Kita Sedang Menulis Cerpen!

Membaca cerpen berjudul Hilang Satu, Hilang Tiga! karya Muhammad ini sebenarnya menarik, hanya saja saya memiliki banyak catatan penting sebagai bekal bagi kemahirannya bercerita di masa mendatang. Saya ingatkan, cerpen harus cepat. Ini sangat penting sekali, sebab pembaca kita adalah mereka yang ingin merasa getir, haru, senang, seru dan perasaan hati lainnya seketika itu juga. Jauhi bertele-tele menjelaskan keadaan yang kurang penting untuk diketahui, kecuali hanya sebagai penjelasan bagi keberlangsungan sebuah cerpen. Menulis cerpen dengan bertele-tele dan menjelaskan segala hal plus tetek bengeknya sungguh membuat pembaca malas, kecuali bagi pembaca yang belum tahu seperti apakah cerpen itu harusnya dinikmati.

Lihat misalnya, “Aku berputar kesana-kemari menyusuri gedung pencakar awan bertingkat tiga. Mataku menyelidiki satu-persatu ruang di sana. Akan tetapi semua berakhir sia-sia. Aku pun mulai putus asa seraya kembali ke ruang 36 dengan wajah kesal. “Nabil!” Terdengar suara menyebut namaku, telingaku memastikan kebenaran suara panggilan itu. Aku pun menyelidiki asal-muasal suara itu. Ternyata suara itu terdengar dari mulut As-Suyuthi 35. Herannya lagi, dia adalah Zain.”

Sekali lagi, Muhammad masih bertele-tele dalam bercerita. Tidak usah terlalu banyak membuat istilah yang kurang enak, apalagi istilah tersebut hanya berlaku bagi sebagian orang dan tidak universal. Misalnya, Muhammad menulis gedung pencakar awan sebagai istilah bagi Mabna as-Suyuthi. Pemakaian istilah yang sedemikian jelas kurang penting bagi pembaca dan hanya dikenal oleh penulisnya. Terkecuali istilah tersebut sudah populer, misalnya menyebutkan Pulau Garam bagi pulau Madura. Ini sudah umum dan pembaca langsung paham. Istilah yang dibuat-buat sendiri jelas kurang baik, kecuali memang mau menceritakan perihal istilah tersebut, misalnya istilah slimicinguk dalam cerpen berjudul Slimicinguk milik Gunawan Tri Atmodjo. Sekali lagi, ini bukan novel tapi cerpen yang semuanya terbatas, maka gunakanlah keterbatasan karakter dan model bercerita sebagai pegangan utama untuk menceritakan perkara banyak menjadi sangat sedikit.

READ  Bagaimana, Sih, Menulis Cerpen yang Baik?

Cerpen berbeda dengan novel. Ini yang sangat penting. Ketika menulis cerpen, jangan pernah merasa sedang menulis novel. Para novelis jelas suka bertele-tele karena ruang berekspresi mereka sangat lebar dan luas. Begitu juga bertele-tele sangat dibutuhkan sebagai informasi akurat dan lengkap bagi cerita panjang. Sedangkan cerpen, ruang yang tersedia sangat minim dan kita dituntut mengekspresikan segala hal dengan sangat singkat, padat dan enak. Saran saya jelas satu, perbanyaklah membaca cerpen. itu saja!

Ini lagi yang penting, berusahalah memahami pembaca. Jangan hanya menulis cerpen untuk dinikmati sendiri dan dipahami sendiri. Cerpen itu bercerita kepada pembaca, maka selayaknya pembaca berhak menuntut keluwesan, kemudahan pemahaman dan keenakan dalam cerpen yang disuguhkan. Maka sangat mutlak bagi penulis belajar memahami selera dan pembaca yang kita sasar. Jangan seenaknya sendiri sehingga untuk memahami pembaca harus muter-muter. Teknik bercerita mestilah terus dikaji dan diasah terus menerus.

Selanjutnya, yang sangat penting adalah, tema pembahasan. Jika memang mengambil sudut pandang (angel) dari kebiasaan santri, maka ambil yang mudah saja dan unik. Tema mayoran sangatlah unik, tetapi jika kita tidak bisa meracik dengan apik, maka cerpen akan dengan mudah masuk tong sampah redaksi, terutama redaksi koran yang seleksinya begitu ketat. Jangan terpengaruh dengan cerpen absurd karya cerpenis besar, mereka jelas sudah memiliki nama dan cerpennya sudah berkarakter, sedangkan kita masih ‘merayu’ para editor untuk menikmati karangan kita.

