Sekolah Si Udin

Pada hari  Senin, tanggal 24 Mei 2016 atau bertepatan pada 16 Sya’ban 1437 Hijriyah. Hari saat diriku masuk dunia pondok pesantren, tak seperti kawan- kawanku. Aku baru pertama kalinya akan mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Aku baru mau mondok saat SMA. Kawanku ada yang dari SMP ada yang dari SD bahkan dari Taman kanak-kanak sudah mengenal dunia pesantren. Hal itu terutama mereka berada atau bertempat Ini kali pertamanya aku di pondok pesantren dan terasa asing bagiku memasuki gerbang pondok pesantren kala itu. Namaku Muhammad Najmuddin sering dipanggil dengan si Udin. 

Hari itu seluruh keluargaku mengantar kepergianku ke pondok, tak tanggung-tanggung kami membawa 3 mobil pribadi 1 mobil berisi perlengkapan mondok dan sekolahku,  kayak baju, celana, sajadah, tasbih, pulpen, buku, tas, sepatu, dan pelbagai alat lainnya serta perlengkapan keseharianku juga almari untuk bajuku. Sedangkan yang 2 mobil lainnya berisi seluruh keluargaku termasuk aku. Ada ayah, ibu, dua adikku si rohman dan rohim, pakde, bukde,  paman, bibi, paman, bibi serta ada mbah kakung (laki-laki) serta mbah putri (perempuan) yang ikut rombongan serta pak sopir. Keberangkatanku layaknya sebuah iringan manten (iringan untuk pernikahan). Walaupun  anak pertama, aku merupakan anak yang sangat disayang oleh seluruh keluargaku. Karena aku anak yang terlahir duluan diantara anak pakde atau pamanku, maklumlah.. ayah dan ibuku menikahnya lebih dulu dari mereka. Ketika kami sampai di pondok, aku sangat heran, kayaknya seluruh mata kurasa tertuju pada kami. Mata-mata yang sinis melihatku bahkan kudengar ada yang mencibir “dasar anak mama, pergi kepondok saja kayak iringan manten”. Ketika terdengar itu, aku baru sadar memang hari itu banyak yang datang untuk mengantar anaknya, namun tak ada yang seheboh diriku. Ada yang berangkat sendiri menggunakan angkot, ada yang diantar pakai motor, ada yang diantar pakai satu mobil, bahkan ada yang berangkat sendiri pokoknya sederhana, tak seribet diriku dan keluarga. Namun gumamku sendiri “wajar mungkin kalian dekat, dan sudah terbiasa aku sangat jauh dari pondok bahkan satu provinsi kami lewati dan hari ini pertama kali aku dipondok biasanya aku Cuma anak rumahan”. Memang terasa jauh mondokku, aku menuntut ilmu di daerah Lampung sedangkan rumah kami ada di Provoinsi Sumatera Selatan.

 Akhirnya ku biarkan pandangan mata sinis itu dan ocehan yang gak jelas keluar untukku. Kalau kata pepatah “biarlah anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu”. Bukan, bukan maksudku menganggap mereka anjing, sangat gak sopan, itu hanya peribahasa yang artinya biarlah orang ngoceh gak jelas kita tetap berjalan untuk meniti masa depan. Setelah itu diantarlah akau ke kamarku oleh kang Muslim penanggung jawab asrama putera. Sesampai di asrama putera, kami menurunkan barang-barangku dan semua ternyata membantu, tak seperti para penghuni asrama yang di gerbang aku mulai suka suasana ini. Suasana gotong royong yang rukun antar warga pondok putera, diangkatlah beramai-ramai barang-barangku ke kamar. Setelah selesai kami pun berkenalan ada Jazulli, ada kak Huda, kak Munir, Abid, Anwar dan masih banyak lainnya. Sekamar dihuni tiga orang dan Ternyata aku sekamar dengan Abid dan kak Munir serta bersebelahan kamar dengan kak Huda, Jazulli dan Anwar. Abid, Anwar, dan Jazulli itu teman sekelasku dan kak Munir dan Kak Huda itu kakak tingkat kami, aku banyak belajar dari mereka.

Seminggu telah lewat kulalui suasana pondok. Kegiatannya agak membuatku bosan. Sekitar jam 3-an dibangunkan untuk shalat tahajud, lalu shalat subuh berjamaah di masjid, mengaji kitab lalu pulang mandi, bersih-bersih langsung berangkat sekolah. Sampai sore kami sekolah karena berbagai pelajaran dan kegiatan ekstrakulikuler yang dilaksanakan. Setelah selesai kami pulang lalu mandi shalat ashar berjamaah kemudian mengaji lagi. Lalu pulang, makan malam kemudian shalat magrib jamaah mengaji terus shalat isya’ kemudian pulang lalu belajar untuk pelajaran sekolah besok. Kegiatan itu terus-terus berulang, membuatku bosan. 

