ENK

Sebuah nama yang baru aku kenal, diam-diam menelusuk ke lubuk hatiku dalam-dalam. Pikiranku hanya bertumpu pada satu nama, yaitu namanya. Nama perempuan yang menumbuhkan beribu-ribu bunga di hatiku dan memperdalam lesung di kedua pipiku. perempuan yang jarang aku jumpai wajahnya, hanya sebuah nama yang itu pun tak henti-henti kueja.

***

“Riski!” Aku berteriak di depan gawang, dengan tangan terangkat meraba awan. Riski yang tengah menggiring bola dari arah kiri, spontan memberikan bola kepadaku dengan umpan lambung dan tinggi. Tanpa pikir panjang ku hentakkan kaki ke atas tanah yang menggersang, melompat terbang dan mengeksekusinya dengan tendangan yang meroketkan bola ke pojok kanan bagian atas gawang, hingga tercetak gol yang menjadikan kedudukan imbang.

Ya, beginilah aktivitasku di pagi hari, semenjak berhasil menyelesaikan jenjang pendidikan tertinggi dan mengabdi pada salah satu keluarga di pesantren ini. Tahun ini aku sengaja menjadi abdi, karena mungkin sekarang adalah tahun terakhirku untuk menghirup udara di sini. Sebenarnya aku masih ingin lebih lama lagi, tapi apa boleh buat, kalau sudah abi yang mengamarkan. Lagipula di sana juga banyak tanggungan menanti. Khususunya Pesantren at-Tamimi, pesantren yang didirikan buyutku 1955 Masehi.

Terik matahari tak lagi bersahabat, yang tadinya hangat kini perlahan mulai menyengat, memanggang punggung bumi yang kami pijak. permainan pun terpaksa kami hentikan, meskipun score masih dua imbang, tanpa ada yang kalah atau pun menang.

“Saya duluan, Kawan,” pamitku pada mereka yang tengah menyelonjorkan kaki di atas tanah gersang, yang di tumbuhi sedikit rumput kering berwarna kekuning-kuningan.

“Tunggu, Rus.” Riski berdiri dan membersihkan debu di sarungnya.

“Saya duluan juga, kawan. Assalamu’alaikum,” lanjutnya

“Waalaikumsalam, hati-hati di jalan,” jawab mereka yang kemudian kami balas dengan senyuman.

Hari ini, aku dan Riski –teman   karib yang mengabdi di satu dalem denganku— pulang    lebih awal, karena ada amanah dari dalem yang harus kami laksanakan. Kami pulang lewat jalan biasa, ditemani pepohonan di pinggir jalan yang rapi tertata. mengobrol santai, sambil menikmati suasana pesantren yang masih bebas dari polusi di luar sana. 

***

Tanpa sengaja, tatapan mataku tertuju pada seorang perempuan yang baru saja keluar dari balik pintu dalem. Dengan balutan jilbab putih di kepalanya, sangat cocok dengan paras cantik yang tak ubahnya mutiara. Alis bulan sabit dan mata bulan purnamanya. Astaghfirullah, entah kenapa mata ini tak mau berkompromi, bahkan hanya untuk memalingkan pandangan rasanya sangat sulit sekali. Apa mungkin dia bidadari, Dan yang bisa melihatnya hanya aku sendiri? Ataukah dia baru selesai dari D’She d’beauty Aesthetic, klinik kecantikan Bogor?

“Rus.” Riski menjentikkan jari tepat di depan mata, dan membuatku tersadar dari lamunan.

“Apa yang kamu lihat?”

“Tidak, saya tidak lihat apa-apa,” jawabku, sambil kembali membersihkan rumput di depan dalem dengan menggunakan kored yang tak begitu tajam.

“Sudahlah, Rus. tak perlu berkilah, saya lihat sendiri kamu barusan menetap Enk, ‘kan?”

“Enk siapa?”

“perempuan itu Enk, idola di asrama putri. Selain cantik, dia juga pintar dan baik.”

“Apa benar namanya Enk?”

“Kalau nama aslinya saya kurang tahu, tapi yang pasti dia akrab disapa Enk.” Aku hanya menganggukkan kepala dengan sedikit senyum di muka. 

“Ehem, Mulai kepo nih.” Riski cengengesan.

“Siapa yang kepo. Sudah, jangan ngomongin itu terus, lanjut kerja biar cepat selesai.”    

