Bagaimana, Sih, Menulis Cerpen yang Baik?

Bagaimana, sih, menulis cerpen yang baik? Pertanyaan semacam ini biasa muncul bagi cerpenis pemula. Tetapi tidak jarang pula, cerpenis yang sudah berkali-kali menulis cerpen, hasilnya masih begitu-begitu saja alias kurang baik dan menarik. Meski demikian, intinya harus punya modal keberanian menulis.

Muhammad sudah berani menulis dan itu modal penting, asal setelah itu jangan berhenti bereksperimen dan terus membaca cerpen-cerpen mutakhir. Cerpennya yang berjudul Sang Pustakawan, menurut hemat saya adalah karya yang bisa dikatakan HANCUR! Kenapa? Saya kira karena Muhammad kurang membaca cerpen karya orang lain, atau karena ini adalah karya pertama Muhammad dalam bidang fiksi. Jika saya boleh mengelompokkan, maka cerita Muhammad ini masuk dalam kategori catatan harian, bukan cerpen pada umumnya.

Mari kita bahas…

Pertama, judul. Sepertinya Muhammad membuat judul tanpa pertimbangan sama sekali. Bayangkan, judulnya Sang Pustakawan tetapi berisi tentang sebuah pertemuan dengan seorang alumni pesantren. Kan, kurang nyambung? Semestinya, judul sebuah tulisan mewakili apa yang akan kita tulis dan memjadi pokok pembahasan. Memang, ada sebagian judul cerpen karya cerpenis terkemuka yang tidak terlalu nyambung jika dirunut per paragraf, tetapi bisa disimpulkan jika telah membaca cerpen hingga tuntas. Sementara judul milik Muhammad benar-benar tidak nyambung alias judul yang gagal.

Kedua, prolog alias pembukaan. Sebenarnya apa yang membuat cerpen menarik minat pembaca? Adalah pembukaan yang menarik dan langsung masuk pada pokok pembahasan. Cerpen yang pembukaannya bertele-tele akan cenderung tidak dibaca, karena pembaca tidak langsung tertarik untuk mengetahui lebih lanjut apa isi cerpen tersebut. Masalah prolog ini sebenarnya menjadi momok bagi setiap pengarang, jadi Muhammad tidak sendirian dalam menyikapi masalah prolog ini. Ada banyak cerpenis yang juga mengalami masalah serupa.

READ  Cinta Terlarang

Berikut saya kutip pembukaannya, Matahari mulai mengantuk. Karena hamper 10 jam menyinari Pondok Pesantren Sidogiri. Langit mulai berubah menjadi kekuning-kuningan, dan sebentar lagi akan berubah menjadi hitam kelam. Sedangkan aku sedang asyik mengucek-ngucek mataku, menghapus kotoran yang menyelimuti kedua pupil mataku. Dan seterusnya…

Muhammad masih cenderung bermain-main dengan kalimat yang kurang penting. Cerpennya tidak langsung masuk pada pokok pembahasan. Bayangkan, untuk menyatakan baru bangun tidur saja, Muhammad harus membuat kalimat bertele-tele dan panjang. Ingat, cerpen itu harus cepat, karena akan dibaca sekali duduk saja.

Ketiga, alur kurang menarik. Salah satu unsur terpenting dalam cerpen adalah alur yang menarik dan nyambung. Kita boleh bercerita dengan gaya meloncat-loncat, tetapi tetap memperhatikan alur yang menyambung dan segera dapat dimengerti. Jika kita kurang pandai dalam memainkan loncatan alur, maka semestinya kita memakai alur yang lurus saja, dengan catatan tetap harus menarik. Tidak boleh tidak!

Lompatan cerita yang Muhammad bikin cenderung ngawur, sehingga kurang memiliki ikatan yang kuat antar paragrafnya. Lihat saja petikan cerpen ini, …di sanalah aku bermunajat, menghadap ilahi secara berjamaah, bersama beberapa kader-kader ibadillah as-shalihin yang menjadi harapan penuh Pondok Pesantren Sidogiri.

Tiba-tiba saja cerita Muhammad meloncat ke, “Assalamualaikum warahmatullah”, terdengar lantunan suara imam, akupun segera mengikuti suara itu, lalu segera beranjak meninggalkan masjid tanpa puja-puji kepada Rab-ku dan berdoa padanya.

Bagaimana kunci terbaiknya? Jauhi berlebay-lebay dengan bahasa. Berceritalah seringkas mungkin tanpa kehilangan daya tariknya. Jangan terlalu asyik dengan bahasa bertele-tele yang tidak terlalu kita butuhkan. Seperti ingin menuliskan tentang shalat, maka tulislah sebagaimana adanya, bukan malah sibuk ngalor-ngidul tak jelas. Paham?

READ  Kesunyian

Ketiga. Oh, salah, keempat maksud saya. Hindari percakapan tidak penting. Sebenarnya buat apa percakapan dalam cerpen dibuat? Salah satunya adalah untuk menguatkan pembahasan dan menyatakan sikap. Jika tidak terlalu penting, maka para cerpenis jarang membuat percakapan dalam sebuah karangan. Jadi buatlah percakapan jika memang penting dan sangat dibutuhkan, terutama sebagai penguat dan pendukung isi cerita.

Ini selanjutnya, kelimat, penokohan! Muhammad kurang kuat memberikan kesan tokoh yang ditampilkan. Muhammad lebih sibuk memoles keadaan dari pada karakteristik tokoh yang diceritakan. Misalnya saya tidak mendapati keterangan rambut si tokoh panjang, atau si tokoh terlihat berwibawa dan lain-lain. Yang paling nampak adalah keterangan tempat dan situasi yang dialami tokoh. Maka semestinya mulai sekarang Muhammad belajar menjelaskan tokohnya, sehingga pembaca benar-benar tahu dan merasa melihat langsung seperti apa tokoh yang sedang ia ceritakan.

Terakhir, berceritalah dengan baik. Berceritalah dengan tema, da nisi yang nyambung. Bukan malah asal bercerita. Di cerpen Sang Pustakawan ini, Muhammad seperti sedang bingung mau menceritakan apa. Sepertinya mau membahas kegiatan pesantren, dirinya yang terburu-buru atau tentang temannya yang sukses dan entah apa lagi. Saran saya, baca, baca dan baca, terutama baca cerpen saya!

Selamat berproses!

__Terbit pada
20 November 2021
__Kategori
Kritik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kesunyian

Kesunyian

1 minggu  yang lalu
Seni Mengarang Cerpen

Seni Mengarang Cerpen

1 minggu  yang lalu
Kita Sedang Menulis Cerpen!

Kita Sedang Menulis Cerpen!

1 minggu  yang lalu
Kegelapan

Kegelapan

1 minggu  yang lalu
Cinta Terlarang

Cinta Terlarang

1 minggu  yang lalu