Liburan yang Begitu Singkat

Sudah tiga jam lebih hujan mengguyur tanah yang mulai mengelupas dan sekarang sudah 5cm air menggenang di depan rumahku. Namun, pada saat ini (jam 4 sore) hanya tersisa rintikan kecil yang masih terdengar dari bawah genteng, terpaksa aku batalkan janji pada teman-teman yang katanya mau berkunjung ke Jakarta, buat acara terakhiran sebelum berangkat ke pondok besok siang, padahal, sudah saya pesankan Bus Pariwisata.

Malam mulai menyelimuti langit bintang-bintang mulai bermunculan meskipun terdapat sedikit awan hitam, angin masih bergemuruh dari sela-sela jendela kamarku, picingkan mata ku ke arah luar kaca, ternyata halaman masih becek akibat hujan tadi. Hp lah yang menjadi satu-satunya teman di malam terakhir ini, ku hidupkan data dengan harapan semoga tidak ada gangguan (eror). Aku letakkan hp di atas Kasur sambil berharap ada teman yang masih online, lalu menuju ke dapur untuk membuat kopi agar si asap (rokok) ada temannya, setelah ku aduk kopi itu lalu ku bawa ke kamar, ku raih hp-ku dengan tangan kananku ternyata hanya sebagian teman yang muncul di layar hp-ku, sungguh begitu nian malam terakhiran ini.

*****

Dua hari aku telah lalui hari lebaran ini meskipun tak selama yang aku inginkan tapi tak apalah, yang penting rindu ke sanak keluarga sudah terobati meskipun hanya bertatap muka, dan rekreasi menggunakan Bus Pariwisata Jakarta. Entah kenapa dengan hati ini, seperti ada yang memanggil dan mengajak ke tempatku entah di mana, mungkin orang itu kenz. aku harus akui memang ada perasaan suka padanya apakah dia pulang pada maulid sekarang? Ooo..iya, nanti aku tanya pada sepupunya yang termasuk teman Smp yan duduk sebangku dengan ku tahun kemarin.

READ  Kesunyian

*****

Ketika gabut mulai menyelimuti kamar ku yang kulakukan hanya mencari sensasi pada teman-teman Whatsapps-ku dengan mengijinkan satu foto yang bertuliskan “Pesan-pesan buat ku sebelum berangkat besok”. Meskipun agak alai, tapi gak apalah, he.he.he

“Genggam dan pertahankan” pesan dari sepupuku. Nurul Ayyami Namanya, dari beberapa pesan yang aku terima, pesan inilah yang paling berbeda, mungkin dia paham dengan keadaanku saat ini, yang ingin bertemu dengan seseorang aku takut tak tahu keberadaannya sekarang apakah dia pulang ataukah tidak? Setidaknya rindu telah ku kirimkan lewat angin yang dating perginya tak pernah pamit pada siapa ia bertamu. aku terkejut setelah di beritahukan kabar seseorang yang aku cari-cari kabarnya katanya dia mencari ku, kebahagiaan yang bergejolak mulai memancar dari sudut wajahku.

“Mana WA nya Nur” aku langsung menanyakan kontaknya barangkali bisa mengobati rasa yang belum sempurna terobati walaupun hanya menanyakan kabar.

“Iya-iya bentar” aku tak sabar untuk bertemu dengannya meskipun dengan perantara sebuah aplikasi setelah ia mengirimkan nomornya, aku langsung menuju ke papan pengetikan untuk mengirim kan sebuah kata yang begitu singkat, sebuah salam.

Singkat cerita

“Yaudah, nenk!! Aku mau berangkat” dengan angin yang bergemuruh dari gorden jendela, aku kirimkan pesan itu. Sesungguhnya pesan ini ada kelanjutannya tapi aku tak menulisnya di papan HP, melainkan di lanjutkan dengan suara hati yang tak di dengar oleh seorang pun walaupun itu sebuah angin.

“Lah, kok udah mau berangkat.” Yang aku rencanakan ternyata benar, aku hanya ingin melihat bagaimana reaksinya, padahal bukan sekarang aku yang mau otw ke pondok, melainkan besok.

“Iya nenk yang di tunggu-tunggu ternyata baru ketemu.” Terangku dengan dibubuhi stiker di akhir pesan ini.

READ  Kegelapan

“Kok Cuma sebentar.” Ia menanyakan perihal kenapa aku mau berangkat, lalu aku jelaskan sedikit dari tanggal pulang dan tanggal kembalian, jumlahnya hanya seminggu yang mampu kita hitung dengan jari-jemari kita, kemudian ku balas lagi dengan kata atau kalimat yang begitu singkat “Mungkin ada pesan-pesan sebelum berangkat?”

“iya ada.”

“?” cukup dengan satu huruf ku tanyakan pesan itu.

“……” hanya sebuah titik yang tampak darinya.

“Apa nenk? Keburu berangkat nih. Karena besok aku paling gak pegang HP, sibuk menyiapkan barang-barang yang akan aku bawa”

“Iya-iya hati-hati di jalan, jaga kesehatan.” Pesan itu langsung menyusup ke rongga-rongga tulang, serasa kata-kata itu diucapkan langsung ke gendang telingaku meskipun tanpa wujud apapun.

Dan hal itu berakhir pada saat alarm Hp berbunyi menandakan sudah pagi. Ternyata itu hanyalah sebuah mimpi.

__Terbit pada
14 Desember 2021
__Kategori
Cerpen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Guru

Guru

6 hari  yang lalu
Restu Ortu

Restu Ortu

1 minggu  yang lalu
Gaya Gravitasi Bumi

Gaya Gravitasi Bumi

2 minggu  yang lalu
Rafly

Rafly

2 minggu  yang lalu
Pelajaran Sejarah Dihapus?

Pelajaran Sejarah Dihapus?

3 minggu  yang lalu
Dunia Pesantren

Dunia Pesantren

1 bulan  yang lalu
Meniru Anime

Meniru Anime

1 bulan  yang lalu