Mengapa Aku Gagal?

Inilah pertanyaan yang akan kita bahas pada kali ini. Meskipun sebenarnya jawaban ini kembali pada individu masing-masing, saya ingin mencoba untuk memecahkannya. Lebih-lebih, artikel ini saya tulis karena saya juga berkali-kali mengalami kegagalan dan berkali-kali berusaha memperbaikinya. Kiranya tulisan ini akan bermanfaat pada penulis dan juga pembaca.

Berbicara tentang kegagalan kami teringat dengan cerita Thirza Saputra & Andy Saputra perihal tinggal di luar negeri (Selandia Baru). Videonya sebagaimana berikut:

Silahkan subscribe ke channel YouTube Andy Saputra untuk mengikuti vlog tentang kehidupan orang Indonesia di Selandia Baru. Anda dapat subscribe dengan mengklik di sini. Anda juga dapat mengikutinya via instagram @thirzasap.

Jika ditanya mengenai nilai pandang akan kegagalan, mungkin sebagian orang akan menjawab bahwa kegagalan adalah keterpurukan, kehinaan, dan keterakhiran. Kegagalan akan menyebabkan jiwa muda menjadi menurun, semangat menjadi berkurang, dan kecerdasan menjadi tak berguna. Ia diibaratkan benalu yang akan mengeringkan dan mematikan pohon yang ditumpanginya.

Namun di sisilain, ada juga yang menjawab bahwa kegagalan adalah proses menuju kemenangan dan jembatan menuju kesuksesan. Bukankah sejarah telah banyak mengisahkan kehidupan orang sukses yang semuanya menuai buah setelah kesabaran mereka menghadapi rintangan yang berliku-liku? Bukankah Thomas Albert sukses menemukan lampu setelah berkali-kali percobaan? Bukankah Rasulullah sukses mengibarkan panji Islam setelah berkali-kali di caci maki? Maka sudah nyata bahwa kegagalan adalan kunci kesuksesan.

Jika kita lihat bersama dari jawaban yang kedua, mungkin sudah jelas adanya. Jawaban tersebut bisa direka-reka muncul dari lisan orang sukses yang memanfaatkan kegagalan sebagai pecut untuk memperbaikinya, sehingga mereka berasumsi baik pada “kegagalan”. Beda halnya dengan jawaban pertama, pasti terlontarkan dari lisan orang yang tidak siap untuk sukses. Dalam artian, ia masih belum mengerjakan apa yang dikerjakan oleh orang sukses dan ciderung malas untuk menggapai keinginanannya itu. Adakalanya ia hanya semangat di awal saja, namun ketika sudah menempati tangga pertengahan, malas pun menguasainya. Inilah penyebab mereka berasumsi sumbu pendek pada “kegagalan”.

READ  Pelajaran Sejarah Dihapus?

Namun sebenarnya bukanlah ini yang akan kita bahas, melainkan bagaimana kita bisa meminimalisir kegagalan yang selanjutnya tidak lagi banyak memakan korban dan tidak lagi dipermasalahkan. Memang seperti yang dibahas di awal, sebagian bahkan banyak orang yang menjadikan kegagalan sebagai pecut, namun itu tidaklah lebih banyak jika dibandingkan dengan orang yang menganggapnya sebagai keterpurukan. Bukankah begitu kenyataan di lapangan? Maka dari itu sangat perlu kita meminimalisirnya.

Nah, jika Anda merasa sering gagal dalam suatu capaian maka sekarang jangan khawatir lagi, Insyaallah artikel ini akan membantu untuk memecahkannya. Berharap, kiranya tidak akan ada lagi kata “saya gagal” mendengung di telinga setelah membaca artikel ini.

__Terbit pada
8 Desember 2021
__Kategori
Artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Guru

Guru

6 hari  yang lalu
Restu Ortu

Restu Ortu

1 minggu  yang lalu
Gaya Gravitasi Bumi

Gaya Gravitasi Bumi

2 minggu  yang lalu
Rafly

Rafly

2 minggu  yang lalu
Pelajaran Sejarah Dihapus?

Pelajaran Sejarah Dihapus?

3 minggu  yang lalu
Dunia Pesantren

Dunia Pesantren

1 bulan  yang lalu
Meniru Anime

Meniru Anime

1 bulan  yang lalu