cerpen kehidupan remaja di era globalisasi

Bendera Tua

Di sebuah pertiga malam. Saat kesunyian mempersilahkan segala hati untuk bersuara. Kiai Siddiq memandangi santri-santrinya dari bibir jendela rumahnya, yang terletak di pojok pesantren tuanya. Bersama keremangan yang menyuarakan nostalgia masa lalu. Saat malam-malam pondok ini masih berlatar gelap, hanya titik-titik cahaya samar lampu pijar di dinding bilik-bilik santri. Namun kobar semangat belajar mereka ynag menyala-nyala, membuat mereka tak pernah mau berhenti membaca kitabnya. Walau angin malam menusukkan dingin yang menggigil. Kadang suara-suara samar bacaan Al-qur’an juga tak jarang mengisi kesunyian. 

Kini jumlah santri makin banyak. Suasana pondok makin ramai. Terang cahaya lampu yang menyala di segala sudut pondok, membuat suasana seakan tiada beda antara siang dan malam. Busana santri yang dulu diharuskan bersarung, kini sudah dibebaskan memakai celana. Hal itu bermula semenjak kepengasuhan Ra Maimun, cucu tertua Kiai Siddiq. Bahan bacaan mereka bukan lagi kitab kuning lagi, melainkan buku-buku putih berbahasa Indonesia dan buku-buku terjemahan. Halaqah-halaqah yang menggemakan utawi iki iku fasal sudah tak lagi terdengar di tengah-tengah mereka.

Sepertinya kiai sepuh itu merasa asing dengan pondok yang dibangunnya sendiri seratus tahun yang lalu bersama dua kakaknya yang gugur saat serangan penjajah Belanda. Dia makin tak tak mengenal suasan baru itu. Dia hanya kuasa mengubur rindu pada belahan-belahan masa lalu yang penuh perjuangan dan darah.

“Sudah bukan saatnya kita kita mempertahan sistem tradisional seperti ini. Kita harus mengikuti arus zaman, mbah!” Begitulah alasan Ra Maimun ketika ditanya oleh Kiai Siddiq tentang keputusannya untuk mengubah warna kulit pesantren yang berbasis diniyah menjadi sekolah formal. Kiai siddiq tercengang sambil memandang bendera kuno penuh sejarah yang dipajang di bawah garuda di kantor pondok. 

“Seluruh santri, tetap bertahan di kamar!”

Tiba-tiba Kiai Siddiq terkenang pada teriakan Kiai Husni, ketika Belanda mengepung pondok yang baru dibangunnya.  Negara penjajah itu memang tak pernah mau berhenti untuk menghalang-halangi langkah para Kiai untuk mendirikan pesantren. Sebab pendidikan kuno itu banyak melahirkan pahlawan-pahlawan tangguh yang tak pernah gentar pada kematian. 

Lalu Kiai Husni bersama Kiai Arif beserta santri-santri pilihannya, keluar menghadapi musuh-musuh itu. Sedangkan Kiai Siddiq bertugas menjaga keamanan santri bagian dalam. Suara kecamuk perang di luar sana terdengar heboh. Tiba-tiba terdengar teriakan mengagetkan.

“Kiai Husni tertembak! Kiai Husni tertembak!”

Pasukan Belanda melarikan diri. Kiai Siddiq mendekati Kiai Husni yang nafasnya sudah tersengal-sengal, sembari menyempatkan untuk menyampaikan sebuah pesan pada adiknya. 

“Siddiq, pertahankan pondok kita! Pertahankan kesalafannya sampai kapanpun! Jangan pernah kau ubah sedikitpun. Karena itulah jati diri kita yang dibangun dengan darah dan nyawa. Inilah sumbangan kita untuk negeri ini. Ingat!”

Wasiat itu berakhir dengan hembusan nafasnya yang terakhir kali. Dari tempat yang lain Kiai Arif ternyata tertangkap. 

