Pesantren Melahirkanku Kembali

Suatu malam di bawah lorong jembatan tol Purbaleunyi, Bandung. Fernando meraungkan motor CBR yang sudah dimodifnya, tanda bahwa dia ingin memulai balapan liar bersama lawan balapnya. Di hadapannya dan lawan balapnya terdapat cewek berpakain serba mini mengangkat tangannya memberi aba-aba mulainya balapan. Setelah aba-aba mulai diturunkan, dengan cepat semua peserta balap melesat bagaikan torpedo. Tak sedikit dari peserta balap liar itu terjatuh dan mengalami luka berat. Namun, Fernando yang sudah mahir mengendarai motor mampu menyaingi yang lainnya sehingga ia menang dan mendapat juara pertama.

Kemenangan Fernando pun disambut oleh dua cewek cantik dengan membawa sebotol bir untuk diberikan kepadanya. Teman-temannya juga menyambutnya dengan menepuk tangan memuji-muji Fernando. Akhirnya, pesta kemenangan itu diisi dengan mabuk-mabukan bersama. Suasana amoral sangatlah tampak, di sana terdapat banyak minuman-minuman keras, tarian cewek setengan telanjang, musik dugem, dan pil-pil estasi di mana-mana.

Tak terasa sudah dini hari, Fernando pulang dalam keadaan mabuk sempoyongan memasuki rumahnya. Ketika ibunya menghampirinya, dia langsung dimarahi habis-habisan “dasar anak tidak tahu diuntung pulang-pulang selalu mabuk”. Tidak selang lama, ayahnya pulang dari kantornya dengan mengandarai mobil Cevroletnya. Sang ibu menaggapi sang ayah dengan kata-kata kasar “ini ayahnya juga sama dengan anaknya, selalu pulang tengah malam gak mungkin kalau hanya kerja pulang jam segini” sang ayah juga menanggapi perkataan itu sehingga terjadilah pertengkaran di antara keduanya. Keadaan tersebut sering mewarnai keluarga itu sehingga tidak pernah tercipta suasana yang harmonis.

Fernando terbaring tidur di kamarnya. Pada saat itu, dia bermimpi didatangi orang tua yang mengenakan imamah, sorban, serta jubbah serba putih dan berkata “anakku bukan seharusnya hidupmu seperti ini, kembalilah kepada dirimu yang asli nak”. Tiba-tiba orang tua tersebut menghilang. Lantas Fernando meneriakinya “jangan pergi hai orang tua ! aku ingin tahu siapa dirimu” dia langsung bangun dalam keadaan panik serta mengenggos-enggoskan nafasnya. Mulai dari itu, dia selalu penasaran mengapa dia bermimpi seperti itu.

Matahari memamerkan panasnya di siang hari, Fernando dengan membawa tongkat kasti memandang sengit terhadap musuhnya. Pada saat itu sedang barhadapan antar geng untuk tawuran gara-gara masalah sepele. Setelah tawuran itu terjadi banyak dari mereka yang bengalami luka-luka  termasuk Fernando. Dia terkena pukulan dari lawannya dengan menggunakan rantai motor yang dibelitkan di tangan. Pukulan tersebut tepat mengenai kepalanya yang menyebabkan ia harus dirawat di rumah sakit.

Fernando terbaring di rumah sakit dengan luka yang ada di kepalanya sehingga ia kurang sadarkan diri. Di sana, dia ditemani oleh ayah dan ibunya. Namun, mereka bukan malah prihatin justru marah dengan tingkah lakunya.

READ  Cerpen Kehidupan Remaja di Era Globalisasi

“anak ini malu-maluin saja”

“kenapa juga dulu kamu mengadopsinya”

“ya karena kita kan susah mau punya anak ma”.

Tanpa sengaja, Fernando mendengarkan perbincangan mereka meskipun keadaanya setengah sadar.

Setelah Fernando dinyatakan sembuh, dia pun pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, dia termenung sendiri di dalam kamarnya sambil memikirkan keadaan nasibnya yang serba hura-hura, kondisi keluarga yang selalu ribut, ditambah perkataan ibunya yang ia dengarkan kemarin bahwa ia anak adopsi. Di sisi lain, dia juga memikirkan tentang siapa jati dirinya yang sebenarnya jika mengingat tentang mimpinya yang lalu.

Di malam hari, Fernando mengemasi barang-barang yang kemudian ia lemparkan ke bawah, dengan perlahan ia turun ke bawah lewat jendela tanpa ada yang tahu. Akhirnya, Fernando pergi dari rumah karena muak dengan kehidupan yang tidak nyaman.

Tapak demi setapak, Fernando melangkahkan kaki tak tahu harus ke mana. Dia menyusuri jalan berkilo-kilometer sampai ia tiba di kabupaten Tasikmalaya. Dengan keadaan seperi itu, dia makan dengan mengambil sisa makanan orang lain dan tidur menggunakan koran sebagai alasnya.

