Lembar Lusuh

Mentari mulai merapat di cakrawala yang merona merah jingga. Selimut malam mulai menggerayangi lembaran petala langit senja. Semetara aku masih mematung di bibir jendela, seraya menopang dagu, memandangi gubuk reot di depan rumah. Gubuk reot itu adalah bekas kandang kambing tetangga, yang kini sudah tak lagi digunakan sebagaimana mestinya, karena kambingnya hilang entah kemana.

Aku ingin merenovasi bekas kandang kambing itu supaya bisa digunakan sebagai perpustakaan. Namun ternyata tekadku kalah besar dengan keinginan emak yang ingin menyulap gubuk itu menjadi warung makan bagi para penebang kayu di hutan, yang biasanya lewat di depan rumah.

Memikirkan tekad emak membuat hatiku gundah gulana. Entah kenapa, sejak kecil hasratku begitu besar untuk membangun perpustakaan di desa ini. Bahkan sampai saat ini, hingga kepulanganku dari pesantren, mimpi itu masih terus berkelindan dalam angan. Aku prihatin melihat orang-orang di desa ini yang rata-rata masih buta huruf. Aku tak ingin kejadian beberapa tahun lalu yang menimpa keluargaku juga terjadi kepada orang lain. Hanya karena tidak bisa membaca, emak mau menandatangani surat penjualan tanah yang luasnya berhektar-hektar, hanya dibayar dengan lima karung beras dan tiga dus mie instan.

Desa ini terpencil, jauh dari sekolah dan jauh dari uluran tangan pemerintah, membuat kesejahteraan dan pengetahuan orang-orang di desa ini seolah terpasung. Aku ingin mereka bisa melihat betapa luasnya dunia dengan membaca. Aku tak ingin pengetahuan mereka terhalang oleh kondisi lingkungan, sebagaimana pandangan mereka yang terhalang oleh rimbunan pohon leban, tertutupi oleh jalar kayu rotan, dan teraling oleh tingginya rumput ilalang. Itulah yang membuat aku ingin membangun perpustakaan. Aku ingin mengajari mereka membaca.

Aku rasa, ini saat yang tepat untuk memulainya, sebelum orang-orang di desa ini kehilangan semua yang mereka miliki. Ya, setidaknya agar mereka tidak tertipu oleh infestor asing dan industrialis yang berdalih ‘membangun’, namun kenyataannya hanya ingin menguasai dan merusak lingkungan, sebagaimana yang terjadi di Papua, Madura, dan daerah-daerah lainnya. Aku khawatir jika keadaan ini dibiarkan berlarut-larut, suatu saat nanti kami tidak akan lagi memiliki tempat untuk tinggal dan berteduh, akhirnya terpaksa hidup terlunta-lunta di tengah-tengah kota.

READ  Sekolah Si Udin

Untuk itu, tiap industri perlu kiranya untuk menghubungi Konsultan Amdal, untuk analisis dampak lingkungan yang wajib ada bagi setiap pelaku manufakturing dalam negeri.

***

Keesokan harinya. Berulang kali aku membujuk emak agar mengizinkanku mengambil alih gubuk itu, namun emak bersikukuh dengan pendiriannya. 

“Emak yakin, gubuk reot itu memiliki “prospek” yang baik ke depannya. Kalau gubuk itu kita jadikan warung, pasti akan membawa keuntungan yang besar.” Jawab emak menolak permohonanku, seraya mengangkat kedua tangan, dan kedua jarinya ditekuk dua kali, membentuk tanda petik. Emak menirukan gaya para artis yang sering ia tonton di acara infotaintment.

Ah… Emak… ada-ada saja. Gumamku sambil menggelang-geleng.

Dengan terpaksa aku mengalah, membiarkan emak memenuhi keinginannya, sementara, aku juga mewujudkan tekadku untuk membangun perpustakaan, meskipun hanya dengan membuat meja besar dan kursi panjang di samping rumah, tepat di bawah pohon ketapang, yang begitu rindang. Kupaku sebuah papan kecil bertulis “Taman Baca Lembar Lusuh” di batang pohon itu. Kemudian kuletakkan puluhan buku bacaan koleksiku di sana. Buku itu rata-rata kubeli sendiri, dan lainnya adalah pemberian pamanku dari kota yang menyambut gembira mendengar rencanaku membangun perpustakaan di desa terpencil ini.

***

Mentari sudah mulai meninggi, namun belum juga ada anak-anak yang lewat. Biasanya jam segini mereka sudah mulai bertebaran kemana-mana. Kepalaku celingak-celinguk. Sorot mataku menyisiri jalan depan rumah. Nah itu dia, mereka lewat, aku pun memanggil mereka yang jumlahnya kira-kira tujuh orang.

