Restu Ortu

      Khalili adalah anak probolinggo, lahir pada tahun 2000. Dari pasangan bapak Arifin dan ibu rafi’ah. Terlahir dari keluarga yang sederhana. Tapi, tidak membuatnya mengeluh atau patah semangat untuk menuntut ilmu.

        Parahnya, ketika semua teman-teman sebayanya sudah disekolahkan ke sekolah

Dasar (SD), dia tidak tinggal diam dan meminta kepada orang tuanya untuk di sekolahkan juga,

“pak, bu!!! Saya juga mau sekolah seperti teman-teman yang lain” pintanya manja kepada orang tuanya. 

“jangan! Kamu masih kecil, jadi belum boleh sekolah. Jawab sang ibu sambil memeluknya. “tapi kan teman-teman saya sudah sudah sekolah semua bu, nanti mainnya sama siapa?  “sudah lah bu kita sekolahkan saja. Lagian kan Khalil sendiri yang minta, biar tidak putus asa di pertengahan hari nanti, lagi pula di sekolah kan banyak temannya. Kalau di rumah kasihan, sendirian.” Jawab sang bapak dengan nada santai dan sedikit menyemangati.

      Akhirnya, Khalili pun di sekolahkan oleh orang tuanya, di salah satu sekolah dasar negeri yang berada 

Di desanya. Haripun berganti bulan, dan bulanpun berganti tahun. Seiring berjalannya waktu setelah 6 tahun lamanya menempuh Pendidikan di SDN, Khalili pun di nyatakan lulus dan menjadi juara trebaik ke dua di sekolahnya. 

       Suatu ketika, dia sedang membuka hadiah yang di terima dari sekolahnya, sang ibu datang menghampiri, “nak, kan kamu sudah lulus. Tahun ini mondok saja ya!” bujuk sang ibu.” mondok? mondok dimana bu??” jawab Khalili agak sedikit kaget. “mondok, dulu ibu mondok disana”. Haduuuh….. tidak mau bu, saya mau ngelanjutin sekolah saja. Saya lebih suka sekolah umum daripada mondok. Biar nanti saya bisa juara lagi!”, ungkap Khalili kepada sang ibu dengan nada yang sedikit menolak.

  Akhirnya, Khalili pun tetap dengan pilihannya dan melanjutkan sekolahnya ke SMP negeri. Singkat cerita, tiga tahun berlalu dan Khalili berhasil menyelesaikan pendidikannya dan kembali dinyatakan lulus dari SMP negeri. Untuk kedua kalinya, sang ibu kembali membujuk Khalili, “nak, sudah cukup ya sekolahnya, mondok saja wes! Kan sudah besar”. Akan tetapi Khalili tetap menolak bujukan sang ibu, “tidak mau bu, mondok itu tidak enak, lebih enak sekolah umum, saya masih mau sekolah SMK seperti teman-teman yang lain. “kalau begitu sekolah sambil mondok saja wes!!”.  “hmm…. Ide bagus tuh bu, iya deh, saya mau mondok asalkan sama sekolah SMK”. Setelah di bujuk dan mendapat restu dari semua keluarga akhirnya Khalili pun di mondokan di salah satu pesantren yang terdapat sekolah umumnya.

READ  Doa Bidadari

Dan untuk yang sekian kalinya, Khalili berhasil menuntaskan pendidikannya di SMK dan kembali 

Dinyatakan lulus oleh sekolah. Dan dia merupakan salah satu dari 10 lulusan terbaik disekolahnya dan mendapatkan “beasiswa” untuk melanjutkan study ke perguruan tinggi tepatnya di kampus terbaik. “wah…. Ini kesempatan emas, kuliah gratis sampai jadi sarjana” gunamnya dalam hati. 

        Akhirnya Khalili pun mengabari orang tuanya yang berada di rumah melalui telepon. “Assalamualaikum”.  “waalaikum salam”. “pak, saya dapat beasiswa dari pondok untuk lanjut kuliah di universitas, gratis lo pak”. ungkapnya dengan nada yang gembira. “kata ibumu, kamu mondok ke sana saja, jangan lanjut kuliah, cukup SMK! “haduuuh…. Lagi-lagi mondok.” Sambil mematikan teleponnya, dengan wajah yang agak cemberut. Akan tetapi Khalili sama sekali tidak mengubris perkataan orang tuanya dan tetap mendaftarkan diri ke universitas yang dia maksud. 

