Doa Bidadari

Matahari telah bersembunyi jauh di peraduannya, meninggalkan Insan sejagat dengan mimpi mereka masing-masing, menyisakan suasana sejuk khas atmosfer tahajud yang sangat elok dan pastinya tak pernah gagal membangunkan ayam dari rampaian bunga malam, membuatnya berkokok yang terkumandang dzikir ilahi. Seakan Malaikat, desiran angin AC menghapus kantukmu dengan sigap, mengusir para setan yang meniupkan hawa tidur dan membuat kesadaranmu pulih lagi beriringan dengan rentangan lebar tanganmu.

Alhamdulillah, kali ini Engkau izinkan aku ‘tuk bangun lebih awal dari bidadariku, Ya Allah”. Getaran hatimu berujar sembari menatap lekat perempuan cantik berdarah Jawa yang selalu menemani tidur dan jaga-mu. Tak pernah berkurang sedikitpun kecantikannya, bibir merah tipis yang selalu tersenyum manja ketika kau menatapnya diam-diam, iris mata kecoklatan dan berhiaskan bulu mata lentik yang sanggup yang mirip dengan foto yang ada di portal Angela Dini, blog tentang perempuan, menyihirmu tersedak saat minum sambil menatap mata indah khas wanita Jawa-nya, selalu membuatmu beranggapan bahwa kamu adalah laki-laki terberuntung se-alam raya.

“Memang benar kata orang, zona tercantik bagi seorang perempuan adalah ketika ia tertidur”. Gombal gurau receh disusul lingkar pelukan tanganmu mengitari punggungnya, mendekapnya penuh kasih sayang, menyentuhkan keningmu ke rambut poni-nya yang sehalus sutra sembari menyunggingkan simpul senyum pahit mengingat kau pernah melakukan dosa pada bidadarimu yang sekilas mirip Chelsea Islan ini.

***

“Tapi ma, aku enggak kenal sama dia! Lagian aku juga bisa cari calon istri untuk diriku sendiri, untuk masa depanku!” Geraman pada ibu kandungmu saat kamu tahu untuk pertama kali bahwa kamu akan dijodohkan, hak yang didapat lelaki bujang lain tidak akan kamu dapatkan. Sejak lahir, hanya ibumu-lah yang rela bekerja banting tulang untukmu seorang, hingga kamu dapat merasakan manisnya perjuangan itu untuk saat ini. Ayah mu? Jangankan mentilwahkan al-Fatihah untuknya, mengingat mendiangnya pun kamu tak pernah. Dasar durhaka!

“Iya nak, tapi mama memilih dia untuk kamu peristri bukan tanpa alasan. Dia adalah satu-satunya perempuan yang mama rasa bisa menemani hidup kamu, dia-lah perempuan bijak yang bisa membimbing anak-anak kamu nanti dan men-support karir kamu, karena perempuan itu alumni pesantren, nak”. Parau suara ibumu tak membuatmu gentar se-dzarrahpun.

READ  Surat

“Nah! Itu dia ma! Aku enggak mau punya istri orang pesantren! Mereka itu kolot, norak, kampungan, pasti bikin malu kalau diajak kondangan!” Sinis kata-katamu tak terbendung lagi.

“Cukup, nak! Kamu sudah kelewatan! pokoknya mama gak mau tau, uhuk.. uhuk huk…” Batuk ibumu yang teraliri darah mampu membuatmu luluh mematung, tanpa perintah, kamu sigap membopong ibumu yang renta itu, membaringkannya di permadani, seraya menatap sendu. Kamu-pun mulai hanyut dalam tangis dan mencoba ‘tuk berpikir lagi dan lagi tentang perjodohan ini. Ibumu yang semakin menua menjadi prioritasmu, tapi itu tidak semerta-merta dapat membuatmu jatuh hati pada calon istri pilihan ibu. Lagi pula, apa salahnya menikahi dia? Kamu bisa saja memperbudaknya mengurusi rumah real estate-mu dan memilih berfoya ria dengan banyak gadis diluaran sana. Ya, kan?