***

Malam ini tak jauh beda dengan malam-malam yang sudah lalu. bulan di langit masih satu. pun bintang, jumlahnya masih beribu-ribu. Namun, seakan ada yang berbeda dariku, entah apa itu. Yang pasti, ini kali pertama dalam hidupku.

Di kamar kecil dengan dua lemari kayu kecil ini. Hanya ada aku yang tengah merebahkan diri, dengan kedua telapak tangan sebagai bantal pengganti. Juga Riski yang tengah tenggelam dalam asyiknya lembaran-lembaran novel Muhammad, hasil pinjamannya dari perpus tadi. ditemani secangkir kopi kapal api yang asapnya masih mengepul tinggi.

Hatiku berdebar bahagia dengan kencangnya, seakan tumbuh di dalamnya beribu-ribu bunga yang tak pernah ku tanam sebelumnya. Seuntai senyum tiba-tiba terukir di antara dua lesung pipiku, padahal hanya langit-langit kamar berwarna biru yang memenuhi penglihatan kedua bola mataku. Jiwaku didera rindu yang menggebu, pada seorang perempuan yang nama aslinya saja aku tak tahu.

Enk, nama ini tak henti-henti kueja. Entah sebab apa, barang kali karna paras bak mutiara yang baru diangkis dari dasar samudra, atau alis melengkung bak bulan sabit dan mata bersinar bak bulan purnama.

READ  Doa Bidadari

“Ehem, Lagi mikirin dia, ya?”

“Apa untungnya saya mikirin dia Ris.”

“الهوى اظهر من ان يخفى واخفى من ان يرى

Cinta terlalu terang untuk disembunyikan—”

“Dan terlalu samar untuk diperlihatkan.” Potongku. Riski tersenyum tipis lalu menyeruput kopi kapal api yang menemaninya.

“Kalau kamu mau mengirim surat kepada Enk, bilang ke saya.” Tawar Riski. sebelum kemudian kembali tenggelam dalam lembaran-lembaran novelnya.

“Kalau memang bisa, kenapa tidak kamu saja yang mengirim surat kepadanya?” Tukasku tak percaya.

“Saya tahu diri Rus. Dia cantik, pintar dan baik. Sedangkan saya? Kalau  kamu kan—”

“Sudah Ris,” potongku. Aku tahu apa kelanjutannya, ia pasti akan memujiku dan aku tak suka hal itu. 

Entah tawaran ini harus ku jawab dengan apa, aku tak pernah berurusan dengan perempuan sebelumnya, apalagi masalah cinta.

“bagaimana? Kalau tidak, saya tidak memaksa?” 

“Iya, insyaallah besok saya berikan ke kamu suratnya,” jawabku sembari memiringkan badan ke arah kanan, membaca doa dan mulai memejamkan mata.

*** 

Dingin angin malam bertiup semakin kencang. memasuki celah-celah kamar dan merasuk ke dalam tubuh seakan membekukan tulang. Tarian daun di ranting pepohonan, menghasilkan suara yang sesekali menggelitik gendang pendengaran. Membongkar alam mimpi, yang sedari tadi aku jelajahi. “Ketika kau terbangun dari mimpimu, maka kau punya dua pilihan. Melanjutkan atau mewujudkannya menjadi kenyataan.” Pesan abi inilah yang selalu terngiang di pikiran, setiap kali aku terbangun di sepertiga malam.

Aku membuka mata lebar-lebar, agar tak kembali tenggelam dalam kenikmatan malam. Ku paksa tubuhku untuk berdiri dan membawanya ke luar kamar, untuk sekadar mengambil wudhu di jeding yang hanya diterangi satu damar, Dengan tangan memeluk badan, karena tak kuat menahan dinginnya angin malam.

Setibanya kembali di kamar, dengan tangan yang masih setia memeluk badan, Aku langsung mengambil dan memakai baju yang tergantung di balik pintu, meraih dan menghampar sajadah yang tergeletak di atas lemari kayu. Lantas mendirikan salat tahajud, witir dan istikharah di atasnya, menengadahkan kedua tangan, berdo’a dan meminta pendapat Tuhan tentang perempuan yang baru aku kenal.

***

“Sudah ada balasan, Ris?” Entah berapa kali sudah aku menanyakan ini pada riski, dan jawaban yang kuterima selalu sama, “Belum ada.” Pun istikharah yang aku dirikan setiap malam, belum sedikitpun menghasilkan titik terang.