Sudah satu minggu Fernando menelusuri jalan. Akhirnya, dia menemukan rumah kosong yang menurutnya layak untuk disinggahi. Setelah dia masuk ke dalam ternyata dia menemukan banyak uang, bir, kartu remi, dan pedang. Di ruang atas rumah sersebut terdengar suara seperti sekelompok orang yang lagi berunding. Ternyata, rumah itu adalah markas bajingan di wilayah tersebut.

Sepertinya Fernando merasa bahwa rumah tersebut di serbu sekawanan orang. Setelah sekawanan itu masuk ke dalam rumah, ternyata mereka adalah polisi yang menyergap tempat tersebut. Fernando dan sekawanan bajingan tersebut tertangkap untuk menjalani pemeriksaan labih lanjut.

Sungguh tak disangka-sangka, Fernando terlibat kasus yang memilukan. Semua bajingan diperiksa oleh polisi termasuk Fernando. Polisi tersebut memeriksa indentitas dan kronologi masing-masing. Akhirnya, setelah menjalani pemeriksaan Fernando terbukti tidak bersalah. Hal ini membuatnya lega karena bisa keluar dari jeratan hukum.

Melihat kondisi Fernando yang tidak membaik, polisi bertanya kepadanya perihal keadaan dan latar belakang kehidupannya. Setelah dia menceritakan semua tentang dirinya, polisi tersebut memberi solusi kepadanya untuk tinggal di panti rehabilitasi. Dengan terpaksa Fernando mengiyakan masukan tersebut.

Polisi tersebut mengantarkannya ke panti rehabilitasi yang terletak di pelosok desa Tulung. Sesampainya di lokasi Fernando melihat palang gapura panti rehabilitasi yang bertuliskan “Manzilul Hidayah” dan melihat suasana panti tersebut. Dia sowan bertemu Kyai Rohmat Alam pengasuh panti tersebut dibarengi dengan polisi yang mengantarnya. Sang kyai mengiyakan Fernando tinggal dan dididik di lembaganya. Panti tersebut sama-persis dengan panti rehabilitasi narkoba atau napza.

READ  Cinta Terlarang

Panti rehabilitasi tersebut bertujuan menampung para narapidana, tunawisma, dan tunanetra untuk dididik agar bisa menjalani hidup layaknya manusia pada umumnya dengan bersandar pada agama. Santri yang tinggal di sana banyak yang diambil dari seorang mantan preman, mantan pemabuk, mantan pencuri, gelandangan, penyandang cacat mental namun yang paling banyak adalah mantan pecandu narkoba.

Di sana, Fernando belajar tentang arti kehidupan. Yang ia pelajari meliputi ilmu-ilmu agama islam, seperti fiqh, tauhid, akhlaq, nahwu, dll, termasuk juga belajar beladiri khas sunda Gagak Lumayung. Tidak hanya itu, dia juga belajar tentang kemandirian seperti bekerja dan bercocok tanam di sawah. Sehingga. Dia merasa dirinya terlahir kembali sebagai seorang yang berjiwa agamis.

Perjalanan Fernando berjuang menjalani kenyataan hidup di panti rehabilitasi tidaklah mudah. Di sana, dia dituntut bekerja keras dalam mencari ilmu dan kerja. Tentunya, hal tersebut disandingi dengan beberapa amalan-amalan dan hizib-hizib untuk menunjang kegiatan dan membersikan hati dari sifat-sifat tercela. Kegiatan tersebut dilaksanakan setiap harinya secara serempak. Dia juga terserang penyakit gatal-gatal bernanah. Namun, semua itu ia anggap sebagai pelebur dosa-dosanya terdahulu.

Tujuh tahun sudah berlalu, Fernando merasa dirinya semakin berkembang ilmu dan kepribadiannya. Dia juga terbilang orang yang mempunyai kemampuan lebih dalam mempelajari ilmu-ilmu agama dibandingkan yang lainnya. Hal tersebut mambuat Kyai Rohmat Alam kagum dan penasaran siapa Fernando sebenarnya. Akhirnya, kyai rohmat alam yang terkenal menguasai ilmu hikmah dan metafisikanya membuka mata batinnya untuk memastikan hal itu. Ternyata hasilnya luar biasa, Kyai Rohmat Alam melihat Fernando bukan keturunan orang biasa dan mempunyai nama lain dalam bahasa arab.

Setelah kejadian tersebut, Kyai Rohmat Alam lantas memanggil Fernando. Setelah ia datang, kyai mengajaknya berbincang-bincang.

“kamu ini dulunya orang yang nakal ya”

“iya kyai”

“lantas kemudian ada dorongan dari sesuatu yang membuatmu berhenti”

“iya kyai”

“apa itu ?”

“mimpi mertemu seorang kakek tua mengenakan sorban, jubah, serta imamah kyai”.

Kemudian sang Kyai menyuruhnya puasa mutih selama 40 hari. Fernando mengiyakan permintaan tersebut dan mau melakukannya.

