Meniru Anime

Aku heran. Bagaimana bisa kau tampak begitu bahagia. Padahal kemarin, kau mengabaikanku dengan wajah ketus. Kemarin, sepanjang hari, setiap kali kita tak sengaja bertemu di jalan atau di mana pun, kau bersikap cuek. Acuh tak acuh. Bergeming, seolah menghindar. Namun, pagi ini rona mukamu bersinar ceria. Di balik kacamata bundarmu, matamu berbinar cerah. Senyum lebar terukir benar di bibirmu. Tampak jelas bahwa kau adalah seorang santriwan yang sedang gembira. Saat kusapa pun, kau menyalamiku hangat, lalu mengajakku duduk bersisian.

“Eh, Bro! Ada apa denganmu? Kau tampak bahagia sekali pagi ini?” Tanyaku, yang kemudian kau tanggapi dengan bercerita.

Kita duduk di balkon masjid pesantren lantai dua. Di sana, pandangan kita bisa langsung menerawang ke langit luas. Kepala kita menengadah. Bersandar di tembok dan duduk berselonjor kaki. Menatap langit biru muda. Seperempat lingkar mentari kuning bersembunyi di balik awan putih bak kapas. Cahayanya terasa nikmat dan hangat, juga tak terlalu terik. Sekelompok burung merpati terbang rendah di udara. Bermain-main, berkicau ria. Memberi suara alam yang terdengar begitu alami di telinga. Pepohonan rindang di pinggir masjid menjulang tinggi. Dedaunan hijaunya menyejukkan pandang. Menghasilkan oksigen segar. Melegakan dada. Mulutmu mengucapkan kata-kata.

Sora no Sastra.”

Aku mengernyitkan dahi. “Hah?”

“Iya, Bro! Itulah yang membuatku senang pagi ini.”

Karena penjelasan super singkatmu itu tak memahamkanku, kau pun bercerita panjang.

* * *

Kau bercerita, dua hari yang lalu, kau mendapat undangan untuk menghadiri sebuah acara pelantikan.

Jemari kananmu mengetuk pintu kantor “Ekstrakurikuler Sastra” di bangunan utama pesantren. Kepala ekskul sastra, Pak Alaek Mukhyiddin, menyambutmu ramah. Pemuda berbadan kurus itu menyungging senyum lebar. Sangat lebar. Hingga kau bisa melihat gigi putihnya yang cemerlang. Beliau mempersilahkan duduk bersama para kawan santriwan lain yang terlebih dahulu datang. Di atas karpet lembut bermotif hijau, kalian duduk bersila. Membentuk barisan lingkar. Di tengah lingkaran, tersedia sejumlah cemilan dan minuman yang siap disantap. Sembari menikmati konsumsi, acara pelantikan dimulai.

“Wih, enak ya, aku jadi membayangkan biskuit coklat, kripik kentang gurih, dan segelas teh Pucuk Harum yang baru keluar dari kulkas. Hem, perutku jadi lapar,” celetukku, memotong cerita, tapi tak kau tanggapi.

Pak Alaek, masih dengan gigi putih cemerlangnya, memberimu sepucuk amplop. Begitu juga kepada kawan-kawan di sekelilingmu. Kau tertegun. Menatap amplop dengan takjub. Berdecak kagum. Di dalam amplop itu, terdapat secarik surat yang akan mengubah hidupmu. Terbit segaris senyum begitu matamu menangkap sebuah tulisan di pojok kiri amplop, “Untuk Yth. M. Sultan Aladin, B-12, Pasuruan.”

“Oke, semuanya.” Pak Alaek mulai menjelaskan, “Ekskul sastra ini memiliki banyak anggota, mulai dari Idadiyah— santri baru, hingga Aliyah— santri tahap akhir. Akan tetapi, karena jumlahnya yang begitu membludak, sedangkan jumlah pembina ekskul yang sedikit, kami kewalahan mengatur mereka semua. Lalu, muncul sebuah ide di otak kami; Supaya lebih mudah untuk membimbing, kami akan membagi mereka menjadi beberapa sanggar. Berdasarkan tingkatan kelas masing-masing. Seperti sanggar C khusus kelas 6 Ibtidaiyah. Sanggar D khusus kelas 1 Tsanawiyah. Dan seterusnya.”