Kembali ke tema, saran saya, jika memang mengambil sudut pandang kebiasaan santri berupa mayoran, maka misalnya ceritakan bagaimana nikmatnya makan bersama tersebut dalam satu nampan. Tentu saja dengan teknik memukau. Sambil agak ‘jahat’ di klimaks cerpen kita merontokkan kenikmatan itu dengan lakuan seorang tokoh yang meludahi makanan di nampan itu. Ini akan mengagetkan pembaca yang sejak mula sudah diajak berimajinasi ke dalam keindahan kebersamaan, dan berakhir dengan lakuan tak terpuji salah seorang teman, yang karena lapar dan ingin dapat banyak bagian, sampai hati meludahi nampan berisi nasi tersebut.

READ  Kegelapan

Ini juga kebiasaan cerpenis pemula yang kurang bagus; suka mengumbar percakapan tidak penting. Cerpen itu bukan novel yang setiap lakuan bisa diekspresikan dengan percakapan. Cerpenis membubuhkan percakapan, karena dengan demikian mendukung penggambaran dalam setiap alinea. Cerpenis dengan sangat susah payah menjauhi percakapan yang cenderung tidak dibutuhkan. Misalnya, banyak cerpenis pemula masih asyik memuat salam dalam sebuah percakapan, assalamualaikum, waalaikumsalam dan lain-lain. Selayaknya percakapan tersebut sudah bisa dijelaskan dengan gamblang dalam bentuk lakuan di paragraf saja. tidak perlu dibentuk percakapan. Tak jarang, lho, novel yang juga menghindari percakapan.

Perhatikan epilog yang memakai gaya buka-tutup-kejut, tetapi dibuat kurang apik di badan cerpen, sehingga pembaca tidak menangkap apa yang sebenarnya ingin disampaikan: Mulut teman-teman kami menganga. Wajah Fanus mulai memerah. Mata Zain mulai redup dan layu. Badanku pun mulai menggigil kedinginan karena pada saat ini jam suadah menunjukkan 11:15 Wis. Hatiku menggebu-gebu tak sabar menunggu kedatangannya Amir. Hampir setiap suara kudengarkan baik-baik. Irama langkah kaki terdengar merdu, suaranya kian membesar menyiratkan akan kedatangannya. Sosok pria melangkahkan kakinya menuju ruang ini, pria tersebut sudah nongol dimulut ruang ini. Semua temanku menembakkan mata padanya dengan exspresi tak menentu. Entahlah, ada apa gerangan?

Epilog ini jelas kurang mantap karena menggantung sesuatu yang kurang bisa ditebak. Setidaknya, dengan membaca epilog, pembaca akan menebak dan bisa merangkai sendiri kelanjutan cerita. Bukan dengan gantungan cerita dan pertanyaan yang bahkan penulisnya sendiri seperti tidak tahu kelanjutannya. Penulis bertanya, Entahlah, ada apa gerangan? Jika epilog ingin dibuat menggantung, maka selayaknya kita sudah memberikan gambaran tersirat sejak awal dengan berbagai kemungkinan. Sehingga pembaca akan menilai dan merangkai sendiri kemungkinan kelanjutan cerpen tersebut.

READ  Seni Mengarang Cerpen

Oh, iya, jangan lupa memoles cerpen. Tak ada cerpenis yang sudah puas dengan hasil pertama. Jangan tergesa-gesa memublikasi karya. Saya kasih bocoran, rata-rata penulis akan menaruh karyanya untuk beberapa waktu, setelah mengistirahatkan otak dan mengambil banyak inspirasi, cerpen akan dibaca lagi. Nah, saat itulah, penulis akan menemukan kekurangan-kekurangan karyanya dan mulai sibuk menambal-membuang. Bahkan, ada yang melakukan proses ini hingga beberapa kali, sehingga cerpen yang awalnya memakai teknik epilog tertutup, ada kemungkinan berubah terbuka. Saya sarankan, teruslah permak cerpen yang dibuat sehingga hati kita benar-benar plong ketika membaca ulang dan kita sangat siap melepasnya ke publik. Demikianlah.

Sekali lagi, kita sedang menulis cerpen!

__Terbit pada
20 November 2021
__Kategori
Kritik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kesunyian

Kesunyian

1 minggu  yang lalu
Seni Mengarang Cerpen

Seni Mengarang Cerpen

1 minggu  yang lalu
Kita Sedang Menulis Cerpen!

Kita Sedang Menulis Cerpen!

1 minggu  yang lalu
Kegelapan

Kegelapan

1 minggu  yang lalu
Cinta Terlarang

Cinta Terlarang

1 minggu  yang lalu