Aplikasi Akad dalam Swab Paksa

Sejak bulan Desember, akhir tahun 2019 lalu, dunia dibuat gaduh dan ketakutan oleh adanya Virus Corona atau Covid-19 yang munculnya berawal dari kota Wuhan, China. Akibatnya ribuan korban berjatuhan. Korban yang terserang virus ini mengalami kritis bahkan hingga berujung kematian. Hampir di setiap tempat di Indonesia terserang virus ini sehingga membuat masyarakat ketakutan, ditambah lagi dengan adanya isu-isu miring tentang virus ini tersebar dan dibesar-besarkan oleh oknum yang tak bertanggungjawab.

Oleh karena berbahayanya virus ini, maka pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan, seperti peraturan wajib bermasker, menjaga jarak (social distancing) dan melakukan PSBB. Akhirnya semua kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah ini menuai pro-kontra di kalangan masyarakat. Bagi masyarakat yang notabene mata pencahariannya di luar rumah menganggap kebijakan pemerintah ini terlalu lebay dan kurang bertawakkal kepada Allah, karena menurut mereka semua terjadi atas kehendak Allah, sehingga seharusnya dengan ini umat berserah diri kepada Allah sepenuhnya.

Menurut masyarakat yang pro dengan pemerintah menganggap bahwa kebijakan pemerintah seperti ini sangat tepat dan wajib dilaksanakan, seperti yang pernah dilakukan oleh Amirul Mukminin Sayyidina Umar bin Khattab ra. Beliau enggan memasuki daerah yang terserang penyakit Tha’un, bukan karena beliau kurang bertawakal, tetapi beliau mencari takdir Allah yang lain.

Ditambah lagi adanya virus ini membuat beberapa pihak medis memaksa masyarakat untuk melakukan tes swab (Tes untuk mendeteksi infeksi virus corona penyebab Covid-19 menggunakan metode PCR (Polymerase Chain Reaction)) guna memastikan tubuh benar-benar sehat alias tidak terkontaminasi virus corona. 

Melihat praktik yang terjadi antara pihak medis dan pasien, yakni pihak medis yang meminta pasien secara paksa untuk melakukan tes swab, menurut pandangan Muamalah (Ekonomi Islam) merupakan praktik akad Ijarah (sewa) yang dilegalkan oleh syari’at.

READ  Humoris Idaman Para Wanita

Mengenai hukumnya, kita perlu mengetahui apa itu akad Ijarah. Akad Ijarah secara etimologi adalah nama untuk upah (ujrah), sedangkan terminologi Ijarah adalah kontrak atas jasa atau manfaat yang memiliki nilai-nilai yang maqsudah (tujuan asli), dinyatakan dengan jelas dan bisa di serah-terimahkan kepada orang lain dengan upah yang di ketahui. Dalam akad ijarah, Mu’jir (orang yang menyewakan) dan Musta’jir  (orang yang menyewa) harus mutlak tasharrufnya dan tidak ada paksaan. Jika salah-satu dari syarat tersebut tidak terpenuhi maka akad ijarahnya tidak sah.

Adapun dalam masalah paksaan sendiri terbagi menjadi dua bagian; yakni Hissi dan Syar’i. Hissi adalah paksaan terhadap seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak wajib dilakukan, serta adanya ancaman apabila ditinggalkan, yang mana orang tersebut tidak mampu menolaknya. Sedangakan Syar’i, paksaan yang sesuai dengan otoritas kepada seseorang yang berkewajiban melakukannya oleh orang yang berhak, serta adanya ancaman yang diperbolehkan ketika tidak mengikuti perintah.

Maka dari itu, praktik tersebut termasuk paksaan yang syar’i. Karena paksaaan yang dilakukan oleh pihak rumah sakit sesuai dengan undang-undang atau kebijakan pemerintah. Sedangkan kebijakan pemerintah –selagi tidak melenceng dari syar’iat- wajib ditaati. Karena kebijakan yang berupa perintah untuk memakai masker, menjaga jarak (social distancing), dan kondisi fisik harus normal (bebas Covid19) jika hendak berpergian atau hendak berkumpul di khalayak umum ada mashlahah umum yang berupa menjaga kesehatan orang lain agar tidak tertular virus tersebut.

Maslahah terdiri atas dua bentuk:

1.      Mewujudkan manfaat, kebaikan dan kesenangan untuk manusia yang biasa disebut dengan جَلْبُ الْمَنَافِعِ (membawa manfaat). Kebaikan dan kesenangan itu ada yang langsung dirasakan oleh yang melakukan perbuatan yang disuruh itu. Ibarat orang yang sedang haus meminum minuman segar. Ada juga yang dirasakannya kemudian hari, sedangkan pada waktu melaksanakannya tidak dirasakan sebagai suatu kenikmatan tatapi justru ketidakenakan. Seperti orang yang sedang sakit malaria disuruh meminum obat yang rasanya pahit. Segala suruhan Allah barlaku untuk mewujudkan kebaikan dan manfaat seperti ini.

READ  Falsafah Haji dalam Kitab Turas

2.      Menghindari umat manusia dari kerusakan dan keburukan yang disebut درا المفاسد (menolak kerusakan). Kerusakan dan keburukan itu ada yang langsung dirasakannya setelah melakukan perbuatan yang dilarang, ada juga yang waktu berbuat dirasakannya sebagai sesuatu yang menyenangkan tetapi setelah itu dirasakan kerusakan dan keburukannya. Umpamanya berzina dengan pelacur yang berpenyakit atau meminum minuman manis bagi yang berpenyakit diabetes.

Kesimpulannya, praktik di atas masuk dalam kategori akad ijarah yang sah, meskipun ada unsur paksaan. Sedangkan paksaan yang terjadi termasuk paksaan yang Syar’i, karena ada kebijakan dari pemerintah pada kemaslahatan yang harus dilaksanakan.

__Terbit pada
19 Februari 2022
__Kategori
Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.