Cinta Terlarang

Matahari mulai memancarkan sinarnya, mebuat pagi sejuk dihiasi dengan tetesan embun di dedaunan. Seorang laki-laki yang sangat ceria menyambut pagi dengan aktifitasnya dengan lari pagi bersama teman-temannya, sesaat ditengah asyik-asyik jalan terdengar suara motor. Ternyata sebuah motor vario putih yang dikendarai oleh putri seorang KH. Husni yang kini akrab dengan sapaan Ulfa Maria Husni. Namun, kebanyakan temannya memanggilnya dengan Neng Ul. Dia melaju dengan sepedanya.

Wajahnya yang cantik dibalut dengan jilbabnya berwarna merah, baru terasa dengan paras kecantikannya, tapi perasaan yang sangat kecil karena dia berdarah biru sedangkan aku hanya orang biasa yang tak kenal terhadap ilmu agama. Apalagi sekolah di perguruan tinggi hingga punya pangkat S2. Beda dengan Neng Ulfa yang sudah menyelesaikan S2-nya di Kairo, Mesir.

Hari pun mulai menyinarkan senyumannya yang tajam, ternyata waktu sudah menunjukkan jam 10:00. Laki-laki itu pun harus segara pulang bersama teman-temannya. Setelah sampai dirumah laki-laki itu langsung pergi ke Ladang yang begitu jauh dengan rumah untuk membantu ibunya di sana. Sesampai di lading, dimana ibunya bekerja, ia langsung membantunya, hingga matahari memalingkan tubuhnya sedikit demi sedikit diujung gunung di sebelah ladang yang jaraknya sekitar 300 meter dari ladang itu. 

Sambil membawa tiga batang jagung yang ia ambil dari ladang bersama ibunya tadi, ia merasakan kecantikan sosok Neng Ulfa yang tadi tak sengaja bejumpa di jalan ketika lari pagi sama teman-temannya.

“Nak!!” 

“Nak!!” panggil sang ibu.

“Iya buk. Ada apa? “ jawab laki-laki itu kepada ibunya

“Kok dari tadi senyum-senyum sendiri Nak! memangnya ada apa?”

“Enggak bu, gak ada apa-apa.”

“Beneran …!!!”

“Gak ada apa-apa kok. bener!!!”

READ  Kesunyian

“Gak ada apa-apa dari tadi senyum terus mulai dari Ladang.” 

Tanpa terasa laki-laki dan ibunya itu sampai dirumahnya. Ia pun pergi kekamar mandi untuk menghilangkan bau yang menyengat di tubuhnya. Setelah selesai mandi ia pun menuju ke dapur untuk mencari makanan yang dapat mengganjal perutnya yang mulai tadi udah keroncongan. Setelah itu dia menuju ke kamar untuk menghilangkan rasa lelah yang kini telah menyenguasai tubuhnya.

“Gak tidur nak?” sedikit suara ibu dari luar pintu 

“O….ibu. Aku gak bisa tidur,” jawab laki-laki itu pada ibunya.

“Emangnya mikirin apa si nak? Kok sampek gak bisa tidur.”

“Enggak Buk. Beneran gak ada yang aku pikirin Kok,” sahutnya. 

Sang ibu semakin curiga sama sikap anaknya itu.

“Ayo lah nak, jangan menyimpan sesuatu yang membuat ibumu ini bingung, mungkin kamu punya masalah sama teman-teman mu? sampaikan saja nak!” perintah sang ibu. 

Sang anak-pun menjelaskan pada ibunya bahwa ia menyukai terhadap sosok perumpuan cantik yang kemarin pagi ia tidak sengaja bertemu denganya, yang mana perempuan itu merupakan putri seorang kiai yang sangat disegani oleh masyarakat di desanya itu. Ibunya pun mengatakan.

“Nak..!!! bukan nya ibumu ini  melarang mu untuk mendapatkan perempuan itu, hanya saja perempuan itu tidak pantas untukmu sebab dia anaknya seorang kiai, sedangkan kamu hanya anaknya seorang petani yang saat ini hanya mengandalkan Keringatnya untuk mendapatkan apa yang bisa dimakan.”

__Terbit pada
20 November 2021
__Kategori
Cerpen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kesunyian

Kesunyian

1 minggu  yang lalu
Seni Mengarang Cerpen

Seni Mengarang Cerpen

1 minggu  yang lalu
Kita Sedang Menulis Cerpen!

Kita Sedang Menulis Cerpen!

1 minggu  yang lalu
Kegelapan

Kegelapan

1 minggu  yang lalu
Cinta Terlarang

Cinta Terlarang

1 minggu  yang lalu