***

“Sah!”. Gelora kembang kebahagiaan keluarga besarmu nampak tak terbendung lagi. Bagaimana tidak? Kamu adalah putra tunggal dari seorang kaya yang sudah bukan rahasia lagi kalau kamu sangat dimanja pujakan. Ijab qabul yang terulang berkali-kali karena ketidak seriusanmu tidak menyurutkan rasa suka mereka. Pun, keluarga besar mempelai perempuan, tak habis-habis syukur dimunajatkan oleh semuanya, senyum sumringah dimana-mana, semua berpesta merayakan hari bersatunya dua hati, kamu dan dia, Riska Aulia Ramadhita. 

Bukan nama itu yang kamu impikan menjadi teman hidupmu, bukan nama itu yang kamu khayalkan setiap sejenak sebelum lelap tidurmu. Perjodohan yang terjadi antara kamu dan dia tidak pernah terjadi atas kehendak niatanmu. Semua wanita cantik yang kamu bawa kerumah dan kamu perkenalkan ke Ibumu tak ada yang menggugah restunya. Rasa tidak ingin menyakiti orang tua-lah yang menjadi bekal sabab berdirimu di pelaminan yang mewah megah ini. Menyesal tiada guna marah-pun pada siapa? Setidaknya yang kamu pikirkan hanyalah bagaimana sekiranya dia merasa tidak betah di rumah megah mu, merasa tidak nyaman menginjakkan kaki mulus nan lembutnya di istanamu. Sehingga ia pergi sendiri tanpa perlu kamu usir dan sindir.

“Mas, lebih suka kopi, susu atau teh? Biar adek buatkan sebelum mas berangkat kerja”. Lihat? Sudah seminggu sejak pernikahan mu dirayakan. Dan sejak itu pula kamu tak menggubrisnya sama sekali. Sentuhan yang harusnya kau berikan, tak pernah kau tunaikan. Tapi ia tetap memberikan perhatian penuh padamu. Jam berangkat dan pulang kerjamu sangat berjarak, lama ia menanti kepulanganmu tapi dia tetap menyambutmu dengan penuh kasih sayang menutup keletihannya mengurus rumah besarmu, berhiaskan senyum manisnya, ditambah lesung pipi yang semakin membuatnya imut menggoda dan tetap saja bagimu itu hanyalah hal biasa. Karena anggapmu, tak ada cinta yang dari mata turun ke hati. Dan juga karena tanpa adanya cinta, teh pun akan jadi asin, kata orang. 

READ  Seni Mengarang Cerpen

Seiring berjalannya waktu, tangisan istrimu selalu menjadi iringan tidur di tiap malammu. Pukulan dan cemoohan mulai berani kamu berikan padanya. “Minuman apa ini! Kamu mau meracuniku ya? Dasar istri kurang ajar!”. Entah berapa tamparan yang sudah kamu layangkan pada pipi meronanya. tanpa balasan dan tanpa kata, ia berlari ke kamarnya dengan sesenggukan menahan tangis karena dia tidak mau kamu melihatnya sebagai perempuan cengeng nan lemah seperti yang sering kamu bentakkan padanya. Merasa bersalah? Tidak! Seakan manusia tak berperasaan, kebejatanmu tak pernah berhenti sampai disitu. Tiada hari tanpa hantaman dan hinaan. Tapi itu semua tak mengurangi sedikitpun perhatian yang istrimu berikan. Tak pernah bosan dia menunggumu kembali pulang di sofa ruang tamu sambil membaca selembar dua lembar ayat suci al-Qur’an.

