tua adalah komponen keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu, dan merupakan hasil dari sebuah ikatan perkawinan yang sah yang dapat membentuk sebuah keluarga. Dalam KBBI disebutkan bahwa: “orang tua artinya ayah dan ibu”. Sedangkan menurut Miami, “orang tua adalah pria dan wanita yang terkait dalam perkawinan dan siap sedia untuk memikul tanggung jawab sebagai ayah dan ibu dari anak-anak yang dilahirkannya”.

Orang tua selalu memberikan hal yang terbaik untuk anaknya, khususnya dalam kasih sayang kepadanya sebagaimana dalam pepatah “Kasih sayang anak sepanjang bayang, kasih sayang ibu sepanjang masa”. Itulah pepatah yang tepat untuk melukiskan kondisi hubungan orangtua dan anak saat ini. Kasih sayang orangtua bukan semata hanya kasih sayang dengan cara memberikan materi atau menyediakan banyak fasilitas lengkap untuk anaknya, tapi juga dalam bentuk perhatian.

READ  Gaya Gravitasi Bumi

Orang tua memberikan pendidikan yang pertama bagi anak-anak, pendidikannya lebih menekankan pada aspek moral atau pembentukan kepribadian dari pada pendidikan untuk menguasai ilmu pengetahuan, dasar dan tujuan penyelenggaraan pendidikan keluarga bersifat individual, sesuai dengan pandangan hidup orang tua masing-masing.

Orang tua merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama dialami oleh anak serta lembaga pendidikan yang bersifat kodrati, orang tua bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik.

Perkembangan kehidupan seorang anak salah satunya ditentukan oleh orang tua, maka tanggung jawab orang tua terhadap anak sangatlah penting bagi masa depan anak, karena seorang anak pertama tumbuh dan berkembang bersama orang tua dan sesuai tugas orang tua dalam melaksanakan perannya sebagai penyelenggara pendidikan yang bertanggung jawab mengutamakan pembentukan pribadi anak. 

Dalam Islam, orang tua ditugaskan untuk mendidik dan mengajarkan anak-anaknya kepada kebaikan dan berperilaku sesuai dengan perintah agama. Sebagaimana yang tertera dalam Al-Qur’an, Surat Thaahaa ayat 132, yang artinya “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu, dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaahaa/20 : 132) 

Dengan demikian, faktor yang mempengaruhi perkembangan pribadi anak adalah kehidupan orang tua beserta berbagai aspek, perkembangan anak yang menyangkut perkembangan psikologi dipengaruhi oleh status sosial ekonomi, filsafat hidup keluarga, pola hidup keluarga seperti kedisiplinan, kepedulian terhadap keselamatan dan ketertiban menjalankan ajaran agama, bahwa perkembangan kehidupan seorang anak ditentukan pula oleh faktor keturunan dan lingkungan.

ANAK 

Anak dan kepribadian  

Anak adalah seorang yang berada dalam satu masa perkembangan tertentu dan  mempunyai potensi untuk menjadi dewasa. Perjalanan menjadi dewasa itu disebut perkembangan, sedangkan ketika ia dewasa, dia akan memiliki sebuah kepribadian yang mana itu merupakan hasil dari proses perkembangan pada masa sebelumnya. 

 Terdapat beberapa pengertian tentang kepribadian. Menurut GW. Allport kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis dari sistem pisikofisis individu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran individu secara khas. Menurut Florence dalam bukunya personality plus, kepribadian adalah keseluruhan prilaku seorang individu dengan system kecendrungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi. 

Sehingga dapat dipahami bahwa kepribadian yang dimaksudkan adalah sikap ataupun tingkah laku yang dilakukan oleh seorang anak ketika menghadapi berbagai keadaan dalam hidup. Baik senang, sedih, atau marah sekalipun.

Dalam Islam kewajiban anak kepada orang tua harus sopan dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Sebagaimana yang tertera dalam Al Qur’an Surat Luqman ayat 14, yang artinya “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada- Kulah kembalimu.” (QS. Luqman/31 : 14) 

Perkembangan kepribadian pada masa anak-anak 

Pada masa bayi biasanya pola kepribadian telah diletakan, mulai berkembang pada anak-anak. Perkembangan itu dipengaruhi oleh orang tua, saudara, dan teman-temanya yang merupakan dunia social baginya, maka perasaan dan perlakuan mereka akan menjadi factor penting dalam pembentukan konsep diri, yaitu inti dari kepribadian, dimana anak-anak mulai merasakan dirinya sebagai diri yang mampu mengendalikan seluruh keinginan dalam dunianya. Konsep dirinya itu akan terus berubah dan berkembang yang merupakan sebab dari pematangan, pengalaman, dan lingkugan social yang dialaminya. 