“Gimana, mbah?” Pertanyaan Ra Maimun menghentikan kenangan kiai Siddiq. Dia agak tersentak. Lalu memandang kembali pada bendera tua itu. 

“Tidak! Ini dari Cak Husni. Saya tak berani!” jawaban tegas dari Kiai Tua yang berumur satu abad itu, membuat kening pemuda yang masih berkepala tiga itu mengerutkan dahi. 

“Dunia luar saat ini tidaklah seperti masa muda mbah dulu. Kita sangat perlu membekali santri-santri kita dengan keahlian-keahlian tertentu. Biar mereka itu bisa bersaing di tengah-tengah era globalisasi ini mbah. Apakah mbah tega melihat alumni-alumni kita tersisihkan di tengah-tengah perkembangan zaman? Melihat mereka hanya menjadi seorang guru diniyah yang bersepeda onthel tiap hari, dan penghidupan keluarganya sering kekurangan?”

“Terserah kamu! Asal kamu mau mempertanggung jawabkan akibatnya di hadapan Allah. Saya tak mau memutus amal jariyah Cak Husani dan Cak Arif.”

READ  Kesunyian

Dengan penuh kekecewaan, Kiai sepuh itu meninggalkan kantor itu. Sebenarnya sangat berat hatinya, bila jati diri pondok yang dibangun dengan darah dan nyawa itu harus berubah menjadi wajah yang lain. Namun sepertinya sang cucu tak mau mengerti keinginan kakeknya. Dia selalu memaksakan pemikiran-pemikiran yang dibawa dari hasil belajarnya di luar negeri. Dia selalu menggembar-gemborkan adanya perubahan total pada pesantren itu. Tak peduli apakah berseberangan dengan prinsip dasar pesantrennya atau tidak. 

“Biar orang luar mau berkata apa, bah!” Kata-kata Ra Wafi, putranya yang telah meninggal di masa silam mengiang dalam pikiran Kiai Siddiq. “Pondok kita dibangun untuk mencetak kader-kader penyembah Allah yang baik, bukan untuk membuat orang-orang punya keahlian duniawi yang ujung-ujungnya hanya menjadi pengabdi pengusaha-pengusaha kaya. Lagi pula bila seseorang sudah dinilai baik di sisi Allah, ada di manapun dia akan selalu baik. Dia akan selalu siap menjadi apa saja. Bila miskin akan sabar, bila kaya akan bersyukur. Bila ada di bawah akan menghormati atasan. Bila di atas akan menghargai bawahan.”

Sangat ironis, pemikiran Ra Maimun sangat berseberangan dengan Ra Wafi, ayahnya sendiri. Ra Wafi hanyalah jebolan pondok pesantren salaf yang asli produk Nusantara. Dia tahu betul seluk-beluk pondo salaf. Tak heran, ketika dia yang masih menjadi pengasuh, pondok tua itu betul-betul menampakkan suasana salafnya. Bahkan bersama saudara-saudaranya yang lain dia mampu membawa kesalafan pondok itu harum semerbak di mana-mana.

Lalu Kiai Siddiq menutup jendelanya. Gejolak rindu akan raut wajah salaf di masa lalu selalu meramaikan tiap sepinya. Andaikan kegaduhan ingatan yang meraung-raung bias dibendung……

***

 “Loh, Maimun! Mana foto Cak Husni? Mana foto Cak Arif? Bendera merah putih itu mana?” Kiai Siddiq agak sedikit kaget melihat foto bersejarah dua saudaranya diganti foto presiden dan wakilnya. Sedangkan sang merah putih diganti gambar kaligrafi yang sama sekali tak ada keterkaitan sejarah dengan pondok itu.

“Dua foto itu kan sudah usang mbah?” tanggap Ra Maimun santai. “Ya, saya taruh saja di lemari. Saya ganti gambar presiden dan wakilnya, biar lebih resmi.”