READ  Bendera Tua

Tak sengaja aku berucap “enak dirumah yo kang? Kegiatannya banyak. Setiap hari kayak gini jenuh aku”. “Husy.. jangan banyak ngeluh, nikmati wae, kalau ikhlas enak kok, ndak akan terasa Din” ujar kak Munir. “Iya sih, kangen rumah tapi kak” 

“Kamu baru seminggu, lah kami ini sudah tahun-tahunan. Sampean harus luruskan niat biar ikhlas lillahi ta’ala dan ingat jangan kecewakan simbok dan bapakmu”

“Iya Udin, sebentar lagi juga libur kok, santai wae. Nanti dipuasin kangennya waktu pulang” timbal kak Huda”

Iya apa kak?” iya kan sebentar lagi puasa, nanti menjelang Lebaran kita libur. Tapi waktu awal disini. Sekali-kali sampean harus ngrasain puasa diluar rumah. Enak kok, nanti sampean ketagihan” tambah kak Munir.

“Alhamdulillah kalau begitu kak”. Aku senang sekali, mendengar ucapan mereka kalau sebentar lagi libur. Aku pun berusaha luruskan niat dan tidak mengecewakan ayah ibuku.

Dua minggu kemudian, akhirnya puasa tiba. Aku sungguh senang, bulan penuh keberkahan akhirnya kami bisa menemuinya lagi. Pada awal ramadhan kami shalat tarawih berjamaah dan sangat ramai. Teringat diriku akan suasana dirumah pada bulan puasa. Biasanya ibu membuat takjil, dan beberapa makanan untuk kami santap. Tapi kali ini harus tirakat, dengan makan seadanya. Namun, tak mengurangi arti ini. Didalamnya kami lebih banyak beribadah kepada Allah SWT.

Pada hari kedua, aku dan Abid pengen beli es buah untuk takjil puasa. Akhirnya kami sepakat keluar untuk beli takjil dan kawan-kawan nitip juga untuk takjil. Kami pun izin dengan kang Muslim untuk keluar. Kami berjalan dan sempat mengobrol. “bid, es buahnya enak ndak? Kamu sudah sering beli to?”

“Iya, kami sering beli kalau musim puasa, enak banget malah. Apalagi dikasih susu”

Glek.. aku mengunyah ludah karena membayangkannya. “awas batal Din, jangan nelen ludah, hehehe”

“jadi laper aku Bid, pengen cepet buka”

“sabar lek.. nanti malah batal lho.”

“oya, banyak yang nitip nanti kita lama, telat pula ndak ngaji nanti? Rame gak yang beli, kalau rame cari yang sepi aja biar gak lama.”

“Tenang Din, walaupun ramai nanti pasti prioritas. Kan kita beli banyak”

“Awas aja lama, kalau dimarah kang Muslim kamu yang nanggung”

“Ya bareng-bareng yo, yang keluar wong 2 terus yang pengen kan kamu. Aku Cuma nemenin. Hehehe…”

“okelah kalau begitu.. hehehehe” 

Sesampainya di tempat penjual, banyak yang sudah mengantri. Akupun duduk di kursi yang disediakan. Tiba-tiba dua orang cewek juga datang untuk membeli es buah. Abid pun kemudian memesan juga yang cewek itu. Akupun kaget karena yang seorang dari cewek itu langsung duduk disampingku.

“beli es buah buat takjil ya mbak?”

“Iya mas, mas juga?”

“Iya mbak, ini juga anak-anak nitip banyak.”

“Kalau kami beli untuk kami sendiri.”

“owalah, nama saya Muhammad Najmuddin, panggil saja Udin, mbak siapa?”

Tanganku tanpa sadar mengajaknya untuk salaman, biasanya aku terbiasa berkenalan dengan berjabat tangan. “ehm.. ehm.. ehm…” si Abid sengaja batuk jaim untuk meledekku. Tangan mbak itu pun tak menjabatku, mungkin karena malu ia menutupkan kedua tangannya untuk membalas jabat tanganku.

“nama saya Fitri Khodijah, biasa dipanggil fitri. Afwan ya mas, saya pulang dahulu. Sudah selesai kami belanjanya, mungkin kapan-kapan kita bisa mengobrol lagi”

READ  Dunia Pesantren

Dek.. dek.. dek.. mendengar ucapannya, jantungku berdegup kencang tak tau maksudnya apa. Aku tak pernah merasa seperti itu, hal yang aneh kurasakan. Aku terdiam, tak kujawab perkataannya. “ya mbak, terimakasih. Hati-hati” ujar Abid. Ia pun telah berlalu. 