Dalam tumbuh kembangnya seorang anak, figur sosok ayah dan ibu sangat diperlukan. Ayah memberikan pengalaman mengenai logika, tantangan, keberanian, dan pengambilan keputusan, yang akan merangsang otak kiri anak. Sedangkan ibu akan merangsang otak kanan anak dengan  memberikan kelembutan, kasih sayang, insting, imajinasi dan tanggung jawab. Orang tua merupakan media sosialisasi pokok dalam pembentukan kepribadian anak, karena interaksi anak dengan orang tua mempunyai tingkatan tertinggi dalam kehidupan anak. Dan  keluarga menjadi tempat Sosialisasi primer yang menjadi podasi awwal bagi anak dalam beradaptasi terhadap nilai dan norma dalam masyarakat karna itu akan menjadi bekal untuk masa depanya. 

Pertumbuhan dan perkembangan anak akan mulai terlihat ketika anak menginjak masa sekolah dimana anak akan mulai mengenal dunia social sehingga kebiasaan yang dilakukan anak ketika masa kecil akan menjadi sebuah patokan pribadi dengan disertai pengalaman-pengalaman anak dimasa itu. 

Factor yang mempengaruhi kepribadian anak  

Terdapat dua factor yang dapat mempengaruhi pembentukan kepribadian anak, yaitu: pertama, Factor internal atau endogen, yaitu factor yang berasal dari dalam diri dan jiwa seseorang, biasanya disebabkan oleh factor genetis (keturunan) atau bawaan. Kedua, Factor eksternal atau eksogen, yaitu factor yang berasal dari luar diri seseorang, biasanya dipengaruhi oleh factor pengalaman, empiris yang di dapatkan dari lingkungan. 

Hubungan Orangtua Dan Anak 

POLA ASUH ORANG TUA  

Pola asuh terdiri dari dua kata “pola” dan “asuh”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pola artinya “sistem atau cara kerja”.  Pola juga berarti “bentuk (struktur) yang tetap”.  Sedangkan asuh yaitu menjaga, merawat dan mendidik anak kecil, membimbing (membantu, melatih dan sebagainya), dan memimpin (mengepalai dan menyelenggarakan) satu badan atau lembaga.  Dari pengertian tersebut dapat diartikan pola asuh yaitu sistem atau cara yang terstruktur untuk merawat, mendidik, membimbing, membantu, melatih dan memimpin anak. 

Terdapat beberapa pengertian terhadap pola asuh. Menurut Rifa Hidayah, pola asuh yaitu perawatan, pendidikan dan pembelajaran yang diberikan oleh orang tua terhadap anak mulai dari lahir hingga dewasa. Menurut Gunarsa, pola asuh adalah sikap dan cara orang tua dalam mempersiapkan anggota keluarganya khususnya yang lebih muda termasuk anak agar dapat mengambil keputusan sendiri dan bertindak sendiri sehingga menjadi mandiri, bertanggung jawab sendiri. Sedangkan Kohn mengartikan pola asuh sebagai sikap orang tua dalam berhubungan dengan anaknya, mulai dari cara pemberian perhatian, peraturan, hadiah, hukuman, sampai dalam menunjukan otoritasnya sebagai orang tua kepada anaknya.  

Sedangkan menurut Weiton dan Lioyd yang dikutip oleh Dr. Yusuf menjelaskan cara-cara orang tua dalam memperlakukan (mengasuh, mendidik, dll) anaknya, yaitu : pertama,Cara orang tua memberikan peratuaran kepada anak. Kedua,Cara orang tua memberikan perhatian terhadap perlakuan anak. Ketiga, Cara orang tua memberikan penjelasan kepada anak. Keempat,Cara orang tua memotivasi anak untuk menelaah sikap anak. Dari beberapa pengertian maka yang dimaksud dengan pola asuh dalam pemabahasan ini adalah cara orang tua bertindak sebagai suatu aktivitas yang melibatkan banyak perilaku spesifik secara individu atau bersama-sama sebagai serangkaian usaha aktif untuk mendidik, mengasuh, dan mengarahkan anaknya. 