Namun sayang beribu sayang, ketika Khalili sudah tercantum sebagaui salah satu mahasiswa

baru di universitas, dia memiliki masalah dengan salah satu dosen yang membuat namanya tercoret. “kamu setiap hari telat terus, dari mana saja kamu? belum jadi mahasiswa sudah sering telat ikut matrikulasi. Kalau tidak niat mendingan jangan kuliah”, ungkap salah satu dosen memarahi khalili yang sering telat masuk ruangan matrikulasi. “bapak jangan sembarangan pak, saya sering telat karena rumah saya jauh dari kampus unggul”. Ungkap Khalili dengan nada yang agak tinggi. “oh.. jadi kamu tidak terima? Kok berani kamu bantah-bantah saya” kata sang dosen.

Akhirnya cekcok pun terjadi di dalam ruangan hingga terjadilah sesuatu yang tidak di inginkan sebelumnya dan Khalili pun di keluarkan dari calon mahasiswa baru karena tindakan yang dia lakukan sangat tidak terpuji.

READ  Seni Mengarang Cerpen

Setibanya di rumah, khalili menyampaikan perihal yang terjadi di kampus kepada orang tuanya.

“pak, bu, maafkan anakmu ini yang tidak pernah mendengarkan kalian berdua, saya dikeluarkan dari kampus karena ada masalah dengan dosen”. Sambal mencium tangan kedua orang tuanya dengan nada sedikit menyesal. “kan sudah ibu sudah bilang, ibu mau kamu mondok bukan kuliah, biar jadi anak yang sholeh dan alim ilmu agama” nasehat sang ibu. “saya mau mondok lagi tapi jangan di sana”. “terus mau mondok dimana lagi.?” Tanya ibu. “mondok di situ bu, sepertinya saya tertarik mondok disana” Jawab Khalili. “yang ibu mau, kamu itu mondok di sana, bukan di pondok yang lain”. Sang ibu pun pergi meninggal kan Khalili berdua sama bapaknya di kamar. “ya sudah, kalu kamu mau mondok di situ akan bapak antar kesana” jawab sang bapak yang selalu menuruti kamauan Khalili.

Tepatnya pada tanggal 21 Syawal 1438 H. Khalili diantar oleh bapaknya untuk mondok di pesantren

yang terkenal di jawa timur tersebut.

Setibanya disana, Khalili dititipkan kepada seorang ketua konsulat dari Probolinggo, karena yang 

mengatur/mengurus pendaftaran santri baru dilakukan oleh ketua konsulat. “Ustad saya titipkan anak saya” kata sang bapak. “nggeh pak! tapi anak nya jangan didaftarkan dulu, biar adaptasi di pondok supaya kerasan” ungkap ustad tersebut. 

Hari demi hari telah berlalu, setelah 3 hari di PonPes Lirboyo ternyata Khalili tetap tidak kerasan dan memutuskan untuk pulang ke rumahnya. “Ustad saya sudah 3 hari disisni. Tapi, saya tetap belum kerasan. Saya mau pulang saja” ungkapnya disertai air mata ynag mengalir ke pipinya”. “jangan dulu, nunggu satu minggu saja. Kalau satu minggu tetap tidak kerasan kamu boleh pulang” kata sang Ustad berusaha membujuk agar Khalili tidak pulang. Namun usaha yang Ustad lakukan sia-sia Khalili tetap berpegang teguh pada prinspnya untuk pulang pada hari itu. Dan, Khalili pun pulang ke rumah tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.

READ  Pesantren Melahirkanku Kembali

Tapatnya pada pukul 08:30 WIB malam, Khalili tiba Di rumah merasa menyesali perbuatan

yang tidak pernah mendengarkan perkataan ibunya. “maafkan saya bu, mondokan saya ke sana saja” pinta Khalili kepada kedua orang tuanya. Mendengar pernyataan khalili itu, sang ibu pun tersenyum dan memmeluk Khalili dengan erat. “ia nak, besok rabu saja kalau mau mondok ke sana ibu sangat ridha kalau kamu mondok di sana” ungkap sang ibu dengan nada penuh kasih sayang. Hari Rabu pun tiba, tepatnya pada tanggal 25 Syawal 1438 H. Khalili di antar oleh ayah dan pamannya. Untuk berangkat menuju PonPes sana. Dengan membawa ridha dan restu dari sang ibu akhir nya Khalili ditakdirkan menjadi santri di PonPes sana hingga saat ini. Pada saat itulah dia sadar bahwa ridha kedua orang tua bisa merubah segala keadaan. Dari yang buruk menjadi lebih baik. Sebagaimana yang dijelaskan di dalam sabda Nabi Muhammad SAW: “ridha Allah tergantung ridha kedua orang tua, dan murka Allah tergantung murka kedua orang tua”.

__Terbit pada
12 Januari 2022
__Kategori
Cerpen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.