Ukhti, Uhibbuki!

Sampai saat ini aku masih tidak setuju jika harus menikah dengan lelaki seperti dia. Bagaimana mungkin kami akan bisa menyatukan langkah dan bekerja sama untuk melestarikan rumah tangga, sementara gaya hidup dan riwayat pendidikan kami sangat jauh berbeda. Dia adalah alumni pesantren salaf, sedangkan aku sedang mengejar gelar sarjana di universitas terkemuka di kota ini.

Sebenarnya pertunangan kami sudah ditempuh hampir satu tahun. Tepatnya saat aku sedang menggarap skripsi. Aku memang mengakui ketampanan dan kecerdasannya. Wajahnya yang berwibawa sangat pas berpadu dengan alis yang tebal dan kulitnya yang cerah. Akan tetapi, ketampanan dan kecerdasan sama sekali tidak menjamin kebahagiaan sebuah rumah tangga, jika si laki-laki tidak bisa menghargai wanita.

Aku mulai menemukan lagak aneh dari dirinya pada bulan Ramadan beberapa waktu yang lalu. Keluarganya diundang ke rumahku untuk sekadar buka puasa bersama. Dia semacam bersikap sok religius—jika tidak mau dikatakan sok suci. Saat itulah aku semakin meragukan keseriusannya menjalin hubungan pertunangan denganku.

“Nak Fatih duduk di sini saja.” Pinta mama kepada Fatih, agar duduk di kursi di sebelahku. Mama sampai rela berdiri dan ingin pindah ke kursi kosong di sebelah papa, tetapi jawaban Fatih membuat mama tampak menyembunyikan raut wajah kecewa.

“Maaf Tante, saya duduk di sebelah Om Ifan saja.”

Saat sama-sama melahap makanan yang tergelar di meja makan dalam acara itu, aku dapat dengan leluasa melihat wajahnya. Hampir setiap selesai memasukkan suapan, aku meliriknya, untuk memastikan apakah diam-diam ia juga curi-curi pandang terhadapku. Namun, tak sekalipun ia hendak melirikku barang separuh detik saja. Ia lebih memilih menyantap makanannya sambil lalu menjawab pertanyaan-pertanyaan papa seputar pesantrennya. Aku dibuatnya bête bukan main.

“Huft, masih belum nikah saja cueknya minta ampun. Bagaimana nanti kalau sudah nikah.” Celetukku dalam hati. Setelah mereka pulang selepas salat Magrib berjamaah, mama sempat mengajukan pendapat pada papa agar kembali mempertimbangkan perjodohanku dengan Fatih. Aku yang mendorong mama untuk mengajukan protes itu pada papa setelah aku melihat bahwa sepertinya mama tidak terlalu suka pada sikap Fatih yang dingin. Akan tetapi, papa justru menjawabnya dengan suara setengah tinggi.

“Bagaimanapun, Papa tidak akan membatalkan perjodohan ini. Putrimu itu tidak akan menemukan lelaki yang lebih baik daripada dia. Percayalah sama Papa!”

Entah apa yang merasuki papa sehingga ia begitu yakin untuk mempertunangkanku dengan lelaki semacan dia, yang sama sekali tidak menghargaiku sebagai calon istrinya.

Tentang perjodohanku dengan Fatih, adalah murni ide papa. Katanya, ayah Fatih adalah teman baik papa dalam suatu majelis pengajian yang sering dihadiri papa.

READ  Pesantren Melahirkanku Kembali

***

”Waw, calon suamimu keren banget, Fi.” puji Wati, teman kampusku setengah histeris. Pagi itu kami sedang stalking akun facebook milik Fatih di kantin kampus.

“Keren dari Hongkong.” Sanggahku.

“Serius, Fi. Kamu beruntung banget dapat cowok saleh seperti dia. Seandainya dia mau sama aku nih, Fi, aku akan mandi kembang tujuh rupa yang dicampur dengan air tujuh sumur, setelah dituangi susu dari tujuh sapi.”

“Kamu lebay banget sih.” Aku menatap Wati geli.

Setelah bosan stalking di FB, kami berpindah stalking ke akun instagram-nya. Konten postingannya tidak jauh beda. Rata-rata mengekspos kegiatannya yang berbau keagamaan.  Sesekali ada postingan tentang hadis atau kalam hikmah beserta penjelasannya. Aku yakin ia memiliki pengetahuan agama yang mendalam. Namun, meskipun begitu, sungguh tak sedikit pun mampu mengundang rasa simpati di hatiku. Apalah guna ia memiliki pengetahuan agama yang banyak, jika ia tidak bisa menghargaiku sebagai calon istrinya.