READ  Elegi #1

Orang tua sebagai pembentuk pribadi pertama dalam kehidupan anak, kepribadian orang tua, sikap dan cara hidup mereka merupakan unsur-unsur pendidikan yang tidak langsung, yang dengan sendirinya akan masuk ke dalam pribadi anak yang sedang tumbuh.  Dengan demikian orang tua tidak hanya cukup memberi makan, minum dan pakaian saja kepada anak-anaknya tetapi harus berusaha agar anaknya menjadi baik, pandai, bahagia dan berguna bagi hidupnya dan masyarakat. Orang tua dituntut harus dapat mengasuh, mendidik dan mengembangkan semua potensi yang dimiliki anaknya agar secara jasmani dan rohani dapat berkembang secara optimal.

Fungsi Pengasuhan Anak 

Terdapat beberapa fungsi dalam pengasuhan orang tua kepada anaknya, diantaranya yaitu: pertama, dalam pendidikan fisik, hal ini terdiri dari seluruh anggota tubuh, yang bertujuan untuk kebugaran, kesehatan tubuh yang terkait dengan ibadah, akhlaq dan dmensi lainnya. Kedua, dalam pendidikan akal, yaitu menolong anak-anaknya menemukan, membuka, dan menumbuhkan bakat-bakat, minat-minat, dan kemampuan akalnya serta memperoleh kebiasaan dan sikap intelektual yang sehat dan melatih indera kemampuan akal.

Ketiga, dalam pendidikan keindahan, mendidik dengan perasaan cinta, gerakan hati dalam kesadaran, gerakan perasaan dalam pemberian, gerakan otak dalam pikiran. Bertujuan untuk merasakan sesuatu  yang indah, hal itu dapat merubah suasana hati, memberikan ketenangan dan kedamaian kepada jiwa anak. Keempat, pendidikan pisikologikal emosi anak, aspek ini bertujuan  untuk membentuk pertumbuhan emosi yang sehat, kematangan emosi sesuai umurnya, penyesuaian psikologikal yang sehat dengan dirinya sendiri dan orang lain di sekitarnya, menumbuhkan emosi kemanusiaan yang mulia. 

Kelima, dalam pendidikan iman, untuk membangkitkan kekuatan dan kesediaan spiritual bersifat naluri, yang ada pada anak melalui bimbingan yang sehat, mengamalkan ajaranajaran agama, membekali dengan pengetahuan agama. Keenam, dalam pendidikan akhlaq, bertujuan untuk memebentuk anak menjadi manusia yang berakhlaq, berpegang teguh dengn nilai, dan norma yang ada. Ketuju, dalam pendidikan social, pemberian bimbingan terhadap tingkah laku social, ekonomi, dan politik dalam kerangka akidah islam.  

Jika fungsi-fungsi diatas dapat terlaksana, maka hal ini akan berpengaruh pada diri anak, baik dari sisi kognisi, afeksi, maupun psikomotorik anak .

Bentuk pola asuh 

Menurut Chabib Thoha dalam mendidik anak terdapat tiga macam cara, yaitu: pertama, pola asuh demokratis, ditandai dengan adanya pengakuan orang tua terhadap kemampuan anak, anak diberi kesempatan untuk tidak selalu tergantung kepada orang tua, dengn sedikit memberi kebebasan anak untuk memilih apa yang terbaik bagi dirinya, didengarkan pendapatnya, dilibatkan dalam pembicaraan terutama yang menyangkut dengan kehidupan anak itu sendiri. Anak diberi kesempatan untuk mengatur hidupnya dan mengembangkan control internalnya sehingga sedikit demi sedikit berlatih untuk bertanggung jawab kepada diri sendiri. Di samping itu, orang tua memberi pertimbangan dan pendapat kepada anak, sehingga anak mempunyai sikap terbuka dan bersedia mendengarkan pendapat orang lain, karena anak sudah terbiasa menghargai hak dari anggota keluarga di rumah. 