READ  Kegelapan

Kau mengangguk setuju, lalu mengacungkan tangan. “Siapa yang menjadi ketua di setiap sanggar itu?”

Pak Alaek menatapmu. Tersenyum penuh arti. “Silahkan buka amplopmu!”

Serentak, kau dan kawan sekelilingmu mulai membuka amplop. Kau pun terkejut. Mendapati bahwa kau dan semua peserta undangan adalah ketua bagi setiap sanggar. Kau terpilih menjadi ketua sanggar kelas 2 Tsanawiyah. Wow! Banyak reaksi dari kawan sekeliling. Ada yang memasang muka kaget. Seakan tak percaya takdir. Ada yang biasa saja. Sudah menduga bahwa dirinya akan menjadi ketua. Ada yang mengeluh, seolah tidak mau.

Sedangkan kau, bagaimana? Jangan ditanya! Tentu saja kau gembira. Menjadi ketua sebuah klub sastra adalah impianmu sejak mengenal dunia tulis-menulis. Kau riang bukan kepalang. Di balik kacamata bundarmu, sorot matamu bercahaya. Wah! Kau akan memimpin prajuritmu untuk berkarya sastra. Terbayang di anganmu, kau dan pasukamu menjuarai berbagai event sastra nasional. Viral seantero dunia maya. Dapat penghargaan dari pemerintah. Diundang mengisi seminar di mana-mana.

Namun, cahaya di wajahmu seketika pudar begitu Pak Alaek melanjutkan penjelasannya.

“Tugas kalian sebagai ketua, tentu mengontrol para anggota supaya disiplin. Pilih wakil atau sekretaris terserah kalian! Persiapkan sanggar kalian! Karena dua pekan lagi, akan ada lomba cerpen terbaik dan pembacaan puisi. Oh iya… terakhir, yang paling penting, beri nama sanggar kalian! Yang unik. Yang menarik. Oke?”

Oke, Pak!” Semua ketua menjawab kompak, kecuali kau. Matamu terbelalak. Sedetik, dadamu menahan napas.

Tak pernah terbayang olehmu untuk membuat nama sebuah sanggar. Kau pun bingung. Risau. Selama sehari penuh kau selalu berpikir serius. Terkadang kau terlihat bimbang. Resah. Otakmu bekerja keras. Berkutat dengan pencarian nama yang tak kunjung ditemukan. Saat kusapa, kau menatapku sinis. Tak mau diganggu. Ketika bertemu di jalan, pandangamu tetap lurus pada jalan. Tak menggubris panggilanku. Saat aku duduk di sampingmu yang tengah menulis di buku, kau beranjak pergi. Menjauh. Hilang di balik tembok.

“Ooo…. Oleh sebab itu kau tak menghiraukanku kemarin?” sahutku, baru paham.

Mencari nama yang unik, tapi terkesan lebay. Nama yang normal, tapi terlalu biasa. Nama berbahasa Inggris, tapi susah dilafalkan oleh orang awam. Nama yang bersajak, tapi tampak tak cocok. “BAGAIMANA INI?!” Keluhmu di tengah malam, tak bisa tidur

Kala pagi ini terbit, kau pun bangun dengan malas. Menjalani setiap aktivitas pesantren dengan lesu. Melangkah gontai sepanjang waktu. Wajah murung bagai mendung. Pagi yang buruk, pikirmu. Dari relung hatimu, terbersit sebuah niat. “Aku butuh refreshing. Otakku perlu menyejukkan mesinnya.”

Maka di sinilah kau, Di balkon masjid pesantren lantai dua, menenangkan diri. Sebelum aku datang, kau memandang langit sebentar. Mengembuskan napas panjang. Melepas penat. Mengusir lelah. Kemudian, tubuhmu membeku. Sesaat, jantungmu berhenti berdetak. Kau terperangah. Langit membuatmu terkesiap. Sontak, kau berdiri. Muncul sebuah bohlam kuning kecil di atas ubun-ubunmu. Bohlam itu menyala terang. Memberimu sebuah ide cemerlang, seperti gigi Pak Alaek Mukhyiddin. Kau meloncat kegirangan sambil mengepalkan tangan ke atas. “Eureka! Eureka!” Teriakmu kesenangan.

