Surat

Tidak dapat disangka, waktu remajaku sekarang telah terkekang penuh di dalam penjara batin ini. Sejak awal aku tidak pernah menyadari betapa seorang ibuku sangat menginginkan diriku berada di sini, di dalam pesantren. Alasannya, ia tidak ingin anak sematawayangnya ini terjerumus dalam kumuhnya pergaulan zaman. Ia berpandangan hanya pesantrenlah tempat satu-satunya yang dapat menyelamatkan masa remajaku. Huh, sangat tidak logis menurutku. Namun apa boleh buat. Sejak dulu aku tidak pernah melawan semua perintah ibu. Ketika ibu sudah berpendapat, maka tanpa ba bi bu lagi aku harus menyetujuinya.

Sebenarnya bukan semua itu yang aku permasalahkan. Yang paling membuat batinku sangat tersiksa adalah semua itu terjadi setelah aku bertunangan dengan kekasihku. Betapa hancur dan remuknya hatiku saat ini. Saat benih-benih cinta telah tumbuh merambati seluruh ruang hati. Tiba-tiba tumbuhan itu dibasmi secara paksa dengan memisahkannya dari guyuran asmara yang setiap saat menyiraminya. Ah, mungkin memang inilah jalanku.

Tekadku, saat aku sedang dalam rindu akan guyuran asmara itu. Aku akan menulis surat menggunakan gel ink pen dan notebook saja sudah dapat berkreasi, ditambah goresan dari brush pen warna warni menjadikannya lebih berwarna yang barusan dibeli di panmomo. Aku tulis surat itu kepada Vhilla Fitria, tunanganku itu. Untuk sedikit menjaga tumbuhan cinta yang masih tetap tumbuh di dalam hati. Maka, sekarang inilah saatnya. Saat aku sedang menghadapi kehidupan baruku di pesantren ini. Mulailah aku menggoreskan tinta di atas secarik kertas putih yang akan menampung semua keluh kerinduanku pada dirinya.

{Surat Pertama}

Selasa, 18 Juni 2019

To: Vhilla Fitria, Calon Istriku

     Pagi ini kumulai menggores tinta pada secarik kertas putih yang sedang melambai.

kuhaturkan semua apa yang ada dalam hati ini. Demi hanya mengucap kata pisah dari 

jiwa yang sengsara.

Vhilla…. setiap percintaan memiliki cobaan masing-masing. Dan perpisahan ini adalah 

cobaan untuk cinta kita. Karena itu, aku menghatur kata padamu. Tolong tetaplah

bersabar menungguku selama aku masih berada di perantauan surga. Ingatlah selalu!

Di balik pahitnya kesabaran pasti ada manisnya hasil perjuangan. Perjuangan kita 

dalam jauhnya jarak pemisah, akan tetap terbayarkan dengan manisnya kebersamaan 

READ  Meniru Anime

di hari esok.

     Mungkin hanya ini yang bisa kuberikan padamu, sepucuk surat perpisahan dari 

orang yang mungkin kau sayang.

Mungkin benar apa yang telah ayah katakan dulu padaku, “Manisnya madu itu hanya bisa dirasakan setelah berjuang membangun sarang dan memungut sari bunga.”

Memang diriku sangat mencintai sosok Vhilla. Namun apa salahnya bila aku butuh sedikit perjuangan dalam menjaga cintanya. Tumbuhan cinta itu suatu saat akan mengembang dengan indah, seiring dengan lamanya cinta itu tumbuh dalam hati.

{Surat Kedua}

Kamis, 8 Agustus 2019

To: Vhilla Fitria, Sang Pemilik Hati

     “Pahit getirnya kerinduan adalah puncak dari kuatnya rasa cinta dan kasih sayang”

Vhilla… menanti adalah sesuatu yang sangat terasa berat bila itu terjadi pada sepasang

kekasih. Menanti walau sesaat akan terasa lama. Begitupula sebaliknya. Namun, 

percayalah! Itu hanyalah lika-liku perasaan hati yang sedang diterpa kerinduan. 

Mungkin benar kata pepatah, “Jauh di mata, dekat di hati,” inilah yang kita rasakan

saat ini.

Vhilla… keraguan adalah penyakit yang paling cepat dalam meremukkan rasa kasih 

sayang. Mungkin terkadang kau ragu dengan perasaanmu padaku, atau mungkin kau

ragu dengan ketulusan cintaku padamu, atau kau ragu dengan keberlangsungan cinta 

kita. Tapi kuharap kau tak pernah meragukan itu semua. Tentang cintaku, sayangku dan

ketulusan hatiku, kau tak perlu menanyakannya. Cukup hati kita yang menjadi saksi 

bahwa itu semua nyata dan benar adanya.

Sudah tiga bulan ini aku meninggalkannya jauh di sini. Buncahan kerinduan semakin bertubi-tubi mendongkrak semangatku untuk selalu menggoreskan kata “Rindu”. Hanya sekadar meluapkan isi hati yang semakin lama tak mampu untuk menampung lebatnya pertumbuhan cinta di dalamnya. Oh, Vhilla! Apakah kau merasakan apa yang aku rasakan? Hatiku meronta tak kuasa membendung asmara.

{Surat Ketiga}

Kamis, 26 September 2019

To: Vhilla Fitria, Sang Pengobat Hati

     “Salam indah dari belahan jiwa di alam rantau”

Vhilla… apakah kau sudah bosan menungguku?   Semoga tidak.

Di sini aku berharap semoga kau masih diberi kekuatan untuk tetap bersabar menantiku.

Vhilla… pernahkah kau mendengar cerita angin yang berkata tentang ketidaksetiaanku 

READ  Restu Ortu

selama aku di sini?   Semoga tidak.