Genap sudah seminggu dari waktu itu, saat aku melayangkan kepadanya selembar kertas biru. Berharap ada balasan yang juga ia layangkan kepadaku. Tapi kenapa sampai saat ini belum juga ada balasan? apa mungkin kertas biru itu tak pernah sampai? Ah, mustahil rasanya, aku kenal betul riski seperti apa. Ia tak permah main-main dalam berkata. Apa lagi kepadaku—teman  karibnya.

“Assalamualaikum.” Kedatangan Riski dari balik pintu kamar, membuat semua lamunanku buyar.

“Waalaikumsalam,” jawabku mengernyitkan dahi, terheran-heran melihat riski senyum-senyum sendiri.

“Sudah ada balasan, Rus,” ucapnya setelah duduk berhadapan denganku.

“Serius kamu? mana?”

“Begini Rus, saya menitipkan kertas itu kepada adik saya di asrama putri. Barusan saya ke sana dan katanya ‘Ustadzah Enk lebih suka kata qobiltu, daripada selembar kertas biru’.” Kata itu masuk melewati gendang telinga, diproses oleh otak, dipahami oleh hati dan membuat wajahku berseri-seri. Aku tak pernah menyangka akan mendapat jawaban seperti ini.

“Dan pesan Enk, kalau kamu serius. Kamu bisa bawa orangtuamu ke sini, guna melamar Enk pada kiai.”

“Saya masih menunggu jawaban ilahi.” Jawabku menyenyumi.

***

Di ufuk timur, aku lihat matahari yang baru saja menampakkan diri. Menebar senyum ke alam semesta, menyapa setelah semalam hilang entah kemana. Dengan warna khasnya dan bentuk bulat yang tak begitu jelas terlihat. Ya, bulat. Sama seperti tekadku pagi ini.      

اذا احببتم المراة من غير خير سبق منها اليكم فارجوها

 “Ketika kau mencintai seseorang bukan karna jasanya padamu, maka dialah orang yang benar-benar bisa kau harapkan.”

Aku yakin Enk adalah seseorang yang bisa aku harapkan. Ditambah jawaban dari Tuhan yang aku dapat semalam. Membuat tekadku semakin membulat untuk menyampaikan hal ini kepada abi, meminta beliau kesini dan melamar Enk pada kiai.

Sudah terbayang kebahagian abi di benakku, saat berjalan menuju KBU. Mengingat beliau sangat ingin agar saat aku berhenti nanti, aku sudah punya calon istri.

READ  Ukhti, Uhibbuki!

Ah, rupanya masih antri. Padahal aku sudah berangkat pagi sekali.  tak apalah, sambil mengantri, akan aku siapkan kata-kata yang akan aku sampaikan kepada abi.

“Asalamualaikum,” ucapku setelah saluran telepon tersambung dengan abi.

“Walaaikumsalam. Tepat sekali kamu menelepon sekarang, ada hal penting yang ingin Abi sampaikan.”

“Iya, Fairus juga.”

“Kamu sudah Abi jodohkan dengan Kamila, putri teman abi.” Jantungku seakan berhenti berdetak, semua tulang di tubuhku seakan retak. Hampir saja telepon dalam genggaman aku jatuhkan, tapi untungnya aku ingat kalau telepon ini bukan milikku.

“Dan seminggu lagi Abi akan ke sana, untuk mengizinkanmu berhenti.”

“Tapi, Bi… Fairus sudah punya pilihan sendiri untuk dijadikan calon istri. Fairus sudah terlanjur cinta padanya sejak pandangan pertama.”

“لا تفرح في اول ما ترى # فان الفجر اوله كا ذب

Jangan terlena pada pandangan pertama

Sebab fajar pertama adalah fajar kadzib—dusta”

“Fairus sudah istikharah dan hasilnya bagus.”

“Abi juga sudah istikharah dan hasilnya juga bagus.”

“Ya sudah, Bi. Kalau ini yang terbaik menurut Abi. Fairus anak Abi dan tidak mungkin melawan Abi.” Pungkasku tanpa salam. Lalu meletakkan gagang telepon ke tempat semula.

Ya, begitulah abi. kalau sudah berkehendak, harus terjadi. Tak ada yang bisa menghalangi, apalagi hanya aku–anaknya sendiri. Aku diam sebentar, menarik napas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan. Mungkin dengan ini hatiku bisa kembali menenang. Lantas keluar dari KBU dan pulang dengan pikiran yang jauh dari keadaan tenang.

“Bagaimana? Abi kamu mau kesini?” Tanya Riski, sesaat setelah aku menutup pintu kamar.