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT :   

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. ali-Imron/03 : 159)  

Adapun cirri-cirinya ada dua, yaitu  pertama, Komunikasi Orang Tua dan Anak, Sikap demokrasi itu berkembang dari kebiasaan komunikasi di dalam rumah tangga, komunikasi berperan sebagai sarana pembentukan moral anak. Melalui interaksi dengan orang tuanya, anak mengetahui hal baik dan hal buruk, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan.kedua, menetima kritik, adanya sikap terbuka antara orang tua dan anaknya, teknik disiplin demokrasi menggunakan penjelasan, penalaran dan diskusi, untuk membantu anak mengetahui mengapa perilaku tertentu itu diharapkan.  

Menurut Yusuf  pola asuh seperti ini akan berpengaruh pada sifat dan kepribadian anak. di antaranya : bersikap bersahabat, percaya kepada diri sendiri, mampu mengendalikan diri, memiliki rasa sopan, mau bekerja sama, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, mempunyai tujuan dan arah yang jelas dalam hidup, dan berorientasi pada prestasi.  

Dengan demikian pola asuh demokratis memiliki pengaruh positif untuk masa depan anak, karna akan memberikan rasa optimis dalam melangkah untuk meraih impian yang ia cita-citakan. Dan pendidikan keluargapun dapat dikatakan berhasil ketika terjalinnya hubungan harmonis antara orang tua dan anak, adapun sikap anak baik atau buruk sekalipun itu dipengaruhi oleh bagaimana orang tua ketika menanamkan sikap tersebut.  

Kedua, pola asuh otoriter atau kepemimpinan Otoriter, ditandai pemberian aturan yang ketat dalam mengasuh anak, suka memaksa anak untuk berperilaku seperti dirinya (orang tua), membatasi kebebasan dalam bertindak khususnya yang beratas nama diri sendiri, anak jarang diajak berkomunikasi dan diajak ngobrol, bercerita, bertukar pikiran dengan orang tua. Orang tua menganggap bahwa semua sikap yang dilakukannya itu sudah benar sehingga tidak perlu minta pertimbangan anak atas semua keputusan yang mengangkat permasalahan anak-anaknya. Memang sebenarnya merupakan kewajiban bagi orang tua adalah menolong anak dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, akan tetapi tidak boleh berlebihlebihan dalam menolong sehingga anak tidak kehilangan kemampuan untuk berdiri sendiri nantinya dimasa yang akan datang.  

Dengan demikian maka cirri dari pola asuh ini diantaranya yaitu: hukuman yang keras, menghukum secara fisik, bersikap mengomando, bersikap kaku (keras), cenderung emosional dalam bersikap menolak, harus mematuhi peraturan-peraturan orang tua tanpa adanya diskusi. Dan akibatnya, anak itu akan memiliki sifat diantaranya yaitu: mudah tersinggung, penakut, pemurung tidak bahagia, mudah terpengaruh dan mudah stress, tidak mempunyai masa depan yang jelas, tidak bersahabat, gagap (rendah diri).  

Pola asuh seperti ini tidak akan member kebaikan terhadap perkembangan anak karna perlakuan kekerasan akan mengakibatkan perkembangan pribadi atau akhlaq anak menjadi tidak baik.  

Ketiga, pola asuh permisif atau kebebasan, yaitu membiarkan anak bertindak sesuai dengan keinginannya, orang tua tidak memberikan hukuman dan pengendalian. ditandai dengan pemberian kebebasan tanpa batas pada anak untuk berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri, orang tua tidak pernah memberikan aturan dan pengarahan kepada anak, sehingga anak akan berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri walaupun terkadang bertentangan dengan norma social. Bila demikian, maka pola asuh permisif ini tidak membimbing anak kepada prilaku yang disetujui secara social dan tanpa menggunakan hukuman.  

READ  Sejarah Perang Fijar

Adapun cirri- cirinya yaitu: kontrol orang tua terhadap anak sangat lemah, memberikan kebebasan kepada  anak untuk dorongan atau keinginannya, anak diperbolehkan melakukan sesuatu yang dianggap benar oleh anak, hukuman tidak diberikan karena tidak ada aturan yang mengikat, kurang membimbing, anak lebih berperan dari pada orang tua, kurang tegas dan kurang komunikasi. Dan ini akan memungkian anak memiliki sifat yang diantaranya yaitu: agresif, menentang atau tidak dapat bekerja sama dengan orang lain, emosi kurang stabil, selalu berekspresi bebas, slalu mengalami kegagalan karena tidak ada bimbingan.  