“Hei, kawan, mau kemana?” Tanyaku sok akrab. Mereka tak acuh. Aku segera mendekatinya sebelum mereka berlalu pergi. Kubujuk mereka untuk datang ke perpustakaanku, atau lebih tepatnya kusebut dengan Taman Baca, karena tak ada rak-rak besi dan etalase bertutup kaca, sebagaimana perpustakaan pada umumnya. Kukatakan pada mereka bahwa di sana ada banyak buku yang gambarnya bagus-bagus. Kuyakinkan bahwa mereka pasti akan menyukainya. Mereka menggeleng dan bilang “nggak mau!” dengan lugunya. Kubujuk mereka dengan permen. Setelah perpikir agak lama, akhirnya mereka mengiyakan ajakanku. Namun tidak semuanya, melainkan hanya tiga orang saja, sedangkan lainnya malah lari setelah mengambil permen dari sakuku.

READ  Bagaimana, Sih, Menulis Cerpen yang Baik?

Sejak saat itu baru kusadari bahwa membujuk anak kecil ternyata lebih sulit dari pada menghalau itik dan kambing agar masuk ke kandangnya.

Kuajari mereka membaca, setelah mereka bosan, aku mendongeng, sepertinya mereka sangat terhibur hingga tertawa terpingkal-pingkal, setelah mereka terbuai oleh dongeng itu, aku memintanya untuk mulai belajar menulis. Entah kenapa, meski hanya tiga orang yang bisa kuajak mampir di Taman Baca ini, rasa bangga di dada ini sungguh luar bisa. Kebahagian di hati sungguh tak terperi.

***

Dari bawah pohon ini bisa kupandangi emak yang sepertinya mulai bosan dengan warungnya yang sepi. Para pekerja dari hutan cuma lewat begitu saja. Hanya burung camar yang berkicau hilir mudik menghinggapi atap warungnya.

Di tengah keseruanku mengajari bocah-bocah itu membaca, tiba-tiba aku melihat ada kepulan asap yang keluar dari warung emak. Sepertinya emak lupa mematikan api di tungku masaknya. Api itu begitu cepat menjalar, melahap bagunan warung itu, karena material bangunannya memang terbuat dari dedaunan dan papan kayu kering yang mudah terbakar. Aku pun pergi meninggalkan tiga bocah yang tadi kuajari membaca. Saat aku mendekati warung itu, sepertinya emak baru terbangun dari tidurnya sambil terbatuk-batuk. Emak berteriak menjerit-jerit. Emak memintaku untuk mengambilkan uang yang ada di dalam warung itu, aku pun mematuhi titahnya. Kujulurkan tanganku ke arah laci dari luar warung. Laci itu sulit untuk terbuka. Aku panik bukan kepalang karena hampir seluruh bagian warung itu sudah terlalap habis oleh kobaran api yang menyala-nyala. Tiba tiba ada kayu penyanggah atap yang sudah berupa bara jatuh menimpa wajahku. Serpihan baranya mengenai kedua mataku. 

READ  Kegelapan

Aaggghhhh……. aku menjerit kesakitan.

Setelah itu, aku tak sadarkan diri, dan sejak saat itu pula aku tak lagi bisa melihat dunia.

***

Dokter memvonis mataku mengalami katarak. Hasil diagnosanya menyatakan bahwa luka yang terdapat di kedua retina mataku cukup parah. Dan jangka penyembuhannya belum bisa dipastikan. Aku buta. Aku tak percaya atas takdir ini. Tuhan sungguh gemar membuat skenario hidup yang tak biasa, dan cenderung berkelok-kelok. Berulang kali aku membuka mata, namun hanya gelap yang terlihat. Awalnya kukira malam kini berubah menjadi lebih panjang. Setelah sekian lama, baru kuyakinkan dan kusadarkan diriku bahwa bukanlah malam yang enggan pergi, melainkan mataku yang tak lagi bisa melihat betapa cerahnya siang hari. 

Takdir ini bagai noktah hitam di lembar-lembar lusuh hidupku. Namun langkahku tak akan beku dan tak akan terhenti hanya karena titik hitam ini. Aku akan melompatinya. Karena aku yakin, di depan sana masih ada puluhan bab, masih ada ratusan lembar halaman yang akan kujalani dan akan kutapaki, seterjal apapun jalan hidup itu. 

Aku akan tetap membaca meski tanpa mata. Aku akan tetap melihat dunia, meski kini aku mengalami tuna netra. Aku tak putus asa, meski untuk sekadar membaca pun kini aku harus terbata-bata, meraba tiap rentetan huruf barail. Kuatkan jiwaku ya Allah.[]

__Terbit pada
2 Februari 2022
__Kategori
Cerpen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.