Dunia Pesantren

Dulu ketika saya belum memasuki pesantren, gambaran saya tentang pesantren “Dunia pesantren adalah dimana orang-orang sibuk dengan mengaji, belajar, juga dengan shalawatan”. Namun saat saya menginjakan kaki di pesantren, bukan hanya itu yang saya temui,namun lebih dari itu.Ternyata pesantren menyuguhkan banyak hal yang tidak saya duga, walaupun jamuan itu sebenarnya bukan dari tuan rumah tapi dari para tamu.

Saat saya berada di pesantren, saya temui santri dengan beragam karakter. Ada yang asyik dengan kesunyiannya, ada juga yang suka membuat bising tetangga sekitar. Di sini mereka berdampingan dan belajar bagaimana cara bermasyarakat dengan baik. “Ada yang bilang pesantren adalah miniatur saat kita pulang nanti”, Maksutnya bagaimana?, Di pesantren seseorang berusaha tampil dengan dirinya yang sebenarnya kalaupun di pesantren seorang santri banyak belajar menolong orang lain, sehingga ia banyak memberi kemanfaatan bagi orang lain. Maka dari itu ketika ia sudah menjalani rutinas menjalani hala-hal baik maka hal-baik itu akan terus menemaninya samapai ia pulang. Sehingga masyarakat sekitar bisa menilainya dari apa-apa yang ia tunjukan pada masyarakat.

Ada seorang alumni yang terkenal dengan masakanya. Namanya  Pak Sholeh. Ketika di pesantren Pak Sholeh berkhidmah di kantin sebagai koki. Kebiasaan inilah yang menjadi rutinatas Pak sholih ketika di pesantren namaun bukan berarti Ia sibuk memasak dan melupakan belajar adakalanya jika ada waktu kosong peralatan dapur di taruh dan kitab di buka.

Al-hasil ketika Pak Sholih Boyong Ia mendirikan sebuah warung makan yang terletak di kecamatan Pandaan yang terkenal dengan sebutan” Rumah makan Pak Sholeh”.Sebuah bakat yang bermanfaat yang bisa di jadikan ladang mencari rizqi di rumah.

READ  Seni Mengarang Cerpen

Saya teringat dawuhnya kiai “Pesantren iku engghene belajar. “ (Pesantren itu tempatnya belajar.) Pesan yang singkat yang beliau sampaikan ternyata mengandung makna yang yang luas yang dimaksud beliau pesantren tempat belajar adalah terserah seorang santri ingin belajar apa, baik sesuatu itu bermanfaat ataupun tidak bermanfaat. Ketika seorang santri belajar tawhadu’ berarti pesantren menjadi tempat baginya untuk tawadhu’. Namun jika seorang santri belajar Nakal maka pesantren menjadi tempat baginya untuk menjadi nakal.

Dulu ada seorang santri yang setiap harinya merokok DJI SAMSOE di waktu itu rokok tersebut rokoknya orang –orang kaya, santri tersebut selalu berusaha untuk merokok DJI SAMSOE walaupun ia sendiri bukan dari kalangan orang kaya dan kadang ia kurang-kurang makan hanya untuk merokok DJI SAMSOE. Alasan santri tersebut sederhana ”Pesantrenkan tempatnya balajar jadi saya ingin belajar kaya di pesantren biar kalau pulang saya nanti kaya”. Ternyata apa diyakini santri tersebut menjadi kenyataan. Ia di ambil menantu oleh orang kaya, akhirnya Ia juga kaya.

Untuk kawan-kawan santri yang ingin kaya anda tidak harus merokok DJI SAMSOE, Ada banyak jalan yang bisa anda tempuh dengan rajin bersedekah tidak meminta-minta pada orang lain juga hal-hal baik yang lain. Namun, kesuksesan ini bukan didapatkan dengna cara instan. Meski ia diambil menantu orang kaya, ia enjadikan itu sebagai jalan membuka bisnis baru. Ia melakukan perencanaan super ketat dengan cara memakai Jasa pembuatan studi kelayakan. Karena menurutnya, dengan Jasa studi kelayakan, perusahaan yang ia rintis akan menjadi besar.

Tempo dulu ada juga seorang santri yang biasa dipanggil Masruhin beliau sendiri ketika berada di pesantren menekuni ilmu Fiqih setiap hari dan di setiap waktu yang selalu beliau kaji adalah pelbagai ilmu Fiqih. Kesukaan kitab yang beliau  kaji adalah “Qolyubi wa Uamairoh”atau yang akarab di sebut ” Hasyiyatani”. Karena di pondok beliau suka mengkaji ilmu Fiqih akhirnya ketika pulangpun beliau mengkaji Fiqih dengan memberikan bimbingan pada masyarakat sekitar. Pesan beliau pada santrinya “Intine ilmu iku onok de’ Fiqih me Fiqih ne wes kenhe’ seng liyo engkho’ melho’ “(intinya keilmuan itu ada di Fiqih kalau fiqihnya sudah kamu dapatkan maka yang lain akan ikut). Memang  walaupun beliau Alim Fiqih bukan hanya fiqih yang beliau kuasai, beliau juga menguasai ilmu tabib. malahan orang sekitar lebih mengenal sebagai ahli pengobatan dari pada ahli fiqih.

READ  Kesunyian

Setelah itu, apakah yang ingin  kita dapatkan dari pesantren dan bagaimana cara kita mendapatkanya. Pesantren sebagai Toko yang menyediakan sebagai kebutuhan. Anda boleh berbelanja apa saja di pesantren asalkan anda tahu ingin menukarnya dengan apa.

“Atas apa-apa yang diberikan oleh pesantren, apa yang bisa kita berikan pada pesantren?”

__Terbit pada
20 Desember 2021
__Kategori
Cerpen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.