Dengan demikian maka pola asuh ini sebaiknya diterapkan oleh orang tua ketika anak telah dewasa, di masa ketika anak dapat memikirkan untuk dirinya sendiri, mampu bertanggung jawab atas perbuatan dan tindakannya.  

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa pola asuh sebagai cara mendidik anak yang baik adalah yang menggunakan pola demokratis, tetapi tetap mempertahankan prinsip-prinsip nilai yang universal dan absolute terutama yang berkaitan dengan pendidikan agama Islam karena itu berpengaruh besar terhadap perilaku anak nantinya, sedangkan pola asuh Otoriter layak dilakukan jika terkait dengan persoalan aqidah dan ibadah serta hal-hal yang dianggap membahayakan bagi si anak.

Kesimpulan 

Seorang anak tidak dapat dipisahkan dari orang tuanya sampai kapanpun, karna memiliki hubungan yang sangat erat anara satu dan yang lain. Diantaranya: Pertama, keluarga, keluarga tidak akan sempurna apabila hubungan anatara anak dan orangtua tidak baik, dan untuk mewujudkan adanaya kesempurnaan tidak cukup hanya pada keberadaan sosok kebersamaan meraka, tapi juga harus adanya hubungan baik diantra keduanya.

kedua, orang tua, orang tua memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan jiwa sang anak, baik anak itu masih dalam masa pra, proses, bahkan sampai pada paca kelahiranya, tanpa adanya orang tua, anak yang lahir akan cenderung mengalami ganguan pada jiwanya. Ketiga, anak, anak tidak dapat dipisahkan dari orang tuanya karna orang tua merupakan hal dasar dalam perkembangan jiwanya, seorang anak akan terus mengikuti tingkah laku kedua orang tuanya sampai ia dapat membedakan hal yang baik dan buruk, karna pada hakikatnya seorang anak akan lebih cendrung mengikuiti semua yang dilihat dari keluarganya (orang tua).

Keempat, pola asuh, pola asuh dalam kelurga juga mempengaruhi jiwa seorang anak, ketika orang tua memberikan pola asuh yang benar, maka anakpun akan menjadi baik sebagai mana tujuan dari asuhan orang tuanya.

Dalam pola kumunikasi sayful menjelaskan bahwa “Orangtua dan anak adalah satu ikatan dalam jiwa. Dalam keterpisahan raga, jiwa mereka bersatu dalam ikatan keabadian. Tidak seorangpun dapat memisahkannya. Ikatan dalam bentuk hubungan emosional antara anak dan orangtua yang tercermin dalam perilaku. Segala perilaku dan sikap yang dilakukan oleh orangtua akan menjadi teladan bagi anaknya, baik perilaku positif maupun negative”.

Dengan demikian maka hubungan antara orang tiua dan anak tidak dapat dipisahkan anatara satu dan yanglainya sehingga hubungngannya bagaikan ikatan tali kapal yang diikat sanganat erat kepada pesisirnya agar kapal tetap dapat terkontrol, dan apabila ikatan itu leapas maka, untuk mengntrol itu akan sangat sulit, bahkan hampir tidak mungkin. Begitu juga orang tua kepada anaknya, ketika ikatan hubungan antara keduanya terlepas – natah karna orangtuanya acuh dalam mendidiknya, ataupun memiliki kesibukan yang berlebihan – itu akan membuat anak menjadi tidak terkontrol kehidupnya khususnya jiwa, bahkan dapat menjadi anak yang berkelakuan tidak sopan, pandai berbohong, suka mencuri, hobi berantam, hasud, dengki, iri, tidak berakhlaq baik bahkan liar.

Dengan demikian maka, orang tua dan anak memiliki hubungan ikatan yang tidak bisa dipisahkan anatara keduanya. dan apabila orang tua mengingiinkan buah hatinya beraakhlaq mulia, baik jasmani mauun rohaninya maka, silahkan masukkan ke sekolah favorit, seperti: sekolah dasar favorit di Bandung atau yang dikenal pula sekolah dasar terbaik di Bandung. ingatlah bahwa semua hal yang dilakukan oleh orang tua – baik dari hubungan arang tua, pola asuh, dan pendidikan anak- harus baik pula, karena itu akan berimbas kepada kejiwaan buah hatinya kelak. 

