Kesunyian

Anak muda itu berjalan memasuki gerbang dan menyusuri koridor sekolahnya dengan langkah gontai. Kepalanya tertunduk dan pandangan matanya hanya mengarah ke lantai. Ia tak menghiraukan keramaian di sekitarnya. Hanya sekilas tatapan yang ia lemparkan pada teman yang menyapa. Setelah sampai di kelasnya pun ia langsung masuk tanpa mengucapkan apa-apa. Menaruh tas, duduk, melipat tangan di atas bangku dan menaruh kepala di atasnya. Ia masih bingung apakah ia harus senang, bahagia atau merasa bersalah dan menyesal atas apa yang ia perbuat barusan.

***

Matahari terbit seperti pertama kali di ciptakan. Pun begitu awan, tetap menyajikan keserasiannya yang indah dengan awan.

“Ah… indahnya pemandangan ini.” Gumam seorang pemuda dari balkon rumahnya. Duduk di atas kursi santai yang terbuat dari anyaman rotan. Sambil menikmati indahnya alam. Angin pagi dan dedaunan hijau yang masih basah oleh embun, di tambah senandung yang datang dari burung-burung, membuat pemuda itu tenggelam dalam ketenangan.

“ANTON!” Suara perempuan setegah baya itu sangat keras, memecah ketenangan yang tengah anton rasakan.

“Ya ma…” Jawab anton datar 

“cepetan mandi, nanti telat!”

“Fuih… iya-iya bentar lagi.”

“Gak usah di tunda, sekarang saja!” perempuan itu memaksa

“Iya iya.” Jawab anton kesal sembari beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menuju kamar mandi dengan langkah tak bersemangat, dan hati yang di liputi rasa kesal yang sangat.

“Tumben mandi pagi.” Ejek wirda adik anton satu-satunya. Dengan sedikit tersenyum, sambil mengeringkan rambutnya di depan kamar mandi. Menggunakan handuk pink yang bergambar hello kitty.

Anton hanya diam. Tak merespon ejekan wirda. Ia tak ingin rasa kesalnya yang sudah klimaks, berubah menjadi rasa marah dan terlampiaskan pada wirda ia langsung masuk ke kamar mandi dan membanting pintu dengan keras.

READ  Bagaimana, Sih, Menulis Cerpen yang Baik?

“Aaa…” Hati anton meronta.

“aku bosan hidup di keluarga seperti ini. Papa yang jarang di rumah, mama yang selalu ngomel-ngomel gak jelas, adik yang nyebelin. Aku ingin hidup tenang, sunyi dan tak ada yang menggangguku.

***

“Anton!” Lagi-lagi suara perempuan itu  merasuk ke dalam gendang telinga anton. Yang sedang merebahkan diri di kasur kamarnya. Mengganggu ketenangannya hari ini untuk kali keduanya.

“Fuih… belum juga ganti baju.” Gumam anton kesal

“Anton cepetan, makanannya sudah siap. adikmu juga sudah makan.”

“iya ma…” Jawab anton sambil memakai baju berwarna putih dan celana panjang berwarna abu-abu. Mengambil tas dan memasukkan ke dalamnya beberapa buku. Lalu bergegas menuju ruang makan. menaruh tas di samping kursi, duduk dan mengambil beberapa lauk dan nasi. Ia tak mengambil sayur sedikitpun, karena ia memang tidak begitu suka.

“Nih sayurnya, Kak.” Ucap Wirda sambil menyodorkan semangkuk sup sayur lengkap dengan sendoknya. 

Anton hanya menatapya dengan tatapan yang tidak begitu enak. Lalu mulai menyantap makanannya. Wirda pun meneruskan menyantap makanannya yang sudah tinggal sedikit.

“Nih, sayurnya di makan juga.” Ucap mama itu tiba-tiba, sambil menuangkan se-sendok sup sayur.

“Mama… Mamakan tahu Anton gak begitu suka sayur.” Keluh anton

“Pokoknya hari ini anton harus makan sayur!” bantah mama, yang kemudian membalikkan badannya dan berjalan ke arah dapur.

Muka anton memerah, tekanan darahnya bertambah, wajahnya tertunduk ke arah bawah, rasa kesalnya mulai berubah menjadi amarah, ia melepas sendok dan garpu yang semula ia pegang, mengepalkan tangan dan mencoba menahan amarah dalam-dalam. 