Dada Kiai Siddiq  sebenarnya sangat mendidih. Bahkan andaikan termometer ditaruh di dadanya, ia akan meledak. Tapi kiai yang rambutnya dipenuhi uban itu, berusaha menahannya. Baginya tindakan cucunya itu sudah di luar batas. Dia telah bertindak melampaui yang tua. Sebagai sesepuh di pondok, Kiai Siddiq merasa tersisihkan pemikirannya.

“Dasar! Pemuda tak menghargai sejarah!” Hanya itu gerutu yang tersimpan dalam hatinya. 

“Bendera itu kau taruh di mana?” Tanya Kiai Siddiq agak ketus.

“Oh, itu mbah. Itu kan sudah lapuk. Saya buang saja di pembuangan sampah.”

Kiai Siddiq terhenyak tak terkira. Tanpa kata-kata lagi, dia langsung beranjak menuju jurang pembuangan sampah. Banginya bendera itu mempunyai nilai sejarah yang sangat berharga. 

“Jangan biarkan bendera pusaka kita dibakar oleh orang-orang kafir itu!” Teriakan Kiai Arif terngiang dalam ingatan Kiai Siddiq. Kala puluhan santri berbondong-bondong menurunkan sang merah putih yang sedang dikibarkan di atas bendera pondok. Saat itu pasukan penjajah melepaskan senapan berapi ke arah bendera. Sesekali lesatan peluru menembus dada santri yang berusaha menyelamatkan bendera itu. Tiba-tiba Kiai Arif menaiki gapura. Lalu memenggal tiang bendera. Benda keramat itupun jatuh dan terselamatkan. Namun Kiai sendiri harus menjadi korban keganasan itu. Tiga peluru bersarang di dadanya. 

Satu pilar penyangga perjuangan pondok itu musnah. Tinggal kiai Siddiq yang bertahan menapaki perjalanan waktu yang dilalui pondok bersejarah itu. Dialah sang veteran yang bersembunyi di balik tumpukan pemberiannya yang tak terhitung pada negeri. Sang pahlawan sejati yang ribuan jasanya tak bias diukur dengan sebuah penghargaan dan pengakuan. Dia dan saudara-saudaranya tak masuk dalam deretan pahlawan nasional yang dipajang di sekolah-sekolah. Jejak langkahnya tak terekam di buku-buku pelajaran sejarah. Namun barangkali keikhlasan mereka akan membuat mereka termasuk dalam deretan pasukan Allah yang tak pernah gentar menantang mati demi kebenaran.

READ  Ukhti, Uhibbuki!

“Ah, untung masih utuh,” girang Kiai Siddiq, saat berhasil menemukan bendera bersejarahnya di jurang pembuangan sampah. Dia langsung mencuci dan menyimpannya di kamarnya sendiri.

“Biar saya saja yang mengabadikan situs sejarah ini,” desis Kiai tua itu dalam hati. Kekecewaan makin tertanam di lubuk hati Kiai Siddiq pada cucu yang dahulu sangat diharapkan untuk bisa menjaga keutuhan sejarah pondoknya. 

***

Nafas pagi menyisir celah-celah ventilasi rumah kuno yang dihuni Kiai Siddiq. Kiai tua yang masih gagah itu, berjalan-jalan menghirup udara pagi di kompleks pesantren. Biasanya tiap pagi dia berkeliling kampong. Sejak dia serahkan ururusan pesantren sepenuhnya kepada putra-putranya, dia hampir tak pernah menampakkan diri di hadapan para santri. Dia lebih suka bergaul dengan masyarakat sekitar pondok. 

Pemandangan pondok saat ini sangat asing baginya. Dahulu yang dia ketahui biasanya setiap ada keluarga pondok, santri-santri yang berjalan menyingkir dan menundukpenuh penghormatan. Hal itu sudah menjadi kebisaan turun-tenurun dari generasi ke generasi berikutnya. Namun anehnya, pagi ini pemandangan itu tak lagi tampak di hadapannya. Santri-santri yang berpapasan dengan Kiai Siddiq hanya tersenyum sambil menyapa, “Assalamu’alaikum, Kiai.” Sebagaimana sapaan santri kepada santri yang lainnya. Seolah tak ada beda antara guru dengan murid. 