“Riska! Buka pintunya, cepat!” tergopoh istrimu membukakan pintu, menghapus air mata yang sedari tadi terkucur di pipi tirusnya, memikirkan prahara rumah tangga yang semakin menjadi-jadi sepertinya. Ia kembangkan senyum terindah sebagai sambutan. Namun, seakan tersambar petir, tertahan nafasnya melihatmu membawa wanita lain. “Siapkan kamarku! Sekarang!”. Bukannya tak mau menuruti perintahmu, cobaan ini memang terlalu menyakitkan bagi hati wanita manapun. Pengkhianatan, sakit yang ditimbulkan akan abadi bersemayam di relung hati.

“Biadab! Aku menyuruhmu beresin kamar, bukan malah nangis disini!”. Tetap saja, istrimu tidak akan kuat menghadapi ini. Sekedar mendongak untuk melihat wajah penuh amarahmu saja dia tak berani.

Benci yang sudah mendarah daging karena kamu anggap istrimu adalah perusak hidupmu, tak terbendung lagi. Entah apa yang ada dipikiranmu, kamu keluarkan pistol yang sedari tadi menggantung rapi di saku kananmu hasil dari selundupan pasar gelap yang kamu beli beberapa hari yang lalu.

READ  Kegelapan

“Kurang ajar! Matilah kau, istri durhaka!”

***

“Mas? Jam berapa nih?” suara serak khas bangun tidur bidadarimu menyadarkan flashback masa lalu kelam yang kamu lalui bersamanya.

“Eh, udah bangun?” kejutmu sesaat saat tahu ternyata yang ada dipikiran telah hadir tersadar dihadapan. “Masih jam tiga, sayang. Kenapa?” Jawabmu sekenanya sehabis melirik arloji bermerk hype yang hanya diproduksi lima item di dunia, hadiah ulang tahun dari istrimu tercinta.

Tanpa jawab, tangan lembut ibu dari anak-anakmu ini menggapai jemarimu, menariknya, dan menempelkan punggung tanganmu ke pipinya yang halus merona sedang matanya terpejam merasakan kehangatan yang seharusnya dari dulu ia dapatkan. Kamu tidak pernah tahu apa kenapa sebab kamu bisa berubah drastis seperti saat ini. Marahmu tersulap jadi cinta, bencimu tersihir jadi sayang. Tapi yang pasti, saat pertama kali kamu mengajak doi ngedate di salah satu cafe instagramable di ruas jalan malioboro, saat pertama kali kamu tak kuasa palingkan mata darinya. Dia berujar, 

“Mas, tahu enggak sih? Setiap salat lima waktu-ku, tahajud-ku, witir-ku, pokoknya di semua salat yang aku tunaikan, gak pernah lepas dari namamu, mas. Aku mau mas menjadi sepertiku, iya, aku yang selalu sabar menghadapi kekuranganmu dan mencoba menutupinya semampu yang aku bisa, aku yang selalu merindukanmu, aku yang selalu tak bisa tidur sebelum aku melihatmu terpulas dalam tidurmu, aku yang selalu mencintaimu bukan karena rupa apalagi hartamu, aku yang mencintaimu tulus dan ikhlas semata karena Allah”. Termenung kamu dibuatnya, tak kuasa menahan tangis dipelukannya, kamu keluarkan semua egomu, membuangnya jauh dan belajar mencintainya sebagaimana dia mencintaimu, ikhlas lillahi ta’ala tanpa harap lebih. Karena segala sesuatu, apapun itu, ketika didasari ikhlas dan berbekal lillah maka akan terasa mudah. Bahkan dapat membuat kita tergugah untuk menikmati dan candu didalamnya.

“Akhlak dan pribadi-mu yang seperti malaikat-lah yang telah membuat mereka luluh mengaminkan setiap doa’mu, istriku”. Batinmu takjub. 

Apa lagi? Rindu? Jangankan bertahun-tahun, saat ini, sehari saja tak bercanda tawa dengan nya-pun telah membuat mu panas dingin tak ketulungan. Lebay? Tidak menurutmu, karena dengan cinta, air laut pun bisa menjadi manis di lidah, kata orang..

__Terbit pada
5 Februari 2022
__Kategori
Cerpen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.