Luar biasa, dalam kurun waktu 40 hari Fernando berhasil melaksanakanya. Kemudian, dia menyendiri di tempat sepi yang agak jauh dari pemukiman santri. Akhirnya, dia dijumpai kakek tua yang ada di mimpinya dan berkata “nak kamu sudah berhasil menjadi dirimu yang sebenarnya, sekarang kamu sudah keluar dari kehidupan yang cinta dunia menjadi seorang yang dekat kepada Allah SWT, dan gunakanlah nama Mukhtar Said, karena itu adalah namamu yang sebenarnya, pergilah dari sini dan temui aku di desa Ngadi”. Setelah memberi pesan-pesan tersebut kakek tua tersebut langsung pergi menghilang.

READ  Liburan yang Begitu Singkat

Tanpa berpikir panjang Mukhtar meminta izin kepada kyai untuk pergi menjumpai kakek tua tadi. Kemudian, sang kyai meminta agar dirinya juga ikut menemaninya pergi. Setelah lama di perjalanan, akhirnya mereka berdua menemukan desa Ngadi. Mereka berdua kemudian bertanya pada  salah satu penduduk setempat tentang pesantren yang dimaksud. Setelah mereka menemukan pasantren yang dimaksud yang ternyata  bernama Nurul Islam. Mereka berdua langsung sowan menemui pengasuhnya.

Bertemulah mereka berdua dengan pengasuhnya yang bernama KH. Asep Mubarok. Mereka berdua pun berbincang-bincang.

“ada keperluan apa anda kemari”

“kami disini ingin menemui seorang kakek tua yang selalu bersorban”

“kakek tua siapa yang anda maksud”

Mukhtar terdiam sambil menoleh-noleh ke sudut-sudut ruang tamu dan menemukan lukisan kakek tua yang dimaksud.

“itu dia lukisan kakek tua yang saya maksud”

Kyai Asep pun kaget dan berkata ”itu lukisan kakak saya yang sudah lama meninggal, ngomong-ngomong siapa nama anda”

“nama saya Mukhtar Said”

“subhanallah, engkau adalah keponakanku yang sudah lama hilang”

Kemudian Mukhtar Said dan Kyai Rohmat Alam terkejut.

Kyai Asep melanjutkan “itu adalah ayahmu, mari saya tunjukkan makamnya”.

Mereka berdua langsung diantarkan Kyai Asep ke makamnya. Setelah tiba di lokasi, Mukhtar ditunjukkan oleh Kyai asep makam yang bertuliskan KH. Ali Jauhari di nisannya. Dia langsung tersungkur dan menangis. Kyai Asep menepuk pundaknya dan menceritakan semuanya ”dulu ayahmu adalah pengasuh di pesantren ini kemudian beliau dan pesantrennya dituduh sebagai lembaga cokolan DI/TII Tasikmalaya. Pesantrennya digrebeg polisi,sedangkan ayahmu ditahan di penjara, dikarenakan serangan jantung ayahmu kambuh beliau langsung meninggal di penjara, sedangkan dirimu yang masih bayi dibawah lari oleh salah satu santri ke hutan demi menyelamatkanmu. Setelah pengadilan saya menangkan tentang kasus tersebut saya merintis kembali pesantren ini yang sempat fakum selama 3 tahun. Sekarang, engkau ada di sini dan pesantren ini adalah tanggung jawabmu”.

Setelah itu, Mukhtar said diangkat sebagai pengasuh menemani Kyai Asep. Mereka berdua membina para santri dengan sungguh-sungguh sanpai pondok pesantren Nurul Islam tersebut semakin berkembang dan santrinya semakin banyak. Di balik itu, Kyai mukhtar tidak lupa dengan guru dan orang tua angkatnya terdahulu.

Keesokan harinya, Kyai mukhtar pergi ke Bandung menemui orang tua angkatnya. Setelah beliau bertemu orang tua angkatnya, kedua orang tua angkatnya menangis dan memeluknya. Mereka berdua pun taubat melihat Fernando yang dulunya nakal sekarang menjadi seorang Kyai. Kyai Mukhtar mengajari mereka berdua tentang agama islam. Dan akhirnya, keluarga mereka menjadi harmonis tidak seperti yang dulu lagi.

__Terbit pada
11 Januari 2022
__Kategori
Cerpen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Guru

Guru

6 hari  yang lalu
Restu Ortu

Restu Ortu

1 minggu  yang lalu
Gaya Gravitasi Bumi

Gaya Gravitasi Bumi

2 minggu  yang lalu
Rafly

Rafly

2 minggu  yang lalu
Pelajaran Sejarah Dihapus?

Pelajaran Sejarah Dihapus?

3 minggu  yang lalu
Dunia Pesantren

Dunia Pesantren

1 bulan  yang lalu
Meniru Anime

Meniru Anime

1 bulan  yang lalu