guru

Guru

Seorang guru kelas dua sekolah dasar menerangkan pelajaran sejarah pada murid-muridnya. Ketepatan yang diterangkan adalah sejarah masa kecil KH. Hasyim Asy’ari. Di tengah-tengah penerangan salah seorang siswa yang duduk di bangku depan mengangkat tangan.

“Guru! Apakah saat itu Kiai Hasyim umurnya sama sepertiku?” siswa itu bertanya pada gurunya dengan polosnya.

Guru itu mengangguk, lalu berkata, “beliau saat itu sepertimu, tapi beliau tidak bersekolah. Namun meskipun tidak bersekolah beliau tetap giat belajar. Iya, sama sepertimu yang giat belajar online. Ke mana-mana beliau selalu membawa pena untuk mencatat ilmu yang didapat.”

Siswa itu mengangguk seakan paham akan penjelasan gurunya. Namun ia kembali bertanya dengan pertanyaan lain. Sedang guru itu kembali melanjutkan keterangan.

“Guru! Apakah Kiai Hasyim suka bermain bola sepertiku?” tanya siswa itu lagi.

Guru itu tersenyum. Di hatinya sedikit timbul kejengkelan. Namun ia segera membunuhnya. Ia harus bersabar dalam meladeni anak-anak didiknya, karena ia adalah guru.

“Tidak! Beliau tidak bermain bola. Pada saat itu beliau terlampau haus akan ilmu, hingga beliau tidak pernah meluangkan waktunya selain untuk menuntut ilmu,” jelas guru itu.

Siswa itu kembali manggut-manggut. Namun baru saja guru itu melanjutkan keterangan, siswa itu kembali mengangkat tangannya untuk bertanya.

“Guru! Apakah Kiai Hasyim punya saudari sepertiku? Atau saudara? Berapakah jumlahnya? Dan Kiai Hasyim yang keberapa?” bertubi-tubi siswa itu melontarkan pertanyaan pada gurunya. Mungkin dia terlalu bersemangat untuk mendengar jawaban gurunya, hingga dia lupa untuk sekadar mengedipkan mata. Namun beda halnya dengan keadaan sang guru.

Guru itu menghela napas panjang. Hampir saja ia tak menghiraukan pertanyaan muridnya karena kesal. Namun ia merasa akan melanggar etika seorang guru jika sampai ia melakukannya.

READ  Sekolah Si Udin

“Feby! Semua tentang beliau akan ibu guru terangkan nanti. Jadi Feby harus diam dan memperhatikan keterangan dengan baik. Feby paham, kan?” ujar guru itu sambil memaniskan wajah, meski tampak sangat dipaksakan. Sedang siswa itu tersenyum lebar sambil mengangguk sekali. Kedua tangannya saling menumpang di atas meja. Menunjukkan kesemangatannya yang menggebu.

Guru itu kembali menerangkan pelajaran. Namun baru saja ia memulai keterangan, seorang siswa yang lain mengangkat tangan.

“Guru! Apakah aku boleh bertanya?” tanya siswa itu sambil menyeringai menunjukkan deretan giginya yang gigis. Mungkin itu adalah ekspresinya agar gurunya memperbolehkannya bertanya.

Guru itu menepuk wajahnya dengan tangan kanannya. Ia benar-benar telah jengkel. Ia ingin marah, tapi ia sadar bahwa ia seorang guru. Tak mungkin ia memarahi muridnya yang ingin bertanya. Bukankah bertanya itu memang keharusan bagi seorang murid. Terlebih bila ia benar-benar ingin mendapatkan kepuasan hati atas jawaban pertanyaannya. Murid yang semangat itu terlihat dari seringnya ia bertanya. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menumbuhkan pengetahuan-pengetahuan baru baginya.

“Guru! Boleh, ya?” mohon siswa itu pada gurunya dengan pandangan penuh harap.

Melihat kesungguhan muridnya, guru itu tak bisa melakukan apa-apa selain menganggukkan kepala perlahan. Lalu menghembuskan napas panjang yang mungkin telah lama ia hela.

“Guru! Apakah Kiai Hasyim suka nasi goreng? Kalau tidak, lalu apa makanan kesukaannya?” tanya siswa itu polos.

Guru itu mengembangkan kedua hidungnya. Matanya sedikit memerah dan dengan sedikit geram ia berujar, “Anak-anak! Beliau itu sangat suka makan apa saja. Bahkan nasi goreng pun beliau suka. Jadi karena itu beliau rajin belajar.”

“Lalu, apakah minuman kesukaannya?” tanya siswa itu lagi.

“Semua minuman beliau suka,” jawab guru itu singkat.

READ  Doa Bidadari

Semua siswa manggut-manggut seakan menemukan pengetahuan baru. Bibir mereka sedikit monyong dengan suara panjang, “oo . . .”

Guru itu menghela napas panjang dan setelah menghembuskannya ia melanjutkan keterangan pelajaran. Namun baru beberapa menit menerangkan, secara bersamaan dua orang siswa di bangku tengah mengangkat tangan kanan mereka.

“Guru! Kami ingin bertanya,” ucap mereka dengan keras hingga membuyarkan keterangan guru itu.

“Apa!?” bentak guru itu pada mereka seketika. Mereka berdua tersentak kaget mendengar bentakan guru mereka, hingga spontan mereka berteriak. Mereka tak menyangka bahwa guru mereka marah. Bahkan juga siswa-siswi di dalam ruangan kelas itu juga kaget. Mungkin guru itu sudah dongkol hatinya untuk terus membiarkan murid-muridnya terus mengoceh pada saat ia menerangkan.

Kedua siswa yang masih mengangkat tangan itu perlahan menurunkan tangan. Entah karena takut atau kecewa pada guru mereka. Namun yang pasti mereka berdua bungkam. Sedang guru itu mendelik.

Keadaan mulai mencekam.

“Kalian ini gak bisa diatur, apa? Masak sedikit-sedikit ngoceh, sedikit-sedikit ngoceh. Kalau mau ngoceh itu, ya di luar jam pelajaran gitu loh! Dasar murid-murid edan. Di zaman sekarang ini memang murid-muridnya pada edan semua, gila, gak punya sopan santun. Mending saya ngajar kuliah online aja, bla bla bla.”

Guru itu terus mengoceh sampai bel waktu istirahat berbunyi. Dan setelah mengoceh, ia segera beranjak keluar kelas. Tanpa memperdulikan murid-muridnya.

Suasana di dalam ruang kelas sangat hening, atau mencekam sepeninggal guru itu. Tak ada suara sama sekali. Namun beberapa saat kemudian terdengar suara tangis.

Kedua siswa itu menangis dan perlahan diikuti oleh satu per satu penghuni kelas itu. Mereka semua menangis. Entah karena takut atau kecewa pada guru mereka.

READ  Bagaimana, Sih, Menulis Cerpen yang Baik?
__Terbit pada
17 Januari 2022
__Kategori
Cerpen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.