Humoris Idaman Para Wanita

Ketika suatu keadaan menjadi tegang untuk di bicarakan. Gelak dan tawa menajadi sebuah bungkusan humor unik untuk menjadi penyedap renyahnya pembicaraan. Di pesantren merupakan letak pertama keberadaan canda-tawa para kaum santri, sejenak untuk merefres akal pikiran yang seakan membuat hati berat lagi tersumbat. 

Pentingkah humor di pesantren? Penting sih tidak. Hanya saja, ketika kebetulan Anda menjadi orang yang “Pendemokrasi Tolol” versi Saridin, karya Cak Nun, salah satu syaratnya agar Anda tidak terlalu tolol dalam bertingkah adalah Anda mesti memiliki suatu disiplin “laku” – yang sebut saja istilah – “rasa humor”. Jika tidak akan menjadi orang yang lebih tolol dari kang Saridin sedunia he…. Demokrasi Tolol Vesrsi Saridin (814/Naj/d/C.03). Nyatanya, santri bisa menjadi Supermen yang hebat dapat menangkis ketololan berlebihan seperti Kang Saridin itu. Benarkah? 

Jadi para humoris pesantren boleh-boleh saja, asal tahu tempat dan keadaan ketika ingin berkoar-koar. KH. Abdurrahman Wahid yang di kenal dengan julukan Gus Dur saja, merupakan sosok ilmuan yang terkenal humoris. Bahkan, bapak presiden bangsa Indonesia yang satu ini memiliki daya tarik humoris tinggi. Saya yakin orang lain tak akan bisa menirunya, bisa, tapi sulit. Kenapa begitu? Konon, ketika saat-saat terakhirnya berbaring lemah di RSCM jakarta, Gus Dur tetap bisa bercanda. Dalam karya humor Guntur Wiguna, Gus Dur mengatakan, “Di pesantren, humor itu jadi kegiatan sehari. Dengan lelucon, kita bisa sejenak melupakan kesulitan hidup. Dengan humor, pikiran kita jadi sehat”. Koleksi Humor Gus Dur. Jikalau orang seperti Gus Dur sudah mengatakan seperti itu kita mau gimana? Wong Gus Dur saja humoris dan banyak sekali candaan celotehnya menjadi sebuah karya, apa lagi santri yang ada di pesantren, yang setiap harinya gaya bahasa mereka berbeda-beda, bahkan asyik dan unik didengarkan. Boleh jadi bisa menyaingi karya Gus Dur.

READ  Gaya Gravitasi Bumi

Syahdan, sebenarnya humor itu menyehatkan, tapi orang lain salah arti mengapresiasikan tulisan humornya, terkadang terlalu rumit dan membahayakan para pembaca. Kata Khaeron Sirin dalam pengantar penulisnya mengatakan, “Sampai saat ini, humor selalu dikaitkan dengan sesuatu yang berbau porno, seks, pelecehan, ketololan, kasar dan diskriminatif, yang jauh dari mencerdaskan. Sehingga, tanpa disadari – kelucuan seperti ini – berdampak pada sikap dan perilaku sehari-hari yang cenderung kontra-produktif dan sia-sia”. Ketawa Sehat Bareng Para Ahli Fikih (808.7/Wig/k/C.01). Akan tetapi, karya Khaeron Sirin Ketawa Sehat Bareng Para Ahli Fikih, menurut Novelis ternama Indonesia Habiburrahman El-Shirazy mengatakan, “Buku yang di tulis Kang Khaeron Sirin ini menghimpun cerita-cerita segar dari para ahli salihin zaman klasik, juga menurut ahli fikih kontemporer. Tidak hanya cerita-cerita humor, namun juga cerita-cerita keteladanan yang  – isisnya sesungguhnya serius – . Namun, dikemas dengan bahasa yang cair”. Jadi para pemabaca tak perlu khawatir tentang adanya cerita atau sebuah kisah yang menyalahi aturan medel bacaan.   

Sekali lagi, jadilah orang yang humoris. Seperti guru saya Ust. Uzay, wali kelas 3 S Tsanawiyah saat ini. Beliau menuturkan, “Jadi orang humoris itu menjadi idaman para wanita”, tutur beliau ketika bercerita pengalamannya kepada kelas saya. Guruku itu bukan hanya peduli, tetapi juga pengertian penilaian. Hebat kan, wanita saja suka, apa lagi yang lainnya. Dengan adanya humor renyah di pesantren, kita bisa mengoreskan tinta kita dengan berbagai cerita dalam bentuk apapun. 

__Terbit pada
8 Desember 2021
__Kategori
Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.