Rafly

Rupanya Lelaki tampan kekar ini mulai bersedih, mendengar kabar kekasihnya telah di pinang oleh orang lain. Perasaan yang tersimpan bertahun-tahun kini sudah hancur lebur tiada artinya. Sejak itulah dia sering menyendiri meratapi musibah yang sedang menimpanya saat ini. “Ya Allah, kalau dia memang jodohku, tolong kembalikan dia kepadaku. Tetapi, jikalau dia bukan jodohku, tolong hilangkan perasaan ini. Karena aku tidak ingin waktu belajarku terbuang sia-sia hanya di sebabkan perempuan yang tidak lagi mencintaiku”. Dia berdoa di setiap selesai shalat.

“apa kekuranganku sehingga Alana tega meninggalkanku atau aku punya salah padanya yang sampai menyakiti hatinya. Apa mungkin? Dia dijodohkan oleh Orang tuanya, mau tidak mau dia harus menerimanya apapun resikonya, untuk menjadi anak yang berbakti kepada Orang tua” pikirnya secara Husnudzan sambil membaca kitab suci al-Qur’an di pesarean untuk melupakan hal itu. Berkali-kali ia mengusap Air mata di pipinya tetapi tetap saja mengalir dan Rasa sakit terus menyelkit di hatinya. Di samping itu, rasa marah yang terus membara di kala ia mengingat ucapan tidak enak yang sering kali ia dengar dari teman-teman kelasnya. Lebih-lebih terhadap Risky teman bangkunya, karena dialah yang menjadi Pelopor kabar itu viral di kalangan teman kelasnya.

Dua hari yang lalu, saat ia sedang mendengarkan keterangan dari Ustaz Fairuzi, ia mendengar ucapan yang membuatnya tidak lagi fokus pada materi pelajaran. “kasihan ya Rafly, bertahun-tahun dia berpacaran dengan si Alana. Eh, malah di ambil orang”. “mungkin Alana sudah tidak mencintainya lagi”. “Ya iyalah, dianya aja yang sok, mentang-mentang pacaran terus pasti dia miliki. Ya, Namanya juga jodoh, tidak ada yang tahu!”. “Gini nih, kalau  berpacaran, Ustaz. Fairuzi kan sudah bilang, pacaran itu haram. Eh, dianya aja yang mokong!, Rasain tuh”. “Ha ha ha…” semua teman kelasnya menertawainya. Dan ucapan tidak enak lainnya.

READ  Seni Mengarang Cerpen

Begitu sadar bahwa jam menunjukan pukul 11:30 WIS. Ia langsung beranjak dari tempatnya dan bergegas untuk siap-siap berangkat sekolah. “Masih sedih ya?” tanya Risky sambil menepuk pundak Rafly. “Nggak kok, aku sudah biasa menghadapi masalah seperti ini”. “Sudahlah, lupakan semua itu, Yang lalu biarlah berlalu. Barangkali Alana bukanlah jodohmu, siapa tahu jodohmu lebih Shalihah dan lebih cantik darinya”.

Risky berusaha menenangkan gejolak hati temannya yang sudah bertahun-tahun duduk sebangku dengannya. Akan tetapi hasilnya nihil, Rafly terdiam membisu tidak ada satu katapun yang terlontarkan dari mulutnya. Risky mengerti akan hal itu dan memang dialah penyebab viralnya berita tersebut. Kok seandainya dia tidak memberitahukan kepada teman-temannya, mungkin Rafly tidak se-sedih saat ini. Dia membiarkan teman karibnya itu melupakan masalahnya sendiri.

***

Tak terasa pulangan Ramadhan sudah hampir tiba. Dikarenakan ujian semester genap sudah dilaluinya yang menurut Rafly sendiri baik dan lulus di akhir tahun nanti. Ia betul-betul yakin karena dalam pembuatan makalah, ia mendatangi layanan Joki Tugas yang murah dan berkualitas di situs Buatin Tugasku. Ia juga telah berniat untuk menghatamkan al-Qur’an di pesarean sebelum pulangan, sebagai tirakatnya di pondok dan ia  memang mempunyai keistimewaan mengkhatamkan al-Qur’an satu bulan sebanyak dua kali. Tapi kali ini dia berniat untuk mengkhatamkan al-Qur’an dalam jangka waktu tujuh hari.

Seperti biasa tepat pada pukul 11:00 WIS dia pergi ke pesarean mambaca al-Qur’an. “Gimana ya, kabarnya Alana di rumah?”. Tiba-tiba pikiran busuk itu muncul kembali. Ia meneruskan ngajinya dengan suara yang lebih keras, bertujuan mengusir halusianasi yang sudah tak berarti baginya.