Kiai sepuh itu merasa makin jauh dari arah masa lalu. Dia sangat merasakan adanya kehilangan budaya berharga yang telah bertahun-tahun mengakar di pondok itu. Sesumbar Ra Maimun tempo hari yang lalu mengiang tiba-tiba. 

“Alhamdulillah, mbah. Pesantren kita sudah banyak mengalami perubahan-perubahan menuju kemajuan. Para santri sudah banyak yang mulai terlepas dari keterkungkungan pemikiran kolot yang selama ini memenjara tingkah laku mereka. Ini merupakan potensi yang besar untuk bisa terwujudnya pembaharuan di sini.”

Kiai Siddiq menggeleng-geleng sendiri. Apa ini kemajuan yang dimaksud oleh cucu yang dianggapnya melampaui batas itu? Mana ada kemajuan harus menghapus budaya baik yang sudah ada? Bukankah itu sebuah kemerosotan? Entahlah, dari arah mana pikiran Ra Maimun berangkat untuk menuju pemahaman makna tentang kemajuan.  Bagi Kiai, budaya lama yang begitu anggun itu adalah sebuah harga mati yang tak bisa ditukar dengan apapun.

Dari arah yang agak jauh, Ra Maimun terlihat sedang menyeruput kopi di depan dalemnya. Sang Kiai satu abad itu bergegas menuju keberadaan cucunya. Sang cucu menyambutnya dengan perilaku biasa, namun dengan tabur senyum menyala. Berbeda dengan Ra Wafi dulu. Tiap Kiai siddiq bertamu padanya, dia selalu menyambutnya dengan penuh penghormatan.

“Silakan masuk, mbah!” ucap Ra Maimun dengan lagak biasa. Seolah tak ada yang istimewa dengan kedatangan kakeknya yang begitu terhormat di mata masyarakat itu. Lalu mereka berduapun mulai berbincang-bincang tentang perkembangan pesantren yang telah seratus tahun berdiri itu.  

“Itu kan baik, mbah!” tanggap Ra Maimun saat kakeknya mempertanyakan perubahan tatakrama santri, ketika bertemu keluarga pondok. “Budaya kekanak-kanakan itu memang tak semestinya kita pertahankan. Itu adalah kenaifan yang sangat menghambat kemajuan.” 

Kiai Siddiq hanya bisa tercengang mendengar lontaran jawaban tegas dari cucunya. Sebenarnya pemikiran itu sudah tampak saat Ra Maimun belum menjadi pengasuh. Tiap dia pulang dari luar negeri semasa kuliahnya, dia sering mengomentari budaya merunduk-runduk para santri yang menurutnya itu adalah kekolotan yang menghambat kemajuan. Dia selalu melontarkan pemikiran itu pada Ra Wafi, ayahnya. Sang ayah yang terbiasa memandang setiap sesuatu dari berbagai sisi tak pernah menanggapinya. Dia hanya tersenyum. 

READ  Rafly

“Andaikan santri yang bawa kitab itu tak berhenti ketika kami lewat, dia pasti segera sampai ke tempat tujuannya, dan bisa langsung membaca kitabnya. Kalau dia seperti itu kan jadi terhambat kegiatannya,” katanya suatu ketika. 

Kiai Siddiq kini hanya menggeleng-geleng kepala. Tak tahu lagi apa yang harus diperbuat. Dia hanya belajar melatih diri untuk siap menghadapi banyak kehilangan dalam jiwanya. Dia harus menerima kenyataan akan tanggalnya sebuah jati diri yang telah terbangun selama puluhan tahun.

***

Kamis Kliwon Sore.