“hoy, ndak pernah liat cewek ayu to…? Malah melamun, dia tadi pamitan lho.”

“hah, iya apa?”

“iyalah, itu sudah pergi gak kamu jawab ya aku yang jawab.”

“Ya sudahlah, ayo pulang, sudah selesai to es buahnya?”

“Huu.. ngalihkan pembicaraan”

mukaku kemerahan, malu dan juga senang. Aku merasa berbunga-bunga, mungkin ini yang disebut cinta pada pandangan pertama. Ketika di jalanpun aku kembali di ejek si Abid. “ Di dusun mu apa gak ada yang kayak gitu? Kalau tempatku banyak”

“jangan ngledek bid, yang ini lain. Aku biasanya biasa aja, tapi ini beda. Dia gak mau ku salami.”

“yo wajarlah, dia kan anak pak yai. Dia itu nilai-nilai agamanya kuat. Kan ada hadist shahih lebih baik kepala ditusuk besi panas dibandingkan bersentuhan dengan wanits yang bukan mahram.”

“mulai ceramah…. baru tau aku bid, kalau dia anak pak yai”

“diomongin malah dibilang ceramah. Males aku nanti ngomongin sampean.”

“ngambek-ngambek.. iyo- iyo terimakasih mas Abid.”

“biasa aja keleus…”

“iya, aku ajari lebih yo tentang agama, aku masih cetek ilmu agamaku.”

“siap boss.. mau dapeti anak yai harus pinter agama memang. Hehhee”

“ kampret sampean bid, ngejek aku terus dari tadi.”

“week…”

Akhirnya kami kejar-kejaran sampai ke pondoknya. Sesampai di pondok, maklum mulut ember, si Abid cerita ke dua kamar yaitu kamar ku. Dan kamarnya kak Huda. Akhirnya mereka mengejek aku semua. Aku pun tak kuasa, kalau aku larang si Abid aku malah salah tingkah. Semakin aku diolok-olokinya.

Tapi, berkat itu, kurasa penghuni dua kamar ini sangat akrab denganku, karena selain aku berinteraksi terus dengan mereka. Mereka juga orangnya enak. Kak Munir sebagai motivator, kak Huda sebagai konseptor yang cerdas, Jazulli yang religus, Anwar si Humoris, dan yang menjengkelkan Abid si Profokator, mulut ember yang suka bikin keributan. Oke kembali lagi,, setelah itu aku jadi bahan olokan bahkan dijuluki caman yai/ calon mantu pak yai. Hehehe…

Pada akhir bulan ramadhan tepatnya tanggal 02 juli 2016 atau bertepatan 26 Ramadhan 1437 kami libur selama dua minngu dan masuk kembali pada Senin 19 Juli 2016. Akhirnya aku pulang kerumah. Baru dua hari kurasa kangen dengan suasana pesantren. Suasana makan, mengaji, shalat berjamaah, dan kegiatan lain selama mondok yang secara bersama-sama terutama aku kangen baercandaan dengan rekan-rekan sekamar dan kamar sebelahku. Tapi, tiba- tiba terbesit dalam fikiranku dengan perjumpaanku dengan anak pak yai, Fitri. “akankah cintaku terbalaskan? Akankah jodohku yang telah Allah SWT tulis di lauhil mahfudz itu anak pak yai” gumamku dalam hati. Karena aku senang dengan menulis terutama membuat puisi. Maka kala itu kubuat puisi tentangnya.

Lamunanku ketika membuat puisi pun tersentak oleh suara ibuku. “ pagi-pagi jangan melamun lee. Bantuin ayahmu di belakang sana.” “nggeh buk,” jawabku. Lalu aku berangkat untuk membantu ayahku membenari kandang ayam yang sudah jelek dan akan rusak. Lebaran pun akhirnya tiba, gema takbir, tahlil, dan tahmid terus berkuamdang di masjid-masjid di jalan raya, dan berbagai tempat lainnya. Malam lebaran pun aku ikut teman-temanku untuk konvoi merayakan lebaran dengan petasan dan kembang api. Paginya, burung-burung berkicauan, angina sepoi-sepoi, fajar pun menampakkan sinarnya, seolah mereka juga senang menyambut datangnya hari kemenangan, setelah selesai shalat Idul Fitri lalu pulang kerumah srapan kemudian Dan ketika lebaran aku keliling kampong untuk meminta maaf  atas segala dosaku terutama kepada ayah ibu dan mbahku. Air mataku pun tak terasa menetes di pipiku. Aku merasa dosaku begitu banyaknya dengan mereka. Akupun merasa sedih karena saat mondok sering merindukan mereka, maka saat itu semuanya kuluapkan ketika aku memeluk dan mencium tangan dan pipi ayah dan ibuku seraya melakukan sungkem. 