          Cetar…… Suara piring beradu dengan lantai. Piring itu pecah berkeping-keping. Nasi, lauk dan sayurnyapun berserakan mengotori lantai. Jelas, piring itu tidak terlempar dengan sendirinya. Ada anton di balik tirai yang menjadi dalang dari semuanya. Kucing yang sedari tadi berada di sana melihat mereka makan, melompat kaget dan berlari tak karuan. Pun Mama, spatula yang sedari tadi ia pegang terjatuh ke lantai. Sedang Wirda hanya menganga keheranan. 

READ  Kita Sedang Menulis Cerpen!

“Anton!” bentak Mama 

“Anton capek, Ma. Anton capek denger omelan Mama tiap hari, Anton capek di atur-atur seperti anak kecil, Anton sudah besar, Anton ingin hidup tenang, sunyi dan tak ada omelan Mama yang…”

“Kak anton!!!” Potong Wirda

“Mama begitu karena Mama sayang sama kakak, mama ingin…”

“Aaa…” anton balik memotong “Diam kamu masih kecil.” 

Anton mengambil tas di samping kursinya, berjalan cepat ke luar rumah, dan membanting pintu dengan keras.

Anton menyusuri jalan ke sekolahnya dengan pikiran yang kacau. Ia merasa bersalah atas apa yang telah ia perbuat. Tapi ia juga merasa lega dan bahagia, karna unek-unek yang menyesak di rongga dadanya telah berhasil ia keluarkan semua. “Mungkin dengan ini mama bisa berhenti mengomeliku tiap hari,” pikirnya.

  ***

“Drrr…” Hp Anton yang berada di saku celana bergetar. Anton mengambilnya dan menatap layar hp.

“Ah… mama, palingan juga mau ngomel lagi.” Anton langsung menutup telponnya seketika itu, lalu memasukkan hp kembali ke saku celana. Belum sempurna hp itu masuk ke dalam saku celana, hp itu bergetar untuk ke dua kalinya. tapi anton melakukan hal yang sama.

Rasa kesal dan marah pada mamanya, masih memenuhi seluruh ruang di hati dan pikirannya, seakan tak ada pintu maaf bagi kesal dan marah untuk keluar dari hati dan pikirannya.

“Tok tok tok…” suara ketukan pintu dari luar kelas yang di susul dengan datangnya satpam sekolah.

“Permisi bu, Anton ada?” tanya satpam

“Iya ada.” Jawab ibunya

“Iya saya anton.” Sambung anton  

“Ada tamunya di gerbang.” Ucap satpam yang kemudian melempar senyum kepada bu guru lalu pergi.

READ  Seni Mengarang Cerpen

“siapa lagi ini.” batin Anton kesal, lalu beranjak dari tempat duduknya, meminta izin kepada bu guru yang kemudian di balas dengan anggukan kepala dan senyuman yang menandakan iya.

Anton melangkah ke luar kelas dan berjalan perlahan menuju gerbang sekolah. Anton heran sekaligus bingung ketika tahu kalau tamu yang menunggunya di gerbang sekolah adalah adiknya,  dengan tangan yang tak henti-hentinya mengusap bulir air mata yang terus mengalir sedikit demi sedikit dari kedua kelopak matanya. Anton mempercepat langkahnya dan langsung duduk berjongkok di hadapan wirda.

“Ada apa, Wir?” Tanya Anton dengan kedua tangan memegang bahu Wirda

“Ma..mama…Kak” Jawab Wirda terisak-isak

“kenapa mama?” Anton cemas

“Ma..ma sudah tiada kak.”

***

Anak muda itu masih sendiri, mengurung diri di kamarnya sendiri. Hanya suara kipas dan detik jam yang terdengar. Air mata yang keluar dari tepi matanya bagian kanan, membanjiri bantal yang sedari tadi ia gunakan.

“Ini terlalu sunyi, bukan kesunyian seperti ini yang aku harapkan” Ucapnya lirih terisak tangis.

Ia merasakan sesuatu di pundaknya, seakan ada seseorang yang menepuk pundaknya.

“Anton…Anton…”  Suara itu…

“Anton… bangun, ton. bu guru datang…”

__Terbit pada
20 November 2021
__Kategori
Cerpen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kesunyian

Kesunyian

1 minggu  yang lalu
Seni Mengarang Cerpen

Seni Mengarang Cerpen

1 minggu  yang lalu
Kita Sedang Menulis Cerpen!

Kita Sedang Menulis Cerpen!

1 minggu  yang lalu
Kegelapan

Kegelapan

1 minggu  yang lalu
Cinta Terlarang

Cinta Terlarang

1 minggu  yang lalu