READ  Rafly

Saat itulah aku melihatmu lalu menghampirimu. Kemudian, kau menceritakan ini semua.

“Eh, Bro! Kau belum menjelaskan mengapa kau senang. Apa yang kau temukan sehingga kau menjerit ‘Eureka! Eureka!’?” Sergahku seraya menepuk pundakmu.

Kau terkekeh. “Oh iya lupa.”

“Aku menemukan nama yang pas untuk sanggarku. Yaitu Sora no Sastra. Disingkat, Sanggar Sora,” jawabmu, memasang muka bangga.

“Apa itu?”

Kau memalingkan wajah, lalu menghadap langit. “Sora no Sastra adalah dua bagian. Sora no berarti langit, dari bahasa Jepang. Sastra berarti seni keindahan kata, dari bahasa Indonesia. Bila disambung, jadilah langit sastra.

Kita tahu, langit adalah pemandangan yang super luas. Dari timur hingga barat, utara ke selatan, tak terlihat ujungnya oleh mata manusia. Langit juga selalu tampak memesona. Baik di kala fajar, terik, senja, malam, maupun badai. Tentu dengan keunikannya masing-masing.

Sastra itu seni. Seni yang menyentuh hati. Menghanyutkan pikiran. Membangkitkan semangat. Seni yang mampu menitikkan air matamu atau mengobarkan tekad di dadamu.

Dengan sastra, Sanggar Sora akan menunjukkan langit di kala fajar. Bagaimana lingkar mentari mengintip malu-malu. Mendaki sedikit demi sedikit. Hawa dingin pun memudar. Berganti hangat. Perlahan tapi pasti, langit terang. Mulanya kuning lembut, kemudian menjadi biru. Biru nan halus. Pepohonan rindang mulai terbangun. Melangitkan oksigen segar ke penjuru atmosfer. Kawanan burung ikut menghias udara. Terbang ke sana ke mari. Berkicau ria. Pada akhirnya, terbit segaris senyum di bibirmu. Menikmati suasana pagi.

Dengan sastra, Sanggar Sora akan menunjukkan langit di kala terik. Bagaimana matahari tepat di atas ubun-ubun. Bulat sempurna. Putih kekuning-kuningan. Memancarkan benderang sinar. Penuh seluruh langit telah biru. Biru muda yang benar-benar cerah. Biru yang keren! Serasi dengan gumpalan awan kumulonimbus yang melayang riang, bak kapas putih nan ringan. Berbaring di padang rumput luas, kau pun tersenyum simpul. Langit nan spektakuler.

Dengan sastra, Sanggar Sora akan menunjukkan langit di kala senja. Bagaimana mentari mulai mengantuk. Kuningnya menggelap. Berubah jingga. Jingga yang hangat. Langit pun berwarna merah keemasan. Para burung kembali ke sarang. Berkumpul kembali bersama keluarga. Pelan-pelan, langit merah menjelma ungu violet. Ungu yang elegan. Pada akhirnya, lingkar surya menyentuh garis cakrawala. Mengucap sampai jumpa esok pada dunia. Ia menutup hari dengan cahaya lembayung nan mengenang di setiap hati insan, baik ketika suka maupun duka.

Dengan sastra, Sanggar Sora akan menunjukkan langit di kala malam. Bagaimana pelataran langit gelap gulita, tak lagi tampak seram. Bulan sabit yang bercahaya bertengger teguh di angkasa. Ditemani ribuan gemintang yang menancap indah di sekujur semesta. Membentuk sebuah lukisan raksasa. Berkanvas hitam legam, bertabur titik-titik putih yang berkilau. Kerlap-kerlip, membuat pupil matamu berbinar. Sesekali bila beruntung, kau akan menemukan bintang jatuh. Melintas sekejap dengan sinar gemilangnya.