Tentang kesetiaanku padamu aku selalu berharap semoga kau tak meragukannya.

Namun, bila seandainya suatu saat kau meragukan cintaku. Ingatlah! Hanya dikau yang

bisa merasakan besarnya rasa cintaku padamu, dan hanya padamulah masadepanku 

terarah.

Tak pernah sanggup aku untuk sedikit membusungkan dada di depan kepongahan rasa rindu yang setiap saat menertawaiku. Dasar lemah!

Hatiku memang semakin lemah setiap saat. Dari saking lemahnya hatiku, sampai rasa nyaman di seluruh badan terlahap habis ke dalam kobaran bara rindu. Tak ada kekuatan. Juga pikiran yang sangat terbebani takdir pahit yang dikirim sepoian angin. Seakan menambah pudarnya kesemangatan hidup.

Itu terjadi setelah kedatangan ibuku ke pesantren ini yang seakan tanpa terlebih dahulu mengabariku. Saat aku menjumpai ibu di balai tamu pesantren, kudapati wajah ibu sedang mengguratkan kesedihan. Namun ia tetap memaksakan senyumnya yang tak mampu menutupi keadaan hatinya.

“Kenapa Ibu datang tanpa memberi kabar dulu?” tanyaku pada ibu spontan setelah aku mencium tangannya dan duduk bersimpuh di hadapannya.

“Ibu hanya ingin menyampaikan sedikit kabar yang mungkin sangat memberatkan hatimu,” jawab ibu sambil sedikit menatap iba ke arahku. Dahiku sedikit berkerut mendengar jawaban ibu.

“Kabar? Kabar apa, Bu?” tanyaku lagi sedikit menggali penjelasan ibu.

“Vhilla… anu… dia….”

“Kenapa dengan Vhilla, Bu? Ada apa? Apa yang terjadi padanya?”

Bayanganku mengejar apa yang akan keluar dari lisan ibu. Bayangan tentang Vhilla yang akan membuat kegusaran atau bahkan kenestapaan pada hidupku. Oh, Tuhan, apa yang terjadi pada Vhilla?

“Dia…” Ibu menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca dan perlahan meneteskan sebutir embun yang pecah membentur lantai.

“Ibu…!” aku merengek. Wajahku mulai meringis hendak menerima jawaban pahit dari lisan ibu.

“Kemarin ia mengalami kecelakaan dan…” suaranya terhenti sekejap, lalu, “nyawanya tak terselamatkan.”

Seketika tangis kami pecah secara bersamaan. Oh, Tuhan, cobaan apalagi ini. Setelah kau menyekat jarak antara aku dan dia di sini, dengan lebatnya tumbuhan asmara yang menyesak dalam dada. Sekarang kau membakarnya dengan api sengsara. Dengan sangat memaksa. Hingga api itu mengamuk, memporak-porandakan semua isi hati. Membuat raga yang melindunginya juga harus merasakan perihnya hati yang telah hangus terbakar bara asmara yang redup seketika.

READ  Lembar Lusuh

Kini, hati itu telah mati. Tak berfungsi lagi sebagai penampung segala perasaan. Hati ini telah menghitam, kelam.

***

Setelah kabar tentang kepergian Vhilla itu, setiap hari aku hanya bisa termenung. Hingga aku jatuh sakit dan harus dibawa ke Rumah Sakit. Tidak ada yang mengetahui tentang penyakitku. Bahkan pada seorang Dokter. Hanya bisa geleng kepala mendapati penyakit yang menginap di dalam tubuhku, atau lebih tepatnya hatiku. Mungkin hanya aku yang mengetahuinya. Karena aku yang merasakannya. Namun aku hanya bisa terdiam. Tak ada yang bisa kuperbuat selain meratapi pahitnya kehidupan, setelah kehilangan gelora cinta. Namun, seperti biasa. Apabila rindu itu datang mendera. Hanya goresan tinta yang mampu mengobatinya.

{Surat Terakhir}

Sabtu, 16 November 2019

To: Vhilla Fitria, Di Alam Sana

     “Salam sejahtera dari hati yang hangus terbakar api asmara”

     Adanya pertemuan itu memastikan terjadinya perpisahan. Percayalah!

Vhilla… bila suatu saat kita ditakdirkan berjumpa kembali. Maka di depan mata kita 

akan ada kata perpisahan yang selalu membayang. Tapi memang itulah kepastiannya.

Vhilla… memang tidak ada cinta yang kekal abadi. Tapi cinta kita tidak seperti cinta 

yang lain. Cinta kita adalah cinta yang tumbuh dari dasar saling mengerti. Hingga pahit 

getirnya sebuah perpisahan telah kita lalui bersama. Kesetiaan kita, kesabaran kita dan

ketulusan cinta kita akan segera terbayarkan dengan kebersamaan di depan mata.

Vhilla… dulu aku pernah berjanji padamu. Bila kau merasa kesepian, maka percayalah!

Jiwaku akan selalu menyertaimu di manapun kau berada. Sekarang, aku ingin 

memenuhi janjiku itu. Kebersamaan kita akan terwujudkan beberapa saat ke depan. 

Tunggulah aku! Aku akan menjemputmu.

Hingga berakhirnya tinta itu menggores, diriku sudah benar-benar ada bersamanya. Kebersamaan itu telah terwujudkan. Di sana. Di atas ragaku sedang tertumpu secarik kertas putih yang telah tergores tinta itu. Ragaku mendekapnya di atas dadaku. Bersanding dengan deraian air mata yang sudah tak lagi bisa menetes.[]

__Terbit pada
26 Januari 2022
__Kategori
Cerpen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.