***

Pada waktu keluarga Fatih datang ke rumah untuk melamarku, aku sempat merasakan kebahagiaan yang luar biasa.  Tampak sekilas di mataku, Fatih adalah lelaki yang tampan dan bersahaja. Kesan pertamaku adalah dia lelaki yang ramah dan akan memperlakukanku dengan baik. Aku sempat berpikir bisa pamer calon suami jika Fatih menjemputku pulang dari kampus.

Sebagai calon istrinya, tentu aku berhak untuk mendapat perhatian lebih dari dia. Aku juga ingin dipanggil sayang, ingin ditanyakan sudah makan apa belum, ingin dibuatkan kado spesial saat hari valentine atau hari ulang tahun, ingin diajak jalan-jalan ke tempat wisata alam di kota Padang dan makan berdua, ingin seperti teman-temanku yang diperlakukan istimewa oleh tunangan mereka. Namun kenyataannya, begitu sesak jika dibayangkan. Jangankan diajak ke wisata pantai kota Padang, menanyakan kabar lewat media sosial saja dia emoh. Padahal sudah lama aku mengikuti akun IG-nya. Padahal aku telah mengirim pertemanan ke akun Fb-nya—tetapi sampai saat ini belum ia konfirmasi. Padahal aku sempat mengirimi pesan singkat ke nomor WhatsApp-nya—tetapi jawabannya justru membuatku menelan kecutnya kekecewaan.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikum salam. Siapa?”

“Saya Mas, tunanganmu.”

“Oh, ini nomor kamu?”

“iya, di-save ya?”

Itulah percakapan pertama dan terakhir kami. Hingga detik ini, ia tidak pernah nge-chat aku meskipun untuk sekadar basa-basi mengucapkan selamat pagi. Sungguh, aku tersiksa dengan sikapnya yang dingin, sepertinya aku ini bukan siapa-siapa, seperti bukan tunangannya, seperti tidak ada apa-apa.

READ  Meniru Anime

“Fatih, aku ini tunanganmu, calon istrimu. Tolong hargai aku, tolong mengerti aku. Aku juga ingin seperti mereka yang sangat bahagia dengan tunangannya.” Aku sempat menulis pesan seperti itu untuk kemudian aku kirim ke Wa-nya, tetapi aku hapus lagi karena mengingat diriku juga punya harga diri. Aku bukan perempuan tidak laku yang harus mengemis perhatian dari laki-laki semacam dia.

***

Akad nikah itu telah tiba. Fatih dapat dengan lancar mengucapkan kalimat akad nikah berbahasa Arab di depan penghulu dan segenap anggota keluarga. Semua hadirin tampak bersuka-cita setelah beberapa saksi menyatakan akad nikah telah sah, bahkan papa dan ayah Fatih terlihat berpelukan erat. Barangkali sebagai rasa syukur karena mereka sudah resmi menjadi besan.

Lalu, bagaimana dengan keadaanku? Sungguh, kata qobiltu yang diucapkan Fatih terasa mencabik-cabik segumpal daging di balik dadaku. Aku bagaikan digelandang menuju sangkar yang bernama pernikahan. Duh, malang nian nasibku ini.

Setelah seremonial akad nikah yang membosankan itu selesai, papa menyuruhku masuk ke kamar.

“Kamu harus istirahat, Sayang. Besok kamu mesti menyambut tamu dengan baik dan fit.” Ucap papa dengan senyum bahagia yang tak lekang, lalu meninggalkanku sendiri di dalam kamar. Ya, esok hari, aku akan bersanding di pelaminan dengan Fatih.

Aku hempaskan tubuhku tanpa semangat ke atas tempat tidur. Aku memeluk erat boneka pokemon kesayanganku. Barangkali hanya dia yang mau mengerti perihal nelangsa yang sedang mengangkangi hatiku.

“Klek …” aku mendengar gagang pintu ada yang membukanya. Aku tetap menenggelamkan wajahku ke tubuh boneka pokemon yang halus. Mungkin itu mama yang membawa semacam lulur agar dioleskan ke sekujur tubuhku. Katanya, lulur yang dibeli mahal itu dapat melembutkan kulit dan menghilangkan bau badan. Semua ini adalah titah papa, sang penguasa keluarga.
“Assalamualaikum.”