READ  Seni Mengarang Cerpen

Dengan sastra, Sanggar Sora akan menunjukkan langit di kala badai. Bagaimana langit tengah murka. Gulungan awan abu-abu pekat berkumpul memadat. Memproduksi halilintar. Petir-petir yang menggelegar. Menumpahkan berliter-liter cair. Menyerbu bumi habis-habisan. Bergemuruh kacau. Berisik dan basah. Akan sering muncul, sekilas cahaya kilat berkelebat. Lalu terdengar bunyi berdentum berat, bagai tembakan meriam. JDER! Para penduduk bumi pun bersembunyi. Berlindung di rumah-rumah. Di sarang-sarang. Di kamar-kamar. Di gedung-gedung. Di bawah tanah. Di dalam laut. Di balik permukaan apapun yang ada di tubuh pertiwi.

Dengan sastra, Sanggar Sora akan melukis, menggambar, menampilkan, dan bercerita tentang semua cerita. Baik senang atau sedih, euforia atau tragedi. Dengan cerpen, puisi, novel, prosa, dan sebangsanya, Sora akan menyajikan keindahan isi dunia melalui sastra.”

“Lalu mengapa dipilih bahasa Jepang, Sora no?” Kau menengokku, bertanya pada diri sendiri, lalu menjawabnya sendiri, “Karena aku ingin meniru kesuksesan Jepang dengan animenya.”

“Hah…. Anime?” responku, terheran-heran.

“Iya, anime. Karena begini,” Kau menghadap langit lagi, “Jepang berhasil mengharumkan namanya di kancah dunia lewat animenya. Kita tidak mengenal Jepang hanya gegara Hiroshima dan Nagasaki pernah dibom atom Amerika. Itu kenangan buruk. Kita tidak mengenal Jepang hanya gegara ia punya teknologi canggih. Semua negara adidaya juga punya. Namun, Jepang, dengan ciri khasnya, mampu membuat seluruh dunia tercengang takjub atas film animenya. Kita semua tahu bahwa anime-anime yang berkualitas, dramatis, dan realistis, berasal dari negeri Sakura itu. Seperti Naruto, Kimetsu no Yaiba, Kimi no Nawa, Tenki no Ko, dan lain-lain. Anda bisa melihat sendiri rekomendasi situs donwload anime sub indo terlengkap di portal Sultan Anime

Sora pun juga akan seperti itu. Dengan Sastra, Sanggar Sora akan mengharumkan nama pesantren, pondok kita tercinta, di kancah internasional. Supaya seluruh dunia tahu bahwa pesantren memiliki sumber daya manusia yang super mumpuni dan genius di bidang sastra. Dan pelopornya adalah Sanggar Sora.”

Kau menutup presentasi panjangmu dengan senyum lebar, tapi tak selebar senyum Pak Alaek Mukhyiddin yang sampai menampakkan gigi putih cemerlangnya.

Akan tetapi, aku benar-benar minta maaf, Aladin. Karena sebenarnya, saat kau sibuk menjelaskan, aku tertidur lelap. Aku hanya mendengar kata anime ketika aku tak sengaja bangun dan kau menengokku. Setelah itu, aku tidur lagi. Kau tak menyadari sebab kau melihat langit. Aku pun baru mengetahui secera utuh ceritamu itu setelah membaca cerpenmu yang berjudul “Sora no Sastra” di majalah. Maaf, Aladin. Aku tertidur, hehe.

__Terbit pada
18 Desember 2021
__Kategori
Cerpen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Guru

Guru

6 hari  yang lalu
Restu Ortu

Restu Ortu

1 minggu  yang lalu
Gaya Gravitasi Bumi

Gaya Gravitasi Bumi

2 minggu  yang lalu
Rafly

Rafly

2 minggu  yang lalu
Pelajaran Sejarah Dihapus?

Pelajaran Sejarah Dihapus?

3 minggu  yang lalu
Dunia Pesantren

Dunia Pesantren

1 bulan  yang lalu
Meniru Anime

Meniru Anime

1 bulan  yang lalu