READ  ENK

Lalu dua minggu pun aku lewati dengan cepat aku kembali ke pondok, walaupun terasa berat aku pun berangkat. Sesampai disana aku langsung halal bihalal ke rumah yai dan bermaafan dengan teman-teman. Ketika melihat Fitri di rumah yai, jantungku pun berdetak kencang lagi. Lebih kencang dari sebelumnya seperti akan copot. 

Sebulan kemudian, pesantren digemparkan akan adanya lomba-lomba yang akan diadakan menyambut PHBI atau Peringatan Hari Besar Islam yaitu Idul Adha juga hari lahirnya pondok pesantren kami. Semua rekan-rekan pun memilih bidang- bidang yang disukai dan dikuasainya. Ada yang ikut tilawah, kaligrafi, lomba pidato dan lainnya. Aku pun ikut lomba puisi. Puisi yang aku ikutkan adalah puisiku tentang anak pak yai Si Fitri. Singkat cerita puisiku mengan pertama lomba puisi dan yang menang disuruh unjuk gigi sesuai yang ia menangkan. Kak munir yang menang lomba pidato maka ia mewakili warga pesantren untuk sambutan, jazulli yang menang lomba tilawah maka disuruh membaca ayat suci alquran saat acara. Tak ketinggalan aku pun kena, disuruh membacakan puisi yang telah ku buat dan yang ku menangkan. Maka ketika itu kubacakanlah puisi untuknya judulnya suci. Isinya yaitu:

Diriku dipertemukan denganmu

Takdir dari Rabbi

Hijabmu begitu anggun diwajahmu

Kain suci menutup mahkotamu

Kita dipertemukan ketika membeli es

Seketika hatiku membeku

Mataku terpaku

Tak satu katapun terucap

Hanya memuji kehadirat Tuhan

Indahnya Kesempurnaan ciptaan

Dari yang memiliki keagungan

Aku mencintaimu secara suci

Semoga cinta kita layaknya Fatimah dan ali

Bahkan setan pun tak mengetahui

Maka tepuk tangan dari penonton pun bersorak sorai. Akupun senang mereka terhibur dengan penampilanku. Sesampainya di bawah panggung. Aku dicegat oleh Fitri dan temannya.

“sampean buat puisi itu untuk siapa?”

Aku gemetar akan menjawabnya, lalu ku jawab “Untuk sampean”

“Kalau sampean cinta saya. Tolong hafalkan al quran, untuk melamarku, juga kalau bisa hadist.”

“Lalu bagaimana dengan sampean?” tanyaku

“Aku akan belajar terus dan juga menghafal alquran dan hadist serta menunggu sampean datang melamarku”

“terima kasih, saya berjanji delapan tahun lagi insyaallah saya akan datang sudah hafal alquran dan hadist dan akan datang lagi kesini untuk melamar sampean.”

“baik mas, saya akan selalu menunggu sampean. Terimakasih sudah membuatkan puisi untukku, dan terimaksih sudah mengungkapkan perasaan sampean untukku.”

“saya juga berterima kasih sama sampean sudah mau menunggu saya.

Maka kala itu, aku gemetar dengan perkataannya seolah memeberi sinyal.

Lalu ku jawab iya. Setelah itu, aku semakin serius memperdalam isi alquaran, menghafal serta mengamalkannya dengan juga menghafal hadist-hadist rasulullah SAW. Delapan tahun yang begitu lama kami lalui lika-likunya dengan berbagai masalah. Aku lulus selama tiga tahun disitu. Setelah itu, pada Lima tahun kemudian aku lulus kuliah serta dapat hafal alquran. Maka kudatangi pak yai untuk melamar anaknya Fitri Khodijah. Untuk menunaikan janjiku padanya serta untuk menjemput jodohku. Alhamduliilah lamaranku diterima dan kami menikah. Alhamdulillah kami menjadi keluarga yang bahagia sakinah mawaddah warahmah. Kami dikaruniai 2 orang anak seorang laki-laki dan seorang perempuan bernama Abdurrahman dan siti Maryam.

__Terbit pada
31 Juli 2022
__Kategori
Cerpen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.