Kiai siddiq mengunjungi pesarean kedua saudaranya, Kiai Husni dan Kiai Arif. Dia melihat perbedaan drastis dari pada saat-saat sebelumnya di tempat untuk merenungi kematian itu. Biasanya di situ selalu dipenuhi peziarah dari santri sendiri maupun dari luar.  Tapi kali ini tidak. Tak ada seorangpun yang datang untuk sekedar satu ayat sucipun untuk dipersembahkan buat kedua orang yang telah rela mempertaruhkan nyawa demi bangsa.

Dia tambah kaget ketika di pintu pesarean terdapat tulisan ‘DILARANG BERZIARAH DI KUBURAN INI. BID’AH.”

“Ini pasti ulah Maimun!” gumam Kiai dalam hati. Kali ini kekecewaannya benar-benar mencapai titik didih paling klimaksnya. Ini sudah sangat keterlaluan. Dia langsung menuju kediaman Ra Maimun. Dia ingin memarahinya habis-habisan. Tingkahnya tidak boleh dibiarkan begitu saja. Pikirannya yang telah teracuni oleh dunia luar tak boleh terus-terusan ikut meracuni suasana pondok. 

Sayangnya api kemarahan itu tak bisa diledakkan, ketika Ra Maimun menyambutnya dengan penuh keramahan. Hati tuanya mudah luluh ketika melihat senyum sang cucu. Dia hanya kuasa bertanya dengan lemah. 

Pesarean itu kenapa ditutup?”

Ra Maimun menatap lekat wajah kakeknya yang renta itu. Sambil melepas senyum, dia menjawab, 

“Demi kebaikan santri dan masyarakat.”

Kiai berkumis itu mengerutkan dahi, mendengar jawaban cucunya yang penuh teka-teki itu. 

“Sekarang sudah saatnya bagi masyarakat dan santri belajar dewasa dalam beragama. Bid’ah yang selama ini mengotori agama kita tak boleh terus-menerus terjadi, mbah!”

Hati Kiai Siddiq bagai disambar halilintar. Dia tercengang. Dia makin tak tau menyikapi pemikiran cucunya yang makin sulit dibendung. Tanpa kata-kata lagi, dia meninggalkan Kiai muda itu. Dia memilih menyendiri dalam rumahnya. Merenungi hilangnya beberapa lambang sejarah di pondoknya. Dia mulai mereka-reka denagan penuh kekhawatiran tentang keadaan masyarakat dan santrinya kelak.

Ra Maimun tak mau tahu perasaan kakeknya. Yang tergambar dalam pikirannya adalah perubahan dan pembaharuan dalam versinya sendiri. Yang menggebu-gebu dalam hatinya hanyalah terbentuknya sejarah baru yang dimulai oleh dirinya. Walau harus melenyapkan sejarah lama yang telah dibangun oleh para pendahulunya. Yah, kali ini dia merasa sebagai pemenang sejati yang pemiklirannya tak terhalangi oleh siapapun. Namun dia lupa bahwa kebesaran sebuah sejarah adalah yang tak terputus dari kesinambungan sejarah sebelumnya.

***

Malam menutup senja. Kiai Siddiq menyaksikan aktivitas para santri dari mulut jendela kamarnya yang terbuka. Dia tak lagi mendengarkan lantunan maulid nabi dari suara mereka seperti saat-saat sebelumnya. Ternyata Ra Maimun kini benar-benar menghapus jadwal pesantren yang telah berlaku sebelumnya. 

Lalu Kiai Siddiq memandangi bendera tua yang tertempel di dinding kamarnya. Tiba-tiba air matanya menetes, manakala ingat tentang darah dan nyawa yang harus tumpah untuk membangun pesantren tercintanya. Kini bekas-bekas sejarah itu sudah mulai terarsir oleh pemikiran baru sang cucu yang dibawa dari luar negeri. Dia terbayang bagaimana dengan cucu-cucunya yang lain di luar negeri sana. Masihkah pikiran mereka bertahan dalam jati diri yang telah terbangun bertahun-tahun di negeri tercinta ?

~Karya: Muhaimin El Lawi

__Terbit pada
3 Desember 2021
__Kategori
Cerpen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.