Daftar pustaka 

Waluya, Bagja. Sosiologi 3 Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat, (Bandung : PT. Setia Purna, 2007) 

Agus Sujanto, Psikologi Perkembangan, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1996), cet. Ke- VI 

Kisyik, Abdul Hamid. Bimbingan Islam Untuk Mencapai Keluarga Sakinah, (Bandung : Al- Bayan, 2005) 

Ahmadi, Abu. Sosiologi Pendidikan, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2007)  

Widagdho, Djoko. Ilmu Budaya Dasar, (Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2008), cet. Ke-10 

Sujanto, Agus. Psikologi Perkembangan, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1996), cet. Ke- VI 

Polak,  J.B.AF. Mayor. Sosiologi, (Jakarta : Ikhtisar, 1964) 

Mansur, M.A, Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009) 

An Nahlawi, Abdurrohman. Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam, (Bandung : CV. Diponegoro, 1996), cet. ke 3, h, 197

 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Depdikbud. Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1998) 

Sodiq, Burhan. Bunda Maafkan Aku. (Surakarta: Samudera, 2012) 

Graha, Chairinniza. Keberhasilan Anak di Tangan Orangtua, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2010) 

Yusuf , Syamsu L.N. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (bandung: remaja rosda karya, 2001) 

E. koswara, Teori-Teori Kepribadian, (Bandung: eresco, 1991) 

Littaurer, Florence. Personality Plus,(Jakarta: Rosdakarya, 2006) 

Hurlock, Elizabeth B. psikologi perkembangan,(Jakarta: Erlangga, 2006) 

Mussen, Paul Henry. Perkembangan dan Kepribadian Anak, edisi ke enam jilid I,(Jakarta: Earlangga, 2005) 

Departmen Pendidikan & Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1996) 

Djamarah, Syaiful Bahri. Pola Komunikasi Orang Tua & Anak dalam Keluarga, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004) 

Bodiono, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. (Surabaya: Karya Agung, 2005) 

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Depdikbud. Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1998) 

Kartono, Kartini. Peranan Keluarga Memadu Anak, Sari Psikologi Terapan, (Jakarta: Rajawali Press, 1982) 

Hidayah, Rifa. Psikologi Pengasuhan Anak, (Malang: UIN-Malang Press, 2009) 

Gunarsa , Ny. Y. Singgih D. dan Gunarsa, Singgih D, Psikologi Remaja, (Jakarta: Gunung Mulia, 2007), cet. 16 

Thoha, Chabib. Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka pelajar offset, 1996), Cet. I 

Yusuf , Syamsu LN., Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008)

Darajat, Zakiah. Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996) 

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Semarang: CV. Thoha Putra,1989) 

Drajat, Zakiyah. Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah,(Jakarta: Remaja Rosdakarya Offset, 1995), Cet. 2 

Amin , Mansyur dan Muhammad Najib. Agama, Demokrasi dan Transformasi Sosial, (Yogyakarta: LPKSMNV DIY bekerjasama dengan The Asia Fondation Jakarta, 1993) 

Hurloch, Elizabeth B. Child Developmen, Terj oleh Meitasari Tjandrasa, Perkembangan Anak, Jilid II, (Jakarta: Erlangga, 1978) 

Subroto, Hadi M.S, Mengembangkan Kepribadian Anak Balita, (Jakarta: Gunung, 1997) 

Munardji, Ilmu Pendidikan Islam, ( Jakarta :  PT Bina Ilmu, 2004) 

Binti  Maunah, Ilmu Pendidikan,  (Yogyakarta : Teras : 2009) 

Zuhairini , Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara : 1991) 

Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan ( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001)

__Terbit pada
12 Desember 2021
__Kategori
Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Guru

Guru

6 hari  yang lalu
Restu Ortu

Restu Ortu

1 minggu  yang lalu
Gaya Gravitasi Bumi

Gaya Gravitasi Bumi

2 minggu  yang lalu
Rafly

Rafly

2 minggu  yang lalu
Pelajaran Sejarah Dihapus?

Pelajaran Sejarah Dihapus?

3 minggu  yang lalu
Dunia Pesantren

Dunia Pesantren

1 bulan  yang lalu
Meniru Anime

Meniru Anime

1 bulan  yang lalu