“Iya, seminggu lagi abi kesini. Tapi bukan untuk melamar Enk pada kiai.” Jawabku, dengan mata yang tak sedikitpun melempar pandangan padanya.

“Maksudnya?”

“Jangan sekarang.”

***

Seminggu berlalu. Dan benar, pagi ini abi ke sini untuk menjemputku. Mengizinkanku pada kiai untuk berhenti mengabdi dan mencari ilmu. Tarpaksa aku patuhi perintah abi, meski rasa kesal dan tidak rela membelukar di lubuk hati.

Siang menjelang sore hari, aku dan abi pulang dengan mobil Camry. Setelah sebelumnya berpamitan pada kiai, keluarga dalem dan guru-guru di sini. Menitipkan kertas biru dan menyampaikan beberapa hal kepada riski.

“Tolong cari informasi dan sampaikan ini.” Pesanku pada Riski, dengan tangan kanan menyerahkan kertas biru sebelum pergi tadi. persandinganku dengan Enk di atas singgasana cinta memang jauh dari kata pasti, tapi selama janur kuning belum melengkung  semua itu masih mungkin untuk terjadi.

***

“Abi sengaja mau membikin Fairus sakit jiwa?” ucapku sesaat setelah menutup pintu rumah.

“Abi kan tahu Fairus gak begitu suka perempuan bercadar?”

“Iya Abi tahu_”

“Terus kenapa Abi menjodohkan Fairus dengan Kamila yang ternyata adalah perempuan bercadar.”

“Abi tahu Kamila, dia bukan perempuan bercadar. Tadi dia pakai cadar karena dia tak ingin kamu tahu wajahnya. Sebelum kalian berdua halal.”

“Asal Abi bahagia, Fairus gak bisa lawan Abi. fairus hanya bisa menerima, meski sebenarnya hati fairus menyayangkan  semua ini.” Aku melangkahkan kaki dengan cepat menuju kamarku, mengunci pintu dan melemparkan tubuh ke atas kasur berwarna biru.

Untung saja otak di balik tempurung kepalaku ini ciptaan Tuhan. Kalau bukan, mungkin sudah hancur berantakan. Kenapa tidak ? belum genap sepuluh hari aku berada di sini, tapi abi sudah mengajakku ke rumah Kamila tadi pagi. Ya, Kamila calon istriku Yang ternyata adalah perempuan bercadar. Tak hanya itu saja. Di sana, abi dan orangtua Kamila menentukan tanggal pernikahan kami berdua, dengan tanggal yang tak membutuhkan kalender untuk menghitungnya. Ya, dua minggu lagi pernikahan kami akan terlaksana. Coba bayangkan, aku belum tau wajahnya, tapi dua minggu lagi aku akan bersanding dengannya.             Ah, otakku ingin meledak rasanya.

 Tangan kananku  meraih hp yang sedari tadi hanya diam di saku kemeja, menghidupkan daya, memasuki facebook dan mengetik ‘Enk’ di laman pencarian. Ai, bodohnya aku, padahal aku sudah tahu kalau tidak seorang pun pengguna fb yang memakai nama itu.

Ah, hatiku semakin tak menerima kedatangan kamila dalam hidupku, sedang rasa rinduku pada Enk semakin menggebu-gebu. Deru rindu di hati ini semakin menjadi, seakan meronta ingin segera berjumpa kekasih hati.  

شفاء القلوب لقاء المحبوب

READ  Guru

obat hati  adalah berjumpa kekasih hati””

Ya, nanti sore aku akan pergi ke pesantren. Aku yakin Riski sudah menyampaikan kertas biru itu dan Enk juga sudah melayangkan balasannya padaku, atau kalua tidak, barang kali ia sudah berhasil mencari informasi tentang Enk. Bahkan kalau beruntung, aku bisa berjumpa Enk di sana. Astaghfirullah, dia lagi dia lagi, tapi tak ada buruknya kalau itu semua itu terjadi.

***

“Assalamu’alaikum,” ucapku dengan tangan mengetuk pintu kamar Riski, tapi sepertinya tak ada seorang pun di dalam. Benar saja, saat aku membuka pintu kamar dan memasukkan kepala ke dalam, aku tak melihat seorang pun di sana. Mungkin Riski masih keluar. Ya sudah, aku akan menunggunya di dalam kamar. 

  Apa ini? kenapa kertas biru itu masih ada ? padahal aku sudah meminta Riski untuk sesegera mungkin menyampaikannya, apa mungkin Riski–

Jret… suara pintu kamar terbuka.

“Fairus, Kapan datang?”

“Apa ini, Ris?” Aku mengangkat kertas biru di tangan. “kenapa masih ada di sini? apa kau –”

“Dengarkan saya dulu, Rus.” Potong Riski.

“Sebelumnya saya minta maaf, karna tidak bisa memenuhi apa yang kamu minta, baik mencari informasi tentang Enk atau menyampaikan kertas biru itu kepadanya. Namun, ini semua bukan kesengajaan, tapi karna Enk berhenti dua hari setelah kamu berhenti.” 

Mendengarnya, urat di sekujur tubuhku seakan melemah, tak bisa berdiri apa lagi melangkah. kupaksa kaki melangkah perlahan menuju pintu kamar, duduk dan melayangkan tatapan kosong ke luar sana. Ah, musnah sudah semua harapanku untuk bersanding dengan Enk di singgasana cinta. 

“انما تجزع النساء عن فقد الهوى

hanya wanita yang merana karena cinta.”

“لو صح لذي الهوى اختيار لاختار ان لا يعشق

Seandainya orang yang jatuh cinta bisa memilih, maka pasti ia akan memilih untuk tidak jatuh cinta,” balasku lantas melangkahkan kaki, pergi meninggalkan Riski. Sepertinya aku harus melupakan Enk secepat mungkin, dan mencoba menerima hadirnya Kamila di hidupku sebagai pendamping.

***

Adly Fairus Ubbadi

&

Emeliya Nur Kamila

Ah, ingin rasanya aku merobek-robek kertas undangan ini.

Aku masih tak percaya, namaku bersanding dengan nama perempuan yang tak pernah kulihat wajahnya. Dan sebentar lagi, hanya tinggal menghitung jam, aku dan dia akan menjadi pasangan halal. 

Sudah berhari hari aku mencoba menghapus Enk dari lembaran ingatan. Namun, semua itu tak seperti yang aku bayangkan, tak semudah membalikan telapak tangan. Andai aku tahu di mana Enk berada, aku pasti akan membatalkan ini semua. Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Aku hanya bisa berdoa, semoga bubur ini tidak hambar—tak berasa. Semoga ada daging ayam, krupuk dan yang lain sebagai penikmat rasa.

***

“Silahkan.” Aku dipersilahkan masuk ke dalam kamar yang di dalamnya Kamila sudah menanti, setelah sebelumnya di giring menuju penghulu dan dua saksi, dengan langkah tak ubahnya seseorang yang dikawal algojo untuk menjalani hukuman mati.

Ah, cadar itu masih melekat di wajahnya, resah hatiku sesaat setelah menutup pintu yang tak lama aku buka. Meski hampir seluruh tubuhnya tertutup kain gamis anggun berwarna putih, dengan sedikit renda berwarna merah muda, kepalanya terbalut kerudung yang di bentuk sedemikian rupa, dengan warna tak beda jauh dengan gamisnya, tapi dari matanya aku tahu kalau dia tersenyum senang, seakan menertawakanku atas ini semua. Aku memalingkan pandangan darinya dan melangkahkan kaki perlahan, menyapu lantai yang di taburi bunga bermacam-macam, menyisirkan pandang ke dinding kamar yang dibalut kain putih, dengan sedikit hiasan biru—warna kesukaanku— dan merah muda—yang katanya warna kesukaan Kamila. 

Setelah sampai di ranjang, aku hanya duduk di samping Kamila, diam seribu Bahasa, tanpa sedikitpun melemparkan tatapan padanya. Semua ini memang indah, tapi tak cukup untuk sekedar menghibur hatiku yang gelisah. Bayang-bayang wajah Enk di benakku masih rapi tertata, padahal sudah berkali-kali aku mencoba membuangnya. Ah, aku masih tak percaya, aku duduk seranjang dengan Kamila.       

Tak ada suara, hanya detik jarum jam di atas pintu kamar yang sesekali merasuk kedalam gendang telinga. Suasana hening, sunyi, Tak ada di antara kami yang mengangkat suara, sebelum kemudian terpecahkan oleh suara Kamila “ini semua adalah jawaban atas surat yang tak pernah terbalaskan, Mas.” dengan tangan kanan menyodorkan kertas biru yang tak asing lagi di benakku.

__Terbit pada
8 Februari 2022
__Kategori
Cerpen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.