Gaya Gravitasi Bumi

Orang yang pertama kali menyatakan bahwa universalitas hukum alam adalah Abu Raihan al-Bairuni. Ia adalah seorang ilmuwan Muslim yang hidup pada abad ke-X yang mengatakan, bahwasanya fenomena gravitasi di bumi sama dengan di langit. Ia bahkan menyebutkan kemungkinan adanya orbit yang eliptik pada planet dalam komunikasinya dengan Ibnu Sina. Sejak itulah orang-orang mengetahui apa kendala yang mengekang planet-planet tata surya untuk bergerak mengitari matahari.

Dalam dasawarsa-dasawarsa pertama abad ini, para ahli fisika mempunyai konsep sesuai hasil observasi, bahwa langit atau ruang alam tak terbatas dan besarnya tidak terhingga. Dikarenakan mereka memiliki kecenderungan seperti itu, orang-orang berkesimpulan bahwa ruang alam tidak terbatas.

Pada tahun 1929, Hubble menggunakan teropong bintang terbesar di dunia untuk melihat galaksi-galaksi di sekeliling kita, yang menurut analisis spektrum cahayanya tampak menjauhi galaksi dengan kejauhan yang sebanding dengan jaraknya dari bumi. Kejadian ini merupakan pukulan terbesar bagi Einstein, karena observasi Hubble menunjukkan bahwa alam semesta ini tidak statis. Dengan kecewa ia menerima kekeliruan itu, karena observasi ini mendorong para ilmuwan untuk berkesimpulan bahwa alam yang kita huni mengembang. Bahkan volume alam jagat raya ini bertambah besar setiap saat.

Dari perhitungan mengenai perbandingan jarak dan kejauhan gerak masing-masing galaksi yang teramati, para fisikawan kosmolog menarik kesimpulan bahwa semua galaksi dalam jagat raya ini semula bersatu padu dengan galaksi Bimasakti. Kira-kira 15 milyar tahun yang lalu tercipta dari ketiadaan. Sebab fakta-fakta hasil observasi dari kesimpulan seperti itu tidak bisa disangkal. Kita juga dapat membandingkan konsep fisika tentang penciptaan alam itu dengan al-Quran yang dinyatakan dalam surah al-Anbiya ayat 30:

أولم ير الذين كفروا ان السموات والارض كانتا رتقا ففتقناهما

READ  Elegi #1

Dan tidakkah orang-orang kafir itu mengetahui bahwa langit (ruang alam) dan bumi (materi alam) itu dahulu sesuatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya itu.”

Manusia juga dapat menyaksikan keajaiban-keajaiban lain yang tidak pernah diduga sebelumnya. Sebagian astronot benar-benar telah sampai di bulan dan berjalan di atasnya sambil menancapkan bendera. Bahkan mereka membawa batu dan tanah dari bulan. Salah satunya adalah astronot Muslim berkebangsaan Arab, Sultan bin Salman bin Abdul Aziz, yang mengelilingi planet berulang kali. Selain itu astronot dari Amerika (USA) telah menurunkan pesawat di permukaan bulan. Semua tanda-tanda keajaiban alam semesta yang sedemikian mempesona ini tidak diketahui batas kawasannya, kecuali Sang Pencipta yang dijelaskan dalam ayat suci al-Quran:

والسماء بنيناها بأيد وإنا لموسعون

Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (QS. adz-Dzariyat: [51] 47)

Seorang kosmonot Uni Soviet yang mengelilingi bumi, Gagarin, mengatakan “Ketika saya berada di ketinggian puncak cakrawala dan mengelilingi bumi, keindahan semesta alam ini telah demikian mempesona, maka saya pun mulai mencari Tuhan.” Sesungguhnya pengakuan ini adalah suara fitrah yang muncul dari jiwa yang paling dalam untuk mengetuk pendengaran orang-orang yang lalai, yang mengingkari keberadaan Allah agar kembali kepada petunjuk, kemudian meyakini adanya Allah Yang Maha Kuasa atas alam ini.

Seorang astronot yang telah sampai ke bulan dan mengorbitkan di sekitar bulan mengarahkan kameranya ke permukaan bulan dan menayangkan gambar-gambar untuk masyarakat bumi. Kemudian ia berkata, “Sesungguhnya saya melihat horison bulan di sini, bagai sesuatu yang lancip, jelas, dan melengkung, dan langit berwarna hitam persis seperti warna aspal. Sedangkan matahari tampak putih bersinar di tengah-tengah kegelapan yang pekat ini. Dua lubang kawah gunung yang kelihatan seperti dua kawah gunung vulkanik, kawah Casper, dan kawah Gilbert.”

READ  Pengalamanku Memakai Live On

Seluruh alam terhampar dalam angkasa raya yang sangat luas dan tak ada seorang pun mengetahui batas-batas kawasannya, kecuali Sang Pencipta. Planet-planet, bintang-bintang, serta lintasan-lintasan benda langit lainnya beredar dan berotasi dalam gerakan yang berurutan dan teratur. Bintang yang satu tidak bertabrakan dengan bintang yang lain, dan tidak ada satupun planet yang keluar dari lintasan peredarannya.

Benda-benda langit selalu bersujud kepada Allah dan mensucikan-Nya dengan segala pujian, baik dengan tindakan maupun dengan ucapan. Semua itu merupakan bukti ketundukannya kepada Allah. Berikut sebagian dalil dengan uraiannya secara perinci, “Dan Dia-lah yang telah menciptakan siang dan malam, matahari dan bulan. Masing-masing itu beredar di dalam garis edarnya.” Ayat ini menunjukkan bahwa adanya gerak dan rotasi bumi, bagi orang-orang yang memperhatikannya dengan seksama nash-nash al-Quran yang mukjizat dengan cahaya ilmu dan pengamatan akan menemukan rahasia-rahasia al-Quran yang agung ini.

Melalui ayat-ayat tersebut Allah menjelaskan fenomena kekuasaan-Nya yang melingkup alam semesta dengan gaya bahasa (uslub) yang mengandung is’hab wa ithnab (eksposisi dan hiperbola). Allah memulai dari bumi yang kering kerontang, lalu diturunkan hujan sehingga tumbuh kehidupan di dalamnya, berupa pepohonan dan buah-buahan.

Dengan gaya pengungkapan uslub eksposisi ini, orang yang membaca al-Quran akan menganggap bahwa informasi tentang bumi telah berlalu dan usai. Padahal pembahasan ini saling terkait, serasi dari awal hingga akhir sampai datang masa terungkapnya kemukjizatan ilmiah oleh manusia. Al-Quran telah menginformasikan gerak dan rotasi bumi sejak dahulu.

Jarak antara langit dan bumi seimbang; matahari berotasi sedangkan bumi selalu mengitarinya dengan bentuk rotasi yang sangat teratur. Allah juga menciptakan daya tarik-menarik (gaya gravitasi) di antara bumi dan bulan, agar lautan tidak meluap di atas manusia, dan menenggelamkan serta memusnahkan mereka, sebagaimana Allah telah menciptakan dengan kekuasaan-Nya. Berbagai aturan yang akurat dan kokoh tentang udara, atmosfer pelindung (gas ozone).

READ  4 Destinasi Keindahan Nusa Penida

Setelah informasi di atas telah disebutkan, manusia harus mempertimbangkan kembali apakah sebenarnya yang dimaksud hukum alam. Ayat-ayat al-Quran memberikan penjelasan yang terang tentang hukum alam ini, bertentangan dengan apa yang umumnya diterima oleh pandangan materialistik, “Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman.” (an-Nahl:79)

__Terbit pada
5 Januari 2022
__Kategori
Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.