“Duk, duk, duk”. Syahdan, dia berhenti mengaji dan bergegas ke masjid untuk melaksanakan shalat dzuhur berjamaah, setelah itu berangkat ke sekolahan. Rasa marah Yang berada di hati Rafly terhadap teman bangkunya itu, kini masih tak kunjung padam. tetapi dia berusaha untuk menyembunyikan rasa marah itu dari Risky. “kamu masih marah ya, sama aku” Tanya Risky dengan nada rendah. “nggak, aku Cuma bosan saja berada di sini” jawabnya menghela.

READ  Pesantren Melahirkanku Kembali

“oh, ya teman-teman, pulangan hampir tiba. Berarti? Bakalan ketemu mantan nih!”. “cie…”. Suara yang terdengar dari belakang itu membuat Rafly semakin tidak nyaman berada di dalam kelas. Ia memutuskan tidak masuk pada jam berikutnya dan meminta tolong kepada Rizky supaya mengizinkannya. Ocehan demi ocehan tak lagi dia dengarkan dan hanya fokus pada keterangan Ustaz Fairuzi dengan harapan Husnul Khatimah.

***

Pulangan sudah di depan mata. “pengambilan  Raport akan di laksanakan nanti malam setelah mendapat Tausyiah dari majelis keluarga”. Begitulah teks yang tertera di sebuah  kertas pemberitahuan di kelas. “Allahummaj’alna Minan Najihin” doa Rafly dalam hati.

Sebelum pengambilan raport di mulai, Rafly pergi ke pesarean terlebih dahulu membaca al-Qur’an dan berdoa kepada Allah, semoga ia dan kawan-kawan yang lain lulus pada akhir tahun ini. “Rafly…” ujar Ustaz Fairuzi dengan memberikan sebuah kertas yang berisi nilai di dalamnya. “Alhamdulillah, aku lulus” dengan rasa penuh bersyukur.

Pukul 8:30 WIS pagi dia baru sampai dia baru saja Sampai pada kampung halamannya. “assalamualikum” ucapnya di depan pintu rumah sambil mengetuk pintu. “Walaikum Salam” suara yang terdengar dari dalam rumah. Sang ibu keluar menyambut kedatangannya dengan adiknya Aisyah. “makan dulu nak, Ibu udah menyiapkan makanan kesukaanmu di dapur”. “Enggeh bu” sahutnya dengan nada yang sangat halus.

Pada malam harinya, ia ingin membeli baju di mal menggunakan uang tabungannya. “sa, ikut aku yuk beli baju di mal?” ajak Rafly kepada Mahesa (teman kentalnya sebelum ia mondok ke Pesantren) melalui Chat WhatApp. “baiklah aku tunggu di rumah” jawab Mahesa.

Biasanya dia pergi ke mal bersama dengan Alana mencari baju untuk lebaran nanti dan baju yang di beli pastilah sama persis dengan Alana. Tapi kali ini dia pergi bersama dengan teman karibnya. Kesana kemari dia berjalan di mal, tetapi tidak ada satu bajupun yang tersentuh. “kamu cari baju yang bagaimana Raf?”. “gak tahu nih, gua bingung cari yang mana. Soalnya aku dari dulu kalau beli baju di sini sama…” dia tidak meneruskan ucapannya. “Sama siapa Raf?” tanya Mahesa dengan rasa penasaran. “hey, ayo ke lantai dua” dengan memalingkan perkataan.  Ketika berada di lantai dua, hasilnya tetap sama. Tidak ada satu bajupun yang menurut Rafly bagus.

READ  Cerpen Kehidupan Remaja di Era Globalisasi

Tanpa sengaja dia menabrak seorang perempuan yang sedang memilih baju, “maaf mbak nggak sengaja”, ujar Rafly kepada perempuan itu. “iya, mas gak papa kok”. Dia meneruskan jalannya dan tiba-tiba ada yang mamanggilnya dari belakang, “hey Rafly”. Ia tidak menghiraukannya, “mungkin bukan Rafly aku yang di maksud” Gumamnya. “Hey Kamu Rafly kan?” suara yang ke dua kalinya. “aku Alana” dengan suara agak keras. Spontan dia memalingkan wajah, dan ternyata benar-benar Alana. lalu dia pergi meninggalkannya dengan berlagak se akan-akan tidak mengenalinya. “Bukannya aku benci kepadamua Alana, tetapi engaku bukanlah milikku lagi. Dan pada suatu hari nanti, seandainya engkau dicerai oleh suamimu. Maka akulah orang pertama kali yang akan menikahimu bagaimanapun keadaanmu saat itu”.

__Terbit pada
5 Januari 2022
__Kategori
Cerpen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Guru

Guru

6 hari  yang lalu
Restu Ortu

Restu Ortu

1 minggu  yang lalu
Gaya Gravitasi Bumi

Gaya Gravitasi Bumi

2 minggu  yang lalu
Rafly

Rafly

2 minggu  yang lalu
Pelajaran Sejarah Dihapus?

Pelajaran Sejarah Dihapus?

3 minggu  yang lalu
Dunia Pesantren

Dunia Pesantren

1 bulan  yang lalu
Meniru Anime

Meniru Anime

1 bulan  yang lalu