Aku bergegas bangkit ketika ternyata suara lelaki yang aku dengar. Suara seseorang yang tidak aku kenal.

Fatih? Ternyata lelaki itu yang datang. Ia kemudian mengunci kamar dari dalam. Kini, hanya ada aku dan dia di dalam kamarku ini. Ia menyunggingkan senyum untukku. Senyum pertama yang ia berikan kepadaku.

“Assalamualaikum, Ukhti.”

“Wa … waa, aalaikum salam.”

“Tidak perlu takut dan panik seperti itu. Saya sudah resmi menjadi suamimu. Jadi, kita sudah halal berdua di mana saja dan kapan saja, termasuk di kamar yang cantik ini, secantik pemiliknya.” Kata Fatih sambil duduk di tepi tempat tidur, tidak sampai tiga jengkal dari posisiku. Ia memang sangat cantik, jari jarinya manis dengan paduan Nail Art Jogja. Mata binarnya terpadu dengan Eyelash Jogja.

READ  Kita Sedang Menulis Cerpen!

Dag dig dug. Entah, tiba-tiba irama jantungku berdegub cukup kencang. Terlebih ketika mencium aroma parfum Fatih yang segar.

“Ukhti, kok diam saja?”

“Namaku Fifi, bukan ukhti.” Jawabku, dengan sikap yang barangkali lumayan judes.

“Maaf, saya panggil kamu ukhti, karena dari dulu saya tidak tahu namamu.”

“Eh, jadi selama kita tunangan, kamu tidak tahu namaku? Kamu serius nggak sih tunangan sama aku?” Ucapku dengan nada sinis. Menurutku, terlalu parah jika ada seseorang tidak tahu nama tunangannya.

“Maaf, memang sengaja saya tidak mencari tahu namamu dari siapa pun, karena saya ingin berkenalan langsung denganmu. Biar mesra seperti muda-mudi yang pacaran, tapi saya ingin memacarimu setelah akad nikah.”

“Mesra? Jadi kamu juga tahu yang namanya mesra?”

“Haha, ya iyalah, Ukhti. Meski saya alumni pesantren, saya juga tahu caranya bermesraan, karena Rasulullah mencontohkan cara mesra yang benar dengan istri-istri beliau.”

Kemudian, tak secuil pun kata yang terucap, hanya suara AC yang terdengar samar-samar.

“Ukhti, aku tahu kok, kenapa malam ini kamu sangat cuek kepadaku. Mungkin kamu mau balas dendam atas kecuekanku selama ini. Tetapi perlu kamu ketahui, bahwa saya adalah seorang santri. Saya sudah belajar bagaimana batasan-batasan antara laki-laki dan perempuan. Ketika bertunangan, kita masih belum siapa-siapa. Kita tidak boleh pandang-pandangan, apa lagi main sentuh-sentuhan. Jadi, tolonglah dimengerti. Jika selama ini saya terlihat cuek, itu bukan karena saya tidak peduli. Kepedulian tidak selamanya harus ditampakkan dan diumbar. Andai kamu tahu, Ukhti, bahwa setiap malam saya selalu mendoakan agar kebaikan selalu menyertaimu. Agar kelak kamu bisa diajak dan menjadi penyemangat dalam setiap perjuanganku untuk menegakkan agama. Agar menjadi teman yang baik dalam setiap proses menuju surga-Nya.”

Setelah Mendengar penjelasannya kali ini, tiba-tiba aku merasa berani menatap matanya terang-terangan. Aku menemukan ketulusan yang nyata di tatap matanya. Butir-butir simpati kepadanya sepertinya mulai mekar di hatiku. Kami saling berselayang pandang cukup lama. Ia merekahkan senyum, tiba-tiba bibirku menyunggingkan senyum balasan, tanpa aku sadari mengapa.

“Ukhti.” Ucapnya lirih, sambil mendekatkan jarak di antara kita, sehingga ujung sarungnya menyentuh jari-jari kakiku yang dingin. Ia lantas memegang kedua pundakku, sambil matanya menepat wajahku lekat-lekat. Membuat irama jantungku berdetak semakin cepat.

“Ii … iiy, iya.”

“Uhibbuki, Ukhti.”

“Maksudnya?”

“Aku mencintaimu.”

“Uhibbuki juga.”

“Kalau ke cowok bukan uhibbuki, tapi uhibbuka.”

“Ups, maaf.”

__Terbit pada
10 Mei 2022
__Kategori
Cerpen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.