Kegelapan

” aku sangat takut kegelapan.” 

Ujar caramel dengan suara pelan dan tubuh yang bergetar. Muka beningnya ia benamkan di pelukan dada bidang kekasihnya, dev. Yah, malam itu caramel berteriak ketakutan lantaran seluruh lampu di alun-alun batu padam total. Padahal posisinya kala itu berada di tengah-tengah, tepat duduk di samping air mancur. Mungkin bagi kebanyakan orang tingkah laku caramel sangat berlebihan. Toh, hanya sekedar padam mengapa harus menjerit histeris di tengah keramaian? Di balik dekapan kasih sayang dari dev, caramel teringat sesuatu yang terjadi di masa lalunya, saat seorang caramel kecil mendapati ruangan yang gelap gulita setelah terjaga dari tidurnya. Ia berteriak memanggil kedua orang tuanya, tapi hanya kesunyian yang ia dapatkan.  Caramel tidak tahu bahwa kedua orang tuanya pergi karena ada keperluan. Orang tuanya berkeyakinan akan kembali secepatnya, sebelum anak semata wayangnya itu terjaga. Tapi naas yang terjadi malah caramel bangun saat seluruh listrik desa padam secara bersamaan. Ia dibiarkan menjerit sejadi-jadinya di dalam kamar. Mungkin mulai saat itulah caramel mulai takut dengan kegelapan.   

“ kau harus mulai berani. Terkadang memang seseorang diciptakan untuk berseteru dengan keadaan.” 

“ entah kenapa. Untuk hal ini aku memang tidak bisa. Terserah orang-orang mau mengatakan apa. Yang penting aku sudah menjadi diriku sendiri yang takut oleh suasana gelap.” Jawab caramel dengan suara pelan tapi menekan, sementara kedua tangannya melingkar kuat di tubuh dev.

“ jika seperti itu maka aku ingin menjadi payung yang tak bisa menghentikan hujan namun setia mendampingimu tuk sampai tujuan. 

Ujar dev dengan tangan yang masih saja mengelus rambut panjang caramel. Dev tidak ingin orang  yang ia sayang merasa ketakutan. Di bawah cahaya penerangan yang samar  Devpun menghadapkan mukanya turut menghunjamkan kasih sayang ke wajah putih susu caramel. Mungkin hanya jarak satu jengkal yang menyisakan kedekatan wajah mereka. Hal itu bisa dibuktikan dengan saling merasakannya lenguhan napas yang keluar dari hidung mancung sepasang kekasih itu.  Samar-samar dev mulai melihat adanya buliran air mata di sudut mata caramel. dev layangkan jemarinya tuk mengusap air mata yang mulai berjatuhan ke pipi merona caramel, sebelum akhirnya mencium dengan mesra kening beningnya. Saat sensasi itu mata caramel terpejam sedang hatinya berdoa agar dev memanglah sosok yang diciptakan untuk dirinya.

READ  Bagaimana, Sih, Menulis Cerpen yang Baik?

***

“Arrgh.” Caramel l

__Terbit pada
20 November 2021
__Kategori
Cerpen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kesunyian

Kesunyian

1 minggu  yang lalu
Seni Mengarang Cerpen

Seni Mengarang Cerpen

1 minggu  yang lalu
Kita Sedang Menulis Cerpen!

Kita Sedang Menulis Cerpen!

1 minggu  yang lalu
Kegelapan

Kegelapan

1 minggu  yang lalu
Cinta Terlarang

Cinta Terlarang

